31 Dec 2017 | 16:50 WIB
Share fb tw g+ wa tl

Dua Pengunjuk Rasa Antipemerintah Tewas di Iran

Aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga-harga di Iran. Foto: anadolu Aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga-harga di Iran. Foto: anadolu

Tajuk.co TEHERAN – Setidaknya dua orang tewas dalam aksi unjuk rasa menentang pemerintah di Dorud, sebelah barat Iran. Kantor berita The Mehr melaporkan belum ada penjelasan resmi mengenai sebab tewasnya dua pengunjuk rasa dalam aksi yang dilakukan Sabtu (30/12) itu.

Wakil Gubernur Provinsi Lorestan, Habibollah Khojastepour, mengatakan kehadiran provokator telah menyebabkan aksi unjuk rasa yang semuala damai menjadi ricuh. Akibatnya, sebagaimana dilaporkan Mehr, baik polisi maupun pasukan keamanan menembaki para pemrotes.

Namun Khojastepour belum dapat menjelaskan penyebab kematian dua peserta aksi itu karena tembakan atau bukan.

Berita tentang kematian tersebut terjadi saat Menteri Dalam Negeri Iran, Abdolrahman Rahmani Fazli memperingatkan demonstran terhadap perilaku yang mengganggu. "Mereka yang merusak properti publik, mengganggu ketertiban dan melanggar hukum harus bertanggung jawab atas perilaku mereka dan membayar harganya," kata Abdolrahman Rahmani Fazli di televisi pemerintah pada hari Minggu.  

Warga Iran mulai melakukan demonstrasi pada hari Kamis di kota kedua Masshad, yang menentang harga tinggi. Aksi demonstrasi tersebut sejak saat itu mendapat momentum, menyebar ke kota-kota lain, dan digambarkan sebagai yang terbesar dalam hampir satu dekade. Sabtu menandai hari ketiga demonstrasi anti-pemerintah di Iran, saat mahasiswa dan polisi bentrok di Teheran.

Video yang diposting di twitter oleh Pusat Hak Asasi Manusia yang berpusat di New York memperlihatkan polisi dengan peralatan anti huru hara bentrok dengan para pemrotes di luar gerbang menuju Universitas Teheran. Video kedua menunjukkan jalan yang diselimuti asap, yang konon dari gas air mata, di daerah yang sama.

Kantor Fars melaporkan adanya konfrontasi antara polisi dan pemrotes di Universitas Teheran. Sementara itu, puluhan ribu orang di seluruh Iran menghadiri demonstrasi pro-pemerintah yang direncanakan sebelumnya pada hari Sabtu untuk menandai berakhirnya kerusuhan setelah pemilihan 2009 di negara tersebut.

Rekaman film TV ditayangkan menunjukkan orang-orang di beberapa kota melambaikan bendera dan membawa spanduk bertuliskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Demonstrasi besar, yang diselenggarakan beberapa minggu yang lalu, diadakan setiap tahun.

Potkin Azarmehr, seorang blogger yang berfokus pada perjuangan pro-demokrasi sekuler di Iran mengatakan kepada Al Jazeera, beberapa kelompok masyarakat di Iran telah melakukan demonstrasi untuk beberapa lama.  "Dan sekarang slogan mereka menjadi lebih radikal. Mereka tampaknya tidak lagi takut terhadap pasukan keamanan," katanya.

Mahan Abedin, seorang analis Iran di Middle East Eye mengatakan, demonstrasi tersebut mencerminkan kesenjangan antara orang-orang Iran biasa dan elite politik. Protes tersebut tampaknya diartikulasikan oleh orang-orang yang seolah-olah memiliki motif ekonomi semata.

"Saya pikir sesuai dengan budaya lama, mau tidak mau protes ini menjadi politis. "(Presiden Hassan) Rouhani memiliki sikap yang benar namun pemerintahannya hanya membuat segelintir orang senang. Ini adalah pemerintahan yang sangat elitis, mereka adalah elit birokrasi, elit teknokratik.  Mereka sangat jauh dari keluhan orang biasa," ujar dia.

Aktivis media sosial telah meminta demonstrasi hari keempat pada hari Minggu ini. Sementara itu, AS dengan cepat menanggapi perkembangan dan  memperingatkan Teheran agar tidak menangkap pemrotes yang melakukan aksi damai. Presiden AS Donald Trump telah memposting serangkaian tweet. Salah satunya berbunyi: "Rezim yang opresif tidak dapat bertahan selamanya. Dunia menyaksikan!"

Menanggapi Trump, Bahram Qassemi, juru bicara kementerian luar negeri Iran, menyebut peringatan presiden AS  sebagai murahan, tidak berharga,  dan tidak valid. "Orang Iran tidakmerasakan ada nilai dalam klaim oportunistik dari pejabat AS dan Mr. Trump," tandas Qassemi. (HAS)


BERITA TERKAIT