06 Jul 2015 | 07:31 WIB
Share fb tw g+ wa tl

Rakyat Yunani Tolak Syarat Bailout Uni Eropa

Masyarakat Yunani menggelar demo atas kebijkan Bank Sentral Eropa dalam menangani utang Yunani. Foto: reuters Masyarakat Yunani menggelar demo atas kebijkan Bank Sentral Eropa dalam menangani utang Yunani. Foto: reuters

Tajuk.co ATHENA – Rakyat Yunani memutuskan menolak persyaratan pencairan dana talangan (bailout) untuk pembayaran utang yang diajukan kreditur internasional. Hasil referendum yang digelar Minggu (5/7) menunjukkan 61,5 persen menolak dan 38,5 persen menerima persyaratan bailout yang diajukan Uni Eropa.

Referendum diikuti oleh 10 juta rakyat Yunani. Mereka hanya memilih YA atau TIDAK untuk persyaratan yang diajukan kreditur internasional.

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras menyatakan, penolakan tersebut memaksa kreditur untuk melakukan pelonggaran pembayaran utang negara yang demikian besar.

"Sekarang masalah utang akan berada di meja perundingan,” kata Tsipras dalam siaran televisi.

Namun Tsipras menegaskan, hasil referendum bukan berarti Athena menuju apa yang disebut sebagai Grexit (Greek exit), atau Yunani keluar dari zona Eropa.  

"Ini bukan mandat untuk memisahkan diri dari Uni Eropa, tetapi mandat untuk memperkuat negosiasi guna mendapatkan kesepakatan yang layak,” tegas Tsipras.

Menteri Keuangan Yuani Yanis Varoufakis mengatakan, suara 'TIDAK' bergema sebagai ‘YA untuk Eropa yang demokratis. Dan Yunani akan berbicara dengan para mitra untuk mencari kesamaan pandangan mengenai kondisi negara.

Varoufakis menggelar pertemuan dengan kalangan perbankan Yunani untuk memenuhi permintaan Bank Sentral Eropa selanjutnya. Pemerintah Yunani menutup perbankan nasional dan melakukan kontrol terhadap modal hingga 6 Juli 2015 guna mencegah penarikan dana besar-besaran (rush) setelah kesepakatan bailout gagal.

Koresponden Al Jazeera di Athena, Barnaby Phillips melaporkan, hasil referendum menunjukkan hasil yang lebih baik untuk Tsipras dan memberi semangat kepada pemerintahannya untuk kembali berunding dengan Uni Eropa guna mendapatkan hasil terbaik bagi Yunani.

Namun demikian, menurut Philips, para pemimpin Eropa menyatakan sudah tidak percaya dan tidak bisa berbisnis dengan pemerintahan Tsipras.

Philips juga melaporkan, media Yunani lebih cenderung pro kepada pilihan YA selama kampanye referendum.

Para pendukung pemerintah berargumentasi, penolakan terhadap syarat bailout Uni Eropa akan memperkuat posisi Athena dalam negosiasi dengan para kreditur.

Zona Eropa akan melakukan pertemuan pada Selasa (7/7) untuk membahas hasil refeendum. Presiden UE Donald Tusk menyatakan, Jerman dan Francis meminta pertemuan.

"Saya telah mengundang pertemuan Eropa untuk mendiskusikan hasil referendum Yunani,” kata Tusk usai melihat hasil referendum.

Kantor berita AFP menyebutkan, Presiden Francis Francois Hollande akan bertemu dengan Kanselir Jerman  Angela Merkel di Paris, Senin (6/7).

Sementara itu Komisi Eropa dalam pesan singkatnya menyatakan menghormati hasil referendum Yunani. Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker akan menggelar pembicaraan jarak jauh dengan Kepala Bank Senttral Eropa, Mario Draghi dan Kepala  Eurogroup Zona Eropa Jeroen Dijsselbloem. Juncker juga akan berkonsultasi dengan 18 anggota zona Eropa.

Dijsselbloem menegaskan, terserah kepada otoritas Yunani untuk membuat rencana baru setelah hasil referendum, yang disebutnya sebagai sangat disesalkan untuk masa depan Yunani.

"Untuk pemulihan ekonomi Yunani, langkah-langkah sulit dan reformasi tak terelakan. Kami akan menuggu inisiatif otoritas Yunani,” tegasnya.

Sebelumnya, pemimpin senior partai konservatif Jerman Michael Fuchs menyatkan kepada Reuters, PM Yunani Tsipras telah membuat bencana. (HAS)

 


BERITA TERKAIT