AdabMemimpin: Agar Tetap Relevan dengan Zaman

Mohamad Cholid 20/9/2020 20:17 WIB
image
Ilustrasi: SHIFT Indonesia

Oleh:

Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

Don’t wish it was easier, wish you were better. Don’t wish for less problems, wish for more skills. Don’t wish for less challenge, wish for more wisdom.” -- Jim Rohn

 Apa yang akan Anda lakukan jika para pemegang saham suatu perusahaan yang tengah mengalami krisis, katakanlah rugi puluhan milyar, mempercayai Anda sebagai CEO?

Para eksekutif yang berlatar belakang pendidikan pasca sarjana (MBA atau MM) dari universitas-universitas papan atas, punya prestasi cemerlang di organisasi-organisasi sebelumnya, umumnya cenderung akan menjawab pertanyaan tersebut di atas seperti ini: rampingkan organisasi, susun strategi baru yang lebih dapat diandalkan, kendalikan keuangan secara cermat, ciptakan pasar baru, tingkatkan kinerja tim, dst.nya.

Semua itu diutarakan penuh percaya diri. Dalam presentasi di depan dewan komisaris, kemungkinan Anda akan membeberkan strategi berikut analisis secara sangat rasional.

Itu semua normal saja dan tidak ada yang salah dengan pendekatan seperti itu. Namun, di situlah para eksekutif cerdas kemungkinan akan terjebak dalam kerangka pemikiran mereka sendiri. Malah ada yang kemudian seperti kesasar dalam alur strategi yang ternyata jadi ruwet ketika realitas tidak seperti yang mereka prediksikan. Upaya perbaikan akhirnya tersendat. Terjadi bottle neck.

Kenapa demikian?

Situasi tidak normal, utamanya ketika menghadapi krisis yang belum pernah ada padanannya selama ini, katakankah seperti akibat pandemi sekarang, jelas tidak dapat diatasi dengan pendekatan normatif.

Perubahan yang kita anggap normal saja, seperti kenaikan jabatan, tidak dapat disikapi berdasarkan perspektif dan adab kepemimpinan seperti sebelumnya, yang telah berhasil membantu kita meraih posisi sekarang. Karena cara kepemimpinan semacam itu dapat menyebabkan sudden incompetence.

Para eksekutif tersebut bukan menjadi tidak kompeten, tapi mereka melakukan hal yang keliru, kata Peter Drucker, management guru kelas dunia yang ajarannya telah diterapkan oleh ribuan organisasi besar pada pertumbuhannya, seperti HP dan Facebook.

Penugasan baru, problem yang berbeda, tidak memerlukan kecerdasan atau bakat yang hebat. Tapi lebih membutuhkan kemampuan konsentrasi para eksekutif untuk mengatasi tantangan pada penugasannya sekarang. Untuk tetap relevan dengan kekinian, sesuai kesulitan sekarang, setiap pemimpin wajib menggali dirinya, bertanya: “Hal baru apa saja yang harus saya lakukan sekarang agar menjadi lebih efektif memimpin?”

Para eksekutif zaman sekarang, jika ingin efektif memimpin dan eksistensinya berlanjut, tidak terancam punah seperti dinosaurus, sepatutnya segera menanggalkan kebanggaannya pada sukses masa lalu. Sukses bisa menjadi jebakan jika kita tidak bijak menginterpretasikannya. Tantangan hari ini lebih membutuhkan kehadiran sepenuhnya diri kita, keberanian kita merambah wilayah baru, sikap rendah hati mengakui diri tidak sempurna dan memerlukan pertolongan pihak lain, serta disiplin meningkatkan efektivitas.

Lebih dari itu, adab memimpin hari ini memerlukan ketelatenan untuk secara rutin mengajukan pertanyaan. Kenapa? Di era knowledge worker lebih berperan sekarang, anggota tim bisa saja terdiri dari orang-orang yang secara teknis lebih pintar dari kita dalam bidang keahlian tertentu. Adab memimpin yang masih membawa-bawa semangat kolonial, bahwa bos selalu dapat menyediakan sederet solusi dan merasa selalu paling benar, dapat menyebabkan kerusakan pada kualitas human relationship dengan anak buah.

Ada enam pertanyaan mendasar yang secara berkala wajib kita ajukan saat dialog one on one dengan para direct reports kita:

  1. Organisasi kita tengah mengarah kemana?
  2. Anda sendiri sedang menuju kemana?
  3. Langkah-langkah apa yang menurut Anda sudah Anda lakukan dengan benar?
  4. Apa saran-saran Anda untuk memperbaiki keadaan?
  5. Bagaimana saya dapat membantu Anda?
  6. Apa saja saran Anda bagi saya agar dapat menjadi atasan yang lebih efektif?

Sebulan sekali perlu kita investasikan waktu untuk melakukan dialog tersebut. Ini, menurut Marshall Goldsmith, executive coach #1 di dunia, akan meningkatkan mutual responsibility. Di kalangan eksekutif masih ada yang belum nyaman dengan pola pendekatan tersebut, sebagiannya memerlukan coach untuk menjadi fasilitator sekaligus membantu meningkatkan kompetensi diri mereka.

Setiap saat tantangan berubah, di saat itu pula sering kali keberanian emosional kita diuji, untuk dengan rela merasakan pelbagai ketidaknyaman yang muncul. Salah satu tugas menjadi pemimpin adalah mengelola situasi semacam itu dengan tepat. Salah satu upayanya adalah menanggalkan kebanggaan masa lalu, untuk hidup menghadapi realitas hari ini. Cara ini juga dapat meringankan beban dalam mendaki menuju level kompetensi kepemimpinan yang lebih efektif.  

Penulis adalah Member of Global Coach Group (www.globalcoachgroup.com) & Head Coach di Next Stage Coaching.

  • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
  • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

(http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

(https://sccoaching.com/coach/mcholid1)