Bank DKI Tandatangani Perjanjian Kredit Sindikasi PT BFI Finance

Tajuk.co 24/9/2022 22:05 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- PT Bank DKI dan PT BFI Finance Indonesia Tbk melakukan penandatanganan perjanjian kredit sindikasi senilai Rp 1,6 triliun, Jumat (23/9). Kerja sama ini untuk memperluas akses penyaluran kredit melalui sinergi dan kolaborasi.

Dalam sindikasi tersebut, Bank DKI ditunjuk sebagai Mandated Lead Arranger sekaligus sebagai Agen Fasilitas, Agen Jaminan dan Agen Escrow bersama dengan tiga Bank Pembangunan Daerah (BPD) lainnya yakni Bank Jatim, Bank Papua, dan Bank Kalsel. "Penyaluran kredit sindikasi ini dapat menjadi salah satu stimulus pertumbuhan ekonomi yang semakin membail," ujar Direktur Komersial dan Kelembagaan Bank DKI, Herry Djufraini.

Dengan total penyaluran kredit Rp 1,6 triliun, Bank DKI memberikan porsi pinjaman Rp 500 miliar. Adapun Bank Jatim dan Bank Papua masing-masing Rp 400 miliar, serta Bank Kalsel Rp 300 miliar. Herry mengatakan eksistensi BFI Finance Indonesia serta pencapaian kinerjanya yang terus tumbuh positif patut diapresiasi.

"Terutama di tengah kondisi Indonesia yang saat ini berada pada momentum kebangkitan dan pemulihan ekonomi sebagai dampak terkendalinya pandemi Covid-19," katanya.

Perjanjian Kredit Sindikasi ditandatangani Herry, Direktur Keuangan BFI Finance Indonesia Sudjono, Direktur Utama Bank Papua F Zendrato, Direktur Utama Bank Kalsel Hanawijaya, dan Pemimpin Divisi Kredit Komersial Korporasi & Sindikasi Bank Jatim Mukhlison.

Presdir BFI Finance, Francis Lay Sioe Ho, menyampaikan apresiasinya atas dukungan para kreditur yang telah memberikan kepercayaan kepada BFI Finance. Fasilitas kredit akan digunakan untuk mendukung pembiayaan di seluruh Indonesia. "Ini akan digunakan untuk membantu target pencapaian pertumbuhan pembiayaan perusahaan yang diprediksi melebihi 25 persen pada akhir 2022 serta diproyeksikan terus bertumbuh pada tahun-tahun mendatang," ucapnya.

Herry menambahkan saat ini Bank DKI terus melakukan akselerasi penyaluran kredit. Kredit tumbuh 20,15 persen pada kuartal II 2022 menjadi Rp 43,64 triliun dibanding kuartal II 2021 sebesar Rp 36,32 triliun. Pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh segmen, dengan pertumbuhan segmen mikro yang memiliki persentase pertumbuhan tertinggi sebesar 34,77 persen. (FHR)