31 Jul 2015 | 15:49 WIB
Share fb tw g+ wa tl

Dieng Culture Festival Semarakkan Wisata Budaya Banjarnegara

Festival Dieng Banjarnegara (Foto: @Update_BARA) Festival Dieng Banjarnegara (Foto: @Update_BARA)

Tajuk.co, BANJARNEGARA – Di akhir bulan Juli, tepatnya hari ini, Jumat 31 Juli hingga 2 Agustus 2015 pekan ini, sebuah persembahan wisata budaya kembali digelar di Jawa Tengah. Adalah festival seni budaya di dataran tinggi Dieng, Magelang, Dieng Culture Festival (DCF) akan digelar pada 31 Juli sampai 2 Agustus 2015.

DCF digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.  Dalam penyelenggaraannya, Pokdarwis didukung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta berbagai sponsor pendukung.

Pada tahun ini, DCF mengambil tajuk Culture for Harmony, dimana pada hari pertama, pengunjung akan diajak untuk menikmati panggung musik jazz lewat Jazz Atas Awan. AbsurdNation, Batavicada, HajarBleh, The Lounge, Cadenza dan Jammers Instrumental akan menjadi penampil Jazz Atas Awan tahun ini.

Kemudian, panggung yang akan berdiri di atas kompleks Candi Arjuna ini tidak hanya akan menghibur para pengunjung, tetapi juga bagi penduduk sekitar. Jagung bakar dan minuman khas Dieng, Purwaceng.

Pada hari kedua, dimulai dengan ekspedisi Gunung Pangonan. Di sana, peserta diajak untuk menikmati indahnya pemandangan matahari terbit. Satu agenda lain selama ekspedisi ini adalah penanaman pohon. Acara utama pada hari kedua adalah Festival Lampion. Ribuan lampion akan dilepaskan di kompleks Candi Arjuna dengan selingan tembakan kembang api. Para pengunjung yang memiliki tiket DCF juga mendapat kesempatan untuk menerangkan lampion yang disediakan panitia.

Hari kedua juga diisi dengan pertunjukan seni dan pemutaran film. Sebelum Sabtu berakhir, pengunjung akan dihibur dengan pertunjukan wayang di timur kompleks Candi Arjuna.

Selanjutnya, hari ketiga akan menjadi puncak acara DCF. Agendanya, apalagi kalau bukan Ritual Cukur Rambut Gembel. Pemotongan rambut anak-anak berambut gembel ini memerlukan ritual khusus karena anak berambut gembel dianggap sebagai titisan dewa. Apabila rambut gembel itu dipotong sembarangan, dipercaya bahwa rambut gembelnya akan tumbuh lagi.

Prosesi cukur rambut ini hanya bisa dilakukan atas permintaan anak, dan apapun permintaan sang anak harus dipenuhi oleh orang tua atau walinya. Diawali dengan prosesi pembacaan doa, barulah rambut anak gembel dipotong oleh tetua adatatau tokoh masyarakat.

Rambut yang sudah dipotong kemudian akan dibacakan doa sebelum akhirnya dilarung atau dibuang. Prosesi pelarungan rambut ini juga sekaligus menjadi penutup acara DCF yang sebelumnya telah digelar sebanyak lima kali. (DWI)


BERITA TERKAIT