23 Apr 2014 | 09:34 WIB
Share fb tw g+ wa tl

Bank Sampah Resik Bechik Gagas Pembuatan Lubang Biopori

Koordinator Bank Sampah Membuat Lubang Biopori, Selasa kemarin. (Foto : DWI/Tajuk) Koordinator Bank Sampah Membuat Lubang Biopori, Selasa kemarin. (Foto : DWI/Tajuk)

Tajuk.co, SEMARANG – Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Semarang mencatat jumlah sampah di Kota Semarang mencapai  800 hingga 1000 kubik perhari pada akhir 2013. Kemudian setiap harinya Kota Semarang menghasilkan sampah 800 ton/hari, padahal yang terangkut ke TPA hanya sekitar 750 ton/hari dengan jumah sumber daya angkut yang ada. Sehingga masih ada sisa sampah yang tidak terangkut.

Problematika ini sudah seharusnya menjadi perhatian bersama masyarakat agar juga ikut mengelola sampah. Salah satu peserta Cluster Handycraft Semarang Great Sale (Semargres), Ika Yudha mengatakan, harus ada yang memulai menumbuhkan pengelolaan sampah. “Karena memang sampah yang menjadi permasalahan kota Semarang sejak dulu,” katanya dalam rilis yang diterima Tajuk.co, Rabu (23/4/2014).

Melalui Bank Sampah Resik bechik yang digagasnya 2 tahun lalu, Ika memulai memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang solusi manajemen sampah rumah tangga. Penyuluhan penyadaran pengelolaan sampah memang sudah dirintisnya sejak dibangku kuliah, 15 tahun lalu. Namun, konsentrasi penuh baru dilakukannya 5 tahun terakhir.

Dimulai dari masyarakat sekitar, melalui pertemuan PKK dan penyuluhan langsung, Ika Yudha menjelaskan pembuatan lubang biopori juga harus digalakkan disetiap rumah tangga. Kemudian ada tempat penampungan sampah plastic seperti Bank Sampahnya.

Lubang biopori yang berupa lubang silindris yang dibuat kedlam tanah dengan diameter 10 cm diperuntukkan untuk sampah organic seperti, sisa makanan, sayuran yang mudah busuk.” Sehingga tanah disekitarnya lebih gembur kemudian ini dapat meningkatkan peresapan air hujan. Bumi lebih sehat, sampah rumah tangga yang diangkut ke TPA berkurang,” papar Ika Yudha. (DWI)


BERITA TERKAIT