Cadangan Devisa Meningkat, Tapi Utang Bertambah

Awalil Rizky2 10/2/2021 13:27 WIB

Oleh: Awalil Rizky dan Rachmawati

Grafik Rahma

Bank Indonesia I (BI) melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Januari 2021 sebesar  AS$138 miliar. Meningkat sebesar 1,55 persen dari akhir bulan sebelumnya. Ini posisi cadangan devisa tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

BI mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesiatiap akhir bulan. Nilainya dinyatakan dalam dolar Amerika, meski sebagiannya berdenominasi mata uang lain dan berbentuk emas moneter.

Publikasi BI menggolongkan bentuk atau jenis cadang devisa Indonesia dalam empat kelompok. Yaitu: emas moneter, Special Drawing Rights (SDRs), Reserve Position in the Fund (RPF), dan cadangan devisa lainnya.

Kategori cadangan devisa lainnya mendominasi dengan nilai AS$130 miliar atau 94,1 persen dari total posisi pada akhir Januari 2021. Cakupan bentuknya juga paling luas. Nilai terbanyak berbentuk Surat Berharga sebesar AS$118,40 miliar (85,79persen). Diikuti oleh Uang Kertas Asing dan Simpanan sebesar AS$11,51 miliar (8,34persen), dan Tagihan Lainnya sebesar AS$0,7 miliar.

Sementara itu, cadangan devisa dalam bentuk emas moneter sebesar AS$4,65 miliar (3,57 persen). Dalam bentuk SDRs sebesar AS$1,60 miliar (11,62 persen). Dalam bentuk RPF sebesar USD1,14 miliar (8,23persen).

BI mengatakan peningkatan posisi cadangan devisa Januari 2021 terutama dipengaruhi oleh penerbitan global bonds pemerintah dan penerimaan pajak.

Kementerian Keuangan memang mencatat adanya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dalam valuta asing pada bulan Januari. Diinformasikan SBN berdenominasi dolar Amerika yang berhasil dijual sebesar AS$3 miliar pada tanggal 12 Januari 2020. Terdiri dari tiga seri. Seri RI0331 bertenor 10 tahun sebesar AS$1,25 miliar. RI0351 bertenor 30 tahun sebesar AS$1,25 miliar. RI0371 bertenor 30 tahun sebesar AS$0,50 miliar. Sedangkan berdenominasi Euro sebanyak satu seri, RIEUR0333 bertenor 12 tahun dengan nilai EUR1 miliar.

Penambahan atau pengurangan posisi cadangan devisa tiap bulan memang terutama dipengaruhi oleh berbagai jenis transaksi internasional. Transaksi tersebut dicatat oleh BI dan dipublikasikan tiap triwulan dalam bentuk Neraca, yang dikenal sebagai Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). NPI menjadi catatan arus keluar dan masuk devisa dari sisi negara Indonesia.

Komponen NPI terdiri dari neraca, yaitu neraca Transaksi Berjalan, neraca Modal dan neraca Finansial. Transaksi Berjalan merupakan neraca perdagangan barang dan jasa dalam arti luas. Cakupannya melebihi Neraca Perdagangan publikasi BPS yang hanya mencatat perdagangan barang ditambah sebagian jasa terkait langsung dalam transaksi barang. Sebagai contoh, transaksi berjalan memasukkan arus pembayaran bunga utang dan keuntungan sebagai balas jasa atas penggunaan faktor modal.

Transaksi Berjalan yang surplus selama setahun berarti ada penambahan cadangan devisa, karena penerimaan dari ekspor barang dan jasa lebih besar dari pembayaran impor barang dan jasa. Sebaliknya jika terjadi defisit.

Transaksi berjalan selama kurun tahun 198-1997 selalu mengalami defisit, dengan nilai yang berfluktuasi. Sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2011 selalu mengalami surplus, dengan nilai yang berfluktuasi.

Sejak tahun 2012 hingga 2020, Transaksi Berjalan selalu mengalami defisit. Secara nominal tercipta rekor defisit pada tahun 2018, yakni sebesar 30,63 miliar dolar. Defisitnya hanya sedikit turun pada tahun 2019, menjadi sebesar 30,35 miliar dolar. Kondisi Transaksi Berjalan justeru membaik pada tahun 2020, ketika dialami pandemi covid-19. Defisit selama tiga triwulan hanya sebesar AS$5,67 miliar. Diprakirakan selama tahun 2020, defisitnya akan di kisaran AS$6,00 miliar.

Bagaiman pun, ekspor dan impor dari barang dan jasa dalam artian luas sejak tahun 2012 telah bersifat mengurangi cadangan devisa setiap tahun. Transaksi yang bersifat pembayaran lebih besar dari yang bersifat penerimaan devisa.

Lalu, mengapa cadangan devisa justeru cenderung bertambah tiap tahun?

Hal itu disebabkan adanya arus neto investasi dan utang piutang, yang dicatat dalam neraca Transaksi Modal dan Transaksi Finansial. Transaksi Berjalan menghitung arus jual-beli, sedangkan Transaksi Finansial menghitung arus utang-piutang. Investasi dapat dianggap jenis transaksi utang-piutang, yang menimbulkan hak dan kewajiban di kemudian hari.

Transaksi Finansial Indonesia cenderung membukukan arus masuk bersih, dengan nilai berfluktuasi. Arus masuk bersih pada tahun 2019 meningkat signifikan dari tahun sebelumnya, hingga mencapai USD36,61 miliar. Artinya, cadangan devisa bertambah sebesar ini selama satu tahun itu.

Pada tahun 2020 ketika dialami pandemi covid-19, kecenderungan tersebut masih terjadi, meski dengan arus masuk bersih yang lebih sedikit. Data NPI BI baru tersedia sampai dengan triwulan ketiga. Selama sembilan bulan berjalan, arus bersih yang berarti menambah cadangan devisa sebesar AS$8,59 miliar.

Transaksi finansial tersebut terdiri dari investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya. Arus bersih selama tahun 2019: investasi langsung (AS$20,05 miliar), Investasi portofolio (AS$21,99 miliar), dan investasi lainnya (-AS$5,62 miliar). Arus bersih selama tiga triwulan tahun 2020: investasi langsung (AS$8,97 miliar), Investasi portofolio (AS$1,79 miliar), dan investasi lainnya (-AS$1,99 miliar).  

Sebagian dari transaksi finansial dicatat oleh BI sebagai utang luar negeri (ULN). ULN didefinisikan sebagai suatu bentuk kewajiban penduduk Indonesia kepada bukan penduduk dalam kurun waktu tertentu yang membutuhkan pembayaran kembali bunga dan pokok pada waktu yang akan datang. Pengertian penduduk dimaksud mencakup pemerintah, bank sentral, maupun pihak swasta.

Sebagaimana telah dikutip di atas, BI mengakui penambahan cadangan devisa selama bulan Januari 2021 disebabkan oleh masuknya ULN Pemerintah. Sebenarnya juga ada pengaruh dari ULN swasta, namun belum ada data apakah bersifat menambah atau malah mengurangi. Harus diingat arus utang ada yang berupa penarikan dan ada pembayaran.

Dengan demikian, dapat pula dicermati perbandingan antara perkembangan posisi cadangan devisa dengan posisi ULN. Keduanya bersifat akumulasi, hasil dari transaksi bertahun-tahun yang bersifat arus.

Oleh karena belum tersedia data posisi ULN akhir Januari 2021, dapat diperbandingkan untuk waktu yang sama. Pada akhir tahun 2019, posisi cadangan devisa sebesar AS$129,18 miliar dan posisi ULN sebesar AS$403,53 miliar. Pada akhir November 2020, posisi cadangan devisa sebesar AS$133,56 miliar dan posisi ULN sebesar AS$416,59 miliar.

Posisi cadangan devisa pada akhir Januari 2021 memang merupakan rekor. Akan tetapi posisi utang luar negeri sebesar pada akhir November 2020 juga merupakan rekor. Posisi ULN dipastikan akan meningkat pada akhir Januari 2021.

Peningkatan posisi cadangan devisa selama tiga tahun terakhir terindikasi lebih disebabkan oleh arus masuk ULN yang meningkat. Laju kenaikan posisi ULN lebih cepat dibanding posisi cadangan devisa. Rasio antara keduanya makin membesar. Pada akhir tahun 2020, posisi ULN hanya sekitar dua kali lipat dari posisi cadangan devisa. Kini lebih dari tiga kali lipat. 

Kebijakan otoritas ekonomi beberapa tahun terakhir mengharapkan masuknya modal asing secara besar-besaran. Peningkatan masuknya modal asing bahkan sering dibanggakan sebagai indikasi kredibelnya perekonomian nasional. Sebagian cukup besar dari arus tersebut merupakan ULN. Pemerintah jelas menyadari hal itu, antara lain dengan mempromosikan SBN valas ataupun SBN rupiah agar dibeli pihak asing.

Alasan kebijakan demikian bisa difahami, terkait kebutuhan dana investasi dan pembangunan ekonomi secara umum. Namun harus diingat bahwa pihak asing mau berinvestasi atau memberi utang karena berharap akan adanya hasil kembalian berupa keuntungan dan pembayaran bunga. Pembayaran tersebut akan membebani Transaksi Berjalan.

Dalam koteks ini dibutuhkan bauran kebijakan dari otoritas ekonomi yang tepat dan efektif. Dalam artian bersifat strategis dan berhorison waktu jangka panjang. Arus masuk ULN dan investasi tidak cukup hanya dilihat sebagai penambah devisa pada saat itu, melainkan harus dapat menjadi sumber penghasil devisa di masa berikutnya. Jika tidak, risiko akan datang berupa kegagalan membayar kewajiban luar negeri.

Oleh karenanya, tidak salah informasi dari BI yang mengatakan posisi cadangan devisa akhir Januari 2021 setara dengan pembiayaan 10,5 bulan impor atau 10,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, juga di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Akan tetapi berlebihjan jika BI juga mengklaim cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Mungkin betul dalam kurun waktu jangka pendek, namun tidak tepat untuk konteks jangka menengah dan panjang.

Perekonomian Indonesia membutuhkan transformasi mendasar agar dapat terus mendatangkan devisa dari hasil penjualan barang dan jasa. Jika selalu mengandalkan arus investasi dan utang tidak akan mencukupi. Situasi tersebut akan membuat perekonomian rentan saat kondisi perekonomian global dan domestik mengalami guncangan yang besar.