31 Dec 2014 | 13:19 WIB
Share fb tw g+ wa tl

Jumlah Kematian Ibu dan Bayi di Sumut Menurun Tahun 2014

Istri Gubsu Sutias Handayani saat meninjau Puskesmas yang menyediakan fasilitas rawat inap untuk persalinan di Deliserdang beberapa waktu lalu. Foto: IST Istri Gubsu Sutias Handayani saat meninjau Puskesmas yang menyediakan fasilitas rawat inap untuk persalinan di Deliserdang beberapa waktu lalu. Foto: IST

Tajuk.co MEDAN – Angka kematian ibu hamil dan melahirkan di Sumut mengalami tren penurunan. Pada akhir tahun 2014 (per oktober) terdapat 152 ibu meninggal dunia, sementara pada tahun 2013 jumlah kematian mencapai 249 orang dan 274 ibu meninggal pada tahun 2012.

"Ini tentunya cukup menggembirakan sebagai upaya mendukung pencapaian rangka pemenuhan capaian Program Millenium Development Goals (MDG's) 2015," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumut RR Siti Hartati Surjantini, Selasa (30/12).

Menurut dia, dari 33 kabupaten/kota di Sumut, Kabupaten Asahan menjadi penyumbang terbanyak angka kematian ibu, yakni 14 orang.

"Selain Asahan, Langkat, dan Madina menjadi penyumbang angka kematian ibu terbanyak tahun ini. Sementara Medan, hanya enam orang saja," terangnya.

Dia menjelaskan, dari jumlah itu, berdasarkan hasil surve Dinkes Sumut, penyebab terbesar kematian ibu adalah pendarahan sebanyak 50 orang, eklampsia 43 orang, lain-lain 41 orang, infeksi 10 orang, partus macet lima orang, dan abortus tiga orang.

Angka kematian neonatal bayi dan balita di Sumut dari 2012-2014, juga menunjukkan grafik menurun. Pada 2014 ini misalnya, kematian neonatal sebanyak 828 orang, bayi 1.012, dan balita 1.122 orang. Pada tahun 2013 kematian neonatal terjadi sebanyak 9.51 orang, bayi 1.183 orang, dan balita 1.317 orang.

Penyebab kematian neonatal, lanjut Surjantini, di antaranya karena tetanus, sepsis, kelainan kongenital, ikterus, asfiksia, dan lain-lain.

Guna mendukung pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah ini, pemerintah mengoperasikan sejumlah sarana, prasarana, dan fasilitas kesehatan. Antara lain pusat kesehatan masyarakat (Puskemas) yang terdiri atas 416 unit nonrawat inap dan 154 rawat inap.

Sementara untuk fasilitas rumahsakit terdapat 206 rumah sakit, 49 milik pemerintah dan 157 swasta. Sedangkan dari jumlah desa sebanyak 6.113, terdapat 977 dokter, 10.723 bidan, 7.575 bidan desa, dan 7.329 bides yang tinggal di desa, pada puskesmas yang ada di Sumut. "Untuk tenaga di rumah sakit, sebanyak 353 terdiri dari spesialis anak dan 291 berlatar belakang spesialis kandungan," ujarnya.

Tak hanya itu, Dinkes Sumut juga benar-benar memanfaatkan anggaran yang berpihak kepada masyarakat miskin atau tidak mampu dengan alokasi sebesar 61 persen di tahun anggaran 2014. Dari total APBD tahun 2014 senilai Rp192.215.000.000, DInas Kesehatan memperuntukkan untuk jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) sebesar Rp118.000.000.000.

"Angka itu meningkat dari tahun lalu dan 2012, di mana pada 2013 sebesar 37,05 persen dan tahun sebelumnya hanya 16.09 untuk Jamkesda," katanya. (MUS)


BERITA TERKAIT