Anies, Dukungan untuk Wayang dan Sebuah Desa Antah Berantah di Jawa Tengah

Tajuk.co 17/11/2022 12:23 WIB
image

Oleh Hafidz Muftisany- Pegiat Desa Wisata Budaya (Dewadaya) Desa Kurung, Klaten, Jawa Tengah

Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022 Anies Rasyid Baswedan baru saja bersafari ke daerah Mataraman Jawa, Solo dan Yogyakarta. Pada sela-sela aktivitasnya tersebut, Anies nampak akrab bertemu dengan dalang kondang Ki Anom Suroto di Solo.

Pertemuan Anies dengan Ki Anom Suroto bebas saja dimaknai sebagai bagian dari pencitraan Anies agar seolah-olah terkesan dekat dengan budaya. Tentu ada anasir yang mengaitkan safari dan silaturahim Anies dengan hajatan besar Pemiliha Presiden 2024. Suara-suara itu wajar muncul. Sebab momentumnya memang Anies sudah dideklarasikan sebagai Capres.

Namun, kesan dekat dengan budaya utamanya wayang ini sejatinya bisa ditengok dari karya dan rekam jejak yang telah Anies lakukan. Saya tidak akan muluk-muluk. Hanya ingin menceritakaan apa yang saya dan teman-teman di Klaten Jawa Tengah alami dan hubungannya dengan Anies Baswedan.

Jadi saya tinggal di sebuah desa, namanya Desa Kurung, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Desa Kurung di Klaten ini memang terkenal dengan historical budaya yang kental. Di desa ini puluhan dalang lahir, puluhan sinden mentas dan mungkin ratusan pengrawit gamelan berasal. Belum lagi menghitung seni tari, campursari dan seni lukis yang juga tumbuh subur.

Maka, kami ini orang-orang desa lalu mencoba menggabungkan potensi kebudayaan tadi dengan mengukuhkan Desa Kurung sebagai Desa Wisata Budaya, gerakannya kami namakan Dewadaya (Desa Wisata Budaya).

Muncullah ide untuk peluncurannya yakni pentas 10 dalang sekaligus asli Desa Kurung. Karena digelar pada medio 2021 dan di tengah rentan penyebaran Covid-19, maka pagelaran ini digelar secara virtual di tempat Ki Bagonk Darmono, adik Ki Anom Suroto di wilayah Juwiring, Klaten.

Persiapan demi persiapan dilakukan. Termasuk mencari dukungan. Maklum, kami ini paguyuban yang skalanya desa. Tidak banyak sumber daya yang bisa diakses untuk pagelaran ini. Hanya mengandalkan semangat para dalang-dalang lokal Klaten dalam bimbingan Ki Tantut Sutanto yang namanya juga sudah dikenal di level nasional. Selebihnya, teman-teman berjuang mencari dukungan.

Di tengah proses mencari dukungan itu terkabar kabur kabar angin bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkenan memberikan dukungan. Sebuah kabar dukungan yang sama sekali tidak bisa kami prediksi. Tentu saja pertama soal jarak geografis yang jauh antara Klaten dan DKI Jakarta. Kedua, kami ini orang desa mana ada relasi atau jejaring yang terhubung sampai ke level nasional seperti Gubernur Anies.

Meskipun baru sebatas kabar, hal ini sudah memotivasi teman-teman untuk menyiapkan segala sesuatu sebaik mungkin. Teman-teman dalang, pengrawit, sinden dan juga semua yang terkait pagelaran wayang tentu juga bersemangat. Sebab para seniman wayang ini termasuk yang paling terpukul kala pandemi. Petunjukkan ditiadakan, sementara dalam satu pertunjukan wayang ada banyak eksponen yang terlibat.

Ceritanya juga sedih. Setelah habis memakan tabungan, beberapa seniman wayang ini harus rela menjual aset pribadi termasuk gamelan hanya untuk menyambung hidup. Sebab ada banyak manusia yang berada di bawah naungan seniman wayang. Sudah keras mereka bertahan. Maka adanya pertunjukan wayang, meski dilakukan secara virtual adalah oase bagi mereka.

Kejutan itu datang di hari H penyelenggaraan. Kami, panitia tidak tahu bahwa Pak Anies Baswedan sudah menyiapkan sambutan secara resmi melalui video khusus untuk kami. Saat video sambutan ini diputarkan, hati kami seperti dibombong (diangkat-angkat-red). Betapa perhatian Pak Anies ini benar-benar kami rasakan luar biasa. Dari Jakarta sana untuk kami di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Yang Pak Anies sendiri sepertinya belum pernah menjejakkan kaki langsung di desa kami.

Tapi sambutan beliau, menyebut nama desa kami secara langsung, mengapresiasi pertunjukan 10 dalang secara bersamaan dengan kosakata: spektakuler adalah sebuah motivasi yang nyata bagi kami di Jawa Tengah.

Jika hadirnya Pak Anies Baswedan dalam acara kami disebut pencitraan, maka tidak ada media yang meliput. Tidak ada unggahan Pak Anies di media sosial terkait acara ini, tidak ada press conference, tidak ada sorot kamera dan media. Benar-benar hadir langsung untuk sebuah desa di Jawa Tengah yang saya yakin Pak Anies juga mungkin baru mengetahuinya.

Hadirnya Anies Baswedan dalam pagelaran-pagelaran wayang di kampung-kampung nyatanya tidak dilakukan sekali dua kali. Anies bersama Komunitas Pelestari Budaya Nusantara telah memberikan dukungan nyata agar para seniman wayang ini bisa terus bertahan pada saat pandemi dan kini terus eksis sebagai hiburan di tengah-tengah masyarakat.