AS Peringatkan China Atas Tindakan Agresif di Filipina dan Taiwan

Tajuk.co 8/4/2021 20:57 WIB
image
AS dan China memanas soal Laut China Selatan. Foto: aa.com

Tajuk.co WASHINNGTON – Departemen Luar Negeri AS menyampaikan kekhawatiran atas keberadaan kapal China di dekat Filipina dan masuknya jet Beijing ke zona pertahanan udara Taiwan.

AS memperingatkan China terhadap apa yang dipandang Filipina dan Taiwan sebagai langkah yang semakin agresif. AS juga mengingatkan Beijing tentang kewajiban Washington kepada mitranya, ketika dua kekuatan saingan itu meningkatkan aktivitas angkatan laut mereka di Laut China Selatan.

"Serangan bersenjata terhadap angkatan bersenjata Filipina, kapal umum, atau pesawat terbang di Pasifik, termasuk di Laut Cina Selatan, akan memicu kewajiban kami berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama AS-Filipina," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price kepada wartawan, Rabu (7/4/2021).

"Kami berbagi keprihatinan dengan sekutu Filipina kami terkait laporan pemberitaan milisi maritim RRT yang terus berlanjut di dekat Whitsun Reef," kata Price lagi.

Lebih dari 200 perahu Tiongkok pertama kali terlihat pada 7 Maret di Whitsun Reef, sekitar 320 kilometer (200 mil) barat Pulau Palawan dan di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina.

Sejak penampakan pertama yang dilaporkan, kapal-kapal tersebut telah tersebar di wilayah yang lebih luas di Laut Cina Selatan di ZEE Manila seperti yang ditetapkan oleh Pengadilan Arbitrase Internasional di Den Haag.

Selama berminggu-minggu, Manila telah meminta Beijing untuk menarik kapal "milisi maritim", dengan mengatakan serangan mereka ke ZEE Filipina adalah ilegal seperti yang ditetapkan oleh Pengadilan Arbitrase Internasional di Den Haag.

China - yang mengklaim hampir seluruh laut yang kaya sumber daya itu, menolak dan bersikeras mengatakan 200 perahu itu adalah kapal penangkap ikan, yang berlindung dari cuaca buruk dan diizinkan berada di sana.

Manila memperingatkan, kehadiran kapal tersebut dapat memicu "permusuhan yang tidak diinginkan" antara kedua negara.

Undang-Undang Hubungan Taiwan

Ketegangan China dengan Taiwan. Sejumlah 15 pesawat China  menyeberang ke zona pertahanan udara Taiwan. Taipei menegaskan,  mereka akan mempertahankan dirinya sampai akhir.

Pada hari Senin, kapal induk China, Liaoning, juga memimpin latihan angkatan laut di dekat Taiwan, dan Beijing mengatakan latihan semacam itu akan menjadi rutinitas.

Price menyatakan, keprihatinan atas  tindakan China itu. “AS menolak setiap upaya kekerasan atau bentuk paksaan lain yang akan membahayakan keamanan atau sistem sosial atau ekonomi rakyat di Taiwan," ujar dia lagi.

Dia menggunakan bahasa dari Undang-Undang Hubungan Taiwan, di mana AS berkewajiban menjaga pulau itu sebagai sarana untuk mempertahankan diri dari Beijing.

AS mengeluarkan pernyataan terbaru ketika Beijing mengonfirmasi  telah melacak kapal perusak USS John McCain yang berlayar melalui Selat Taiwan pada hari Rabu.

"Tindakan AS mengirim kapal perang untuk berlayar melalui Selat Taiwan dan mempublikasikannya di depan umum adalah trik lama untuk 'memanipulasi' situasi lintas-Selat," kata Kolonel Senior Zhang Chunhui, juru bicara Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA)

 "China dengan tegas menentang itu," katanya.

AS sebelumnya membela aktivitas angkatan laut terbarunya dengan menyebutnya sebagai transit "rutin". Transit kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Militer AS akan terus terbang, berlayar, dan beroperasi di mana saja yang diizinkan oleh hukum internasional, ”kata Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan.

Presiden Joe Biden telah berjanji untuk meningkatkan pertahanan sekutunya dan, dalam titik kesinambungan yang jarang terjadi dengan pendahulunya mantan Presiden Donald Trump, telah mendukung tanggapan yang kuat terhadap ketegasan China. (HIP)