27 Jul 2017 | 08:23 WIB
Share fb tw g+ wa tl

Jateng Butuh Wawasan dan Strategi Pembangunan Baru

Tajuk.co, SEMARANG -- Jawa Tengah membutuhkan wawasan dan strategi pembangunan baru yang berjangkauan luas dan berorientasi jangka panjang, dilaksanakan dengan melibatkan seluas mungkin masyarakat, menjauhi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Ilahiyah.

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said menyampaikan hal itu dalam sambutan tertulis yang disampaikan pada acara istighosah kubro Forum Ulama Kabah dan Silaturahim Ulama-Umaro Menyongsong Gubernur Jawa Tengah yang Pro Umat, Rabu (26/7) di Semarang, Jateng.

Sudirman menilai, Jateng memiliki potensi yang besar untuk maju dan sejajar dengan provinsi tetangga, Jawa Timur dan Jawa Barat, juga DKI Jakarta. "Jawa Tengah diperhitungkan sebagai wilayah investasi nomor dua paling menarik di Indonesia setelah DKI Jakarta,” kata Sudirman pada acara yang digelar DPW PPP Jateng itu.

Lebih lanjut dalam acara, yang dihadiri Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jan Faridz, Ketua DPW PPP Jateng Ahmad Wafi Maimun Zubair itu, Sudirman menegaskan Jateng berhak atas keadaan yang lebih baik. Dengan semua potensi yang dimiliki, Jawa Tengah seharusnya dapat meraih capaian yang tinggi dari apa yang kini dicapai. Angka ekonomi, belum cukup menggembirakan.

Sudirman memaparkan, pertumbuhan ekonomi Jateng cenderung datar. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jateng paling kecil dibanding Jatim dan Jabar. Jika dibanding DKI Jakarta, luas Jawa Tengah lima kali lipat dari Jakarta, jumlah penduduknya tiga kali lipat, tetapi APBD-nya sepertiga DKI Jakarta.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jabar dan Jatim meninggalkan Jateng. Dibandingkan dengan indeks nasional pun Jateng masih tertinggal. Jateng tumbuh dari 66.08 di tahun 2010, menjadi 69.98 di 2016, sedangkan IPM Nasional mengalami peningkatan dari 66.53 menjadi 70.18 pada periode yang sama.

Satu aspek yang perlu diperhatikan, imbuh Sudirman, adalah angka partisipasi pendidikan. Hanya 20,57% masyarakat Jawa Tengah yang masuk universitas, di bawah angka nasional yaitu 22,95%.

“Jawa Tengah adalah kesempatan besar. Kesempatan untuk tumbuh, berkembang menjadi provinsi yang membawa kemajuan, keadilan, harkat dan martabat bagi warga, serta membawa rasa bangga pada warga. Ketertinggalan adalah kesempatan untuk berlari mengejarnya,” urai Sudirman.

Namun semua itu, kata Sudirman, hanya dapat dilakukan apabila Jateng digerakkan oleh pemimpin yang jujur, berani dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk membangun daerah sesuai dengan harapan rakyat. Semboyan ora ngapusi, ora korupsi, sudah waktunya dilaksanakan dengan tindakan dan perbuatan nyata – wujud kongkret dari satunya kata dan perbuatan.

Menurut Ketua Tim Sinkronisasi Program Anies-Sandi ini, Kepala Daerah sebagai pimpinan tertinggi harus mampu menjadi teladan, satunya kata dan perbuatan, menunjukkan sikap tulus bekerja untuk rakyatnya, mampu menunjukkan perilaku “sudah selesai dengan diri sendiri”, tentu akan menciptakan suatu suasana yang kondusif.

Menteri ESDM periode 2014-2016 ini mengungkapkan, seorang tokoh senior asal Jateng pernah menasihatinya: “Masyarakat Jawa Tengah itu sopan, toleran, dan cenderung hormat pada para pemimpinnya. Karena itu salah satu kunci memimpin Jawa Tengah sebenarnya relatif mudah: tunjukkan arah dan perilaku yang benar, maka rakyat bergerak bersama pemimpinnya”. (FHR)


BERITA TERKAIT