BPPT Sulap Kontainer Jadi Lab Bergerak untuk Tes Covid-19

Tajuk.co 17/6/2020 08:00 WIB
image
Laboratorium bergerak biosaftey leve 2 karya inovasi BPPT

Tajuk.co, JAKARTA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memanfaatkan kontainer dua puluh feed yang didesain menjadi laboratorium bergerak (mobile lab) dengan sistem keamanan level 2 atau biosafety level 2 (BSL-2). Ujicoba pun sukses dilakukan di Rumah Sakit Mohammad Ridwan Meuraksa (RS MRM) milik TNI AD di Jakarta Timur pada Selasa (16/6).

Kepala BPPT, Hammam Riza menjelaskan, laboratorium dirancang menjadi dua ruangan, yaitu anteroom dan main room yang dilengkapi dengan negative pressure dan sistem interlock. Terdapat fasilitas biosafety cabinet, autoclave dan PCR, serta peralatan pendukung lain menjadikan Lab BSL-2 ini telah memenuhi bersyaratan Biosatey Level 2 plus atau BSL-2 enhanced.

Laboratorium juga dilengkapi kamera dan sarana komunikasi antara petugas di dalam dan di luar laboratorium. Hal itu menjadikan laboratorium menjadi lebih lengkap, aman, dan seluruh aktivitas di dalam laboratorium bisa dimonitor dengan baik.

“Laboratorium ini didesain oleh putra-putri Indonesia dalam waktu relatif pendek. Dengan semangat kebersamaan yang tinggi para perekayasa berhasil mendisain Mobile Lab BSL-2 dalam waktu sepuluh hari dan proses manufaktur bersama mitra selama sembilan belas hari,” beber Hammam.

Lebih lanjut Hammam mengungkapkan, BPPT berinisiatif membentuk Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC-19) untuk menciptakan inovasi berupa Mobile Lab BSL-2 dalam waktu singkat. Tim bekerja dengan menyesuaikan standa organisasi kesehatan dunia (WHO), dengan menggunakan metode PCR paling akurat unutk mendeteksi COVID-19 dan pengujian harus dilakukan di laboratorium yang memenuhi kriteria BSL 2.

Selain BPPT, anggota tim pengembangan dan pembangunan mobile lab BSL-2, di antaranya adalah Asosiasi Biosafety Indonesia, Biofarma, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran.

lab BSL2 BPPT 

Standar WHO

Berdasarkan penjelasan di website BPPT disebutkan, WHO menetapkan sejumlah standar yang harus dpenuhi laboratorium BSL-2 yaitu, memiliki biosafety cabinet Level II A2 yang bisa mencegah virus menginfeksi penguji. Kemudian, ruang utama bertekanan negative, mencegah virul keluar lingkungan,

Persyaratan lainnya dari WHO, lab haru memiliki autoclave (alat pemusnah limbah), limbah virus dapat langsung dimusnahkan. Lab juga harus dilengkapi pemantauan suhu, tekanan, kelembaban, limbah, cctv secara otomatis 24 jam (Building automation system), menjamin keamanan lingkungan laboratorium.

Sementara itu, Kemennterian Kesehatan juga menerapkan standar bagi laboratorium pengujian, yakni tersedia alur pengujian satu arah (unidirectional flow) untuk mencegah kontaminan saat proses pengujian. Kemudian terdapat sistem pencatatan sampel dan pelaporan hasil yang terintegrasi untuk mencegah kesalahan pelaporan. Dan terakhir, harus memenuhi sertifikasi sesuai Permenkes No.411/MENKES/PER/2010 tentang Laboratorium Klinik.

“Kelebihan lab ini, selain mudah dipindahtempatkan, juga dilengkapi aplikasi pantau Covid-19,” pungkas Hammam. (KSL)