Balitbangtan Lepas Varietas Padi Inpago 13 Fortiz yang Kaya Zinc dan Protein

Tajuk.co 24/11/2020 19:00 WIB
image
Balitbangtan lepas varietas Inpago 13 fortiz. (foto: Balitbangtan)

Tajuk.co, JAKARTA - Setelah melepas varietas padi sawah kaya zinc yaitu Inpari IR Nutri Zinc pada tahun 2019, Balitbangtan melalui para penelitinya di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) terus melakukan penelitian perakitan varietas dengan kandungan Zn tinggi. Melalui kegiatan konsorsium padi nasional, BB Padi menutup akhir tahun 2020 ini dengan kembali melepas varietas kaya zinc dan protein untuk lahan kering atau padi gogo.

Inpago 13 Fortiz, merupakan varietas padi gogo dengan kandungan zinc sebesar 34 ppm pada beras pecah kulit, serta kandungan protein cukup tinggi sebesar 9.83%. Varietas ini dihasilkan dari persilangan padi lokal Indonesia dengan padi unggul. Inpago 13 Fortiz memiliki rata-rata hasil GKG 6.53 t/ha dengan potensi hasil 8.11 t/ha. Keunggulan lain dari varietas ini adalah tahan-agak tahan terhadap delapan ras utama penyakit blas di lahan gogo, agak tahan terhadap hama wereng coklat, agak toleran keracunan alumunium 40 ppm, dan agak toleran kekeringan.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry dalam keterangan tertulisnya yang diterima Selasa (24/11) menyebutkan bahwa selain adaptif di lahan kering, varietas ini juga dapat dibudidayakan di lahan sawah tadah hujan dengan sistem pengairan yang terbatas. “Diharapkan selain dapat meningkatkan produktivitas di lahan kering, Inpago 13 Fortiz juga dapat berperan serta memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia.” ungkapnya.

Menurut Fadjry, penciptaan varietas ini juga merupakan salah satu upaya yang murah bagi budidaya pertanian untuk memperoleh manfaat kandungan zinc dan protein yang tinggi dari beras. “Caranya adalah dengan menggunakan varietas yang secara genetik mampu menghasilkan kadungan zinc dan protein tinggi sesuai dengan tingkat yang dibutuhkan oleh masyarakat.” lanjutnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo juga telah menegaskan bahwa Kementan terus menkosolidasikan berbagai terobosan inovasi dan teknologi untuk terus memperkuat ketahanan pangan dengan meningkatkan produksi dan menghasilkan komoditas pangan khususnya mengatasi stunting. “Dengan demikian kedepan bangsa Indonesia mampu berdaulat penuh atas pangan dan menghidupi negara-negara lain atau dunia.” ungkapnya.

Selain zinc, protein merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar. Protein diperlukan oleh tubuh sebagai sumber energi¸ membentuk berbagai enzim dan hormon, hingga mendukung sistem kekebalan tubuh. Kadar protein pada beras dipengaruhi oleh lingkungan, terutama teknik budidaya.

Penambahan pupuk urea dan cara aplikasinya dapat mempengaruhi kadar protein beras yang akan dihasilkan. Hal ini dikarenakan kandungan nitrogen dari pupuk urea yang dapat diserap oleh tanaman akan mempengaruhi kadar protein beras yang dihasilkan.

Aris Hairmansis, salah satu anggota tim pemulia varietas ini menambahkan bahwa Indonesia termasuk negara yang memiiliki angka prevalensi kekurangan gizi cukup tinggi. Salah satu akibat dari kekurangan gizi zinc adalah kekerdilan (stunting) pada anak-anak. Berdasarkan Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi balita stunting berada di angka 27,67%.

“Upaya untuk memenuhi kandungan gizi pada beras dapat dilakukan dengan fortifikasi atau biofortifikasi (perakitan varietas kaya Zn), dan pendekatan pemuliaan yang mengacu pada kebutuhan masyarakat akan kandungan nutrisi dari beras ini diyakini merupakan pendekatan yang paling feasible, sustainable, dan ekonomis untuk mengatasi masalah kekurangan gizi.” tutupnya.(KSL)