Awas Kanker Batang Ancam Tanaman Buah Naga

Tajuk.co 1/8/2020 12:16 WIB
image
Tanaman Buah Naga (foto: kementan)

Tajuk.co, JAKARTA – Potensi pengembangan buah naga (Hylocereus polyrhizus) sangat besar. Meski bukan tanaman asli Indonesia, namun iklim tropis Indonesia di Indonesia memenuhi syarat tumbuh buah naga, yang dapat tumbuh sampai ketinggian 800 meter diatas permukaan laut.

Di daerah sepanjang garis ekuator, buah naga dapat dipanen sepanjang tahun. Tak heran sejak tahun 2012 banyak petani maupun pelaku usaha di berbagai daerah di Inodnesia yang berinvestasi memproduksi buah naga.  Hal itu didukung pasar buah naga yang masih terbuka lebar, baik pasar domestik maupun luar negeri.

Sentra buah naga di Indonesia tersebar di sejumlah provinsi. Di Jawa Tengah antara lain Kabupaten Wonogiri, Cilacap, Kudus,  Rembang, dan Tegal. Kemudiandi Daerah Istimewa Yogyakarta di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul.

Selanjutnya di Jawa Timur (Banyuwangi, Jember, Lumajang, Gresik, dan Malang), Kalimantan Tengah (Pulang Pisau dan Kotawaringin Barat), Kalimantan Barat (Sambas), Kalimatan Timur (Kutai Kertanegara), Jawa Barat (Subang, Bogor, Sukabumi, Sumedang, dan Bandung), Banten (Pandeglag dan Serang), Bali (Buleleng), Bengkulu (Kepahiang), Nusa Tenggara Barat (Lombok Timur dan Lombok Tengah), Maluku Utara (Halmahera dan Tidore Kepulauan).

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (1/8) mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan Gerakan Mendorong Produksi, Meningkatkan Daya Saing, dan Ramah Lingkungan (Gedor Horti). Hal itu sejalan dengan instruksi Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo untuk terus memacu produksi dan meningkatkan kualitas/mutu dari komoditas hortikultura.

”Gedor Horti untuk ekspor buah tropis  akan membawa manfaat positif bagi perekonomian nasional. Tahun 2020 ini, ekspor buah naga Indonesia ke China juga sudah terbuka, "ujar Dirjen yang biasa disapa Anton itu.

Serangan Kanker Batang

Berdasarkan hasil survei Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) Solok pada tahun 2013 dan 2015, sebagian besar pertanaman  buah naga di Provinsi Kepulauan Riau (Batam dan Bintan)  hancur terserang kanker batang. Menurut Anton, penyakit ini disebabkan cendawan Neoscytalidium dimidiatum yang mematikan tanaman dan mengancam produksi buah naga di Indonesia.

Sejumlah wilayah pengembangan buah naga lainnya juga diserang penyakit kanker batang seperti Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Padang Pariaman. Tahun 2016, hampir 50% pertanaman buah naga di Kalimantan Timur juga terserang dengan kategori ringan sampai berat. Serangan serupa juga terjadi di Kabupaten Subang, Jawa Barat dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Penyakit kanker batang dapat menyerang bagian batang maupun buah. Gejala pada batang yang dimulai pada batang muda/sulur, adanya bintik-bintik/bercak-bercak putih seperti tusukan halus dan cekung pada bagian tengah.

Gejala lebih lanjut, bercak-bercak menyatu, berwarna kuning sampai kecokelatan dan membengkak (seperti bisul) meletus, kemudian akan mengeras, berwarna hitam dan mengering. Gejala pada buah, terdapat bintik-bintik/bercak-bercak putih seperti gejala awal pada batang.

"Gejala lanjut pada buah, bercak-bercak menyatu menutupi permukaan buah, sehingga kulit buah menghitam dan kering," lanjut Anton.

Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh faktor  cuaca, dan kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman/bagian yang terserang. Curah hujan tinggi, apalagi sisa-sisa tanaman dan bagian yang tidak dimusnhkan sangat mendukung perkembangan penyakit. Oleh sebab itu pengendalian sangat diperlukan, agar penyakit tidak berkembang.

Cara Mengendalikannya

Pengendalian penyakit kanker batang dilakukan secara ramah lingkungan dan terpadu dengan memonitor gejala serangan awal. Pemeliharaan tanaman, baik pemupukan maupun pengairan dilakukan optimal, membersihkan sisa-sisa tanaman dan bagian tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan dengan cara membakar.

Selain itu tanaman yang terserang ringan dieradikasi dengan memotong bagian tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan dengan cara membakar dan bekas potongannya diolesi Bubur Bordo.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf mengatakan, keberhasilan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) harus dilakukan secara terpadu, serentak, dan ramah lingkungan  sesuai dengan prinsip PHT.

Beberapa prinsip PHT yang penting dilakukan yaitu budidaya tanaman sehat, pengamatan agroekosistem secara rutin, serta pelestarian musuh alami. Hal itu akan berguna sehingga petani dapat mengambil keputusan dalam melakukan pengelolaan OPT di lahannya.

“Kami terus mengingatkan petani untuk menggunakan bahan pengendali ramah lingkungan agar produk makin berdaya saing dan aman konsumsi, " pungkas Yanti.