24 Mar 2017 | 09:38 WIB
Share fb tw g+ wa tl

Tujuh Keris Koleksi Museum Riau Hilang, Sejarawan: Kita Kehilangan Sejarah

Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru. Tujuh keris yang menjadi koleksinya hilang dicuri. Foto: Istimewa Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru. Tujuh keris yang menjadi koleksinya hilang dicuri. Foto: Istimewa

JAKARTA - Lagi-lagi kasus hilangnya koleksi museum terulang. Kali ini dilaporkan dari Museum Sang Nila di Riau, tujuh koleksi museum tersebut raib digondol pencuri. Kasus hilangnya koleksi museum tersebut terungkap saat petugas kebersihan museum mendapati sebilah keris koleksi hilang. Petugas itu kemudian melaporkan ke pegawai museum. Mengejutkan, karena ternyata setelah dicek, total yang hilang ada tujuh koleksi.

Komunitas Historia Indonesia (KHI) sebagai organisasi para pecinta, pemerhati dan praktisi sejarah, museum dan kebudayaan yang terbesar di Indonesia, sangat menyayangkan kejadian ini terus berulang. "Pencurian koleksi museum merupakan kejadian yang sangat menyedihkan. Selain kehilangan koleksi museum, kita sebenarnya kehilangan satu momen dalam sejarah. Karena artefak itu kan fakta sejarah yang dapat menceritakan suatu zaman tertentu. Jika fakta sejarah itu hilang, maka hilang lah sudah satu momen dalam sejarah bangsa ini," terang Asep Kambali, sejarawan yang juga pendiri KHI.

Masih segar dalam ingatan kita, pada tahun 2013 lalu Republik ini juga digegerkan oleh hilangnya empat koleksi emas peninggalan zaman Mataram Kuno dari Museum Nasional atau Museum Gajah yang hingga kini entah dimana rimbanya. "Tidak ada satu pun pihak museum yang bicara, semuanya bungkam. Keanehan ini makin menjadi, karena pihak kepolisian sampai sekarang tak kunjung menangkap pelakunya. Padahal, kalau melihat kasus pembunuhan keji di Pulo Mas Jakarta Timur, Polisi dapat mengungkapnya hanya dalam hitungan jam. Tapi, kenapa kasus pencurian koleksi di museum ini sudah hampir empat tahun tak kunjung membuahkan hasil?" tanya Asep.

Kasus hilangnya koleksi museum nyaris merata di berbagai daerah di Indonesia. Yang menyedihkan adalah hilangnya koleksi tersebut terus berulang dan ada kemiripan, selalu hilang dalam kondisi lemari penyimpanan rapi dan tidak ada tanda-tanda kerusakkan. Apakah ada keterlibatan orang dalam pada kasus-kasus tersebut?

"Kasus-kasus seperti ini nyaris tak tersentuh oleh hukum. Jarang sekali pelakunya tertangkap. Entah memang sengaja dibiarkan tidak di tangkap, atau memang polisi tidak mampu menangkap? Kita semua hanya mampu menebak." tambah Asep.

Menurut Asep, Indonesia sebenarnya sudah memiliki payung hukum terkait pelestarian budaya dan museum yaitu Undang-Undang (UU) Cagar Budaya No.11 tahun 2010 dan Peraturan Pemerintah (PP) No.66 tahun 2015 tentang Museum. Kedua aturan hukum tersebut menjelaskan tentang aturan kehilangan dan kerusakan, tentu pencurian termasuk di dalamnya. Berdasarkan UU tersebut, kasus hilangnya koleksi museum dapat dikategorikan sebagai tindak pidana, yang di dalamnya sudah di atur dengan jelas.

Dalam PP No.66/2015 Pasal 32 ayat (5) bahwa pengamanan museum menjadi tanggung jawab kepala museum. Yang secara otomatis kehilangan koleksi adalah tanggung jawab kepala museum. Namun, yang memprihatinkan, tidak ada aturan yang menjelaskan tentang sanksi di dalam PP tersebut. Menurut ahli hukum, sanksi seharusnya diatur di UU, dan memang itu diperlukan.

"Hilangnya koleksi museum, berarti hilang pula derajat kebesaran bangsa. Seperti kata pendiri republik ini, Bung Karno: Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Satu koleksi hilang, satu momen dalam sejarah ikut musnah. Celaka!" tegas Asep.

Menurut Asep, menjaga koleksi museum dan sejarah bangsa adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan media massa. "Oleh sebab itu, mari kita lestarikan sejarah dan budaya bangsa dengan selalu mengawasi, mengunjungi, memberikan dukungan dan memberitakan/menyebarkan informasi terkait museum yang ada di sekitar kita. Saling mendukung satu sama lain. Karena jika kita sudah terlibat bersama-sama, niscaya museum akan hidup. Memuliakan museum, berarti kita memuliakan sejarah dan kebudayaan bangsa kita," ucap Asep.

Sementara Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid sangat menyesalkan terjadinya peristiwa pencurian ini. "Masalah besar memang pada kapasitas pengamanan. Setelah museum ditangani sendiri oleh daerah (otonomi) tidak banyak yang punya atau mau mengerahkan sumber daya yang cukup untuk pengamanan dan pengelolaan museum secara umum," papar sejarawan alumni Universitas Indonesia ini.

Hilmar menjelaskan, timnya kini tengah melakukan pendataan tentang barang-barang koleksi apa saja yang telah hilang dari museum tersebut. Timnya juga akan berkoordinasi dengan Dirjen Bea dan Cukai agar barang-barang koleksi museum tersebut mendapat perhatian khusus. Tak berhenti sampai disitu, timnya juga akan memberikan warning kepada jaringan museum dan art dealer/gallery di seluruh dunia melalui jaringan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). 

Seperti diketahui, tujuh benda pusaka yang disimpan di Museum Sang Nila Utama, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, hilang dan baru diketahui pada Senin (20/3). Koleksi yang kini tak diketahui rimbanya antara lain tiga bilah Keris Melayu, Pedang Melayu Sondang, Piring Seladon Emas, Kendi VOC, dan Kendi Janggut. (NG)


BERITA TERKAIT