Darurat Sampah Fashion, Balitangtan Dorong Pemanfaatan Serat Alam

Tajuk.co 31/3/2021 15:30 WIB
image

Tajuk.co, BOGOR - Perkembangan industri fashion yang sangat cepat menimbulkan dampak lingkungan yang serius.  Fashion saat ini merupakan salah satu penyumbang polutan sampah plastik terbesar.

Tuntutan persaingan pasar dan upaya memproduksi fashion murah mendorong penggunaan serat sintetis besar-besaran. Serat sintetis seperti poliester merupakan serat plastik yang tidak dapat terurai secara hayati.

Dibutuhkan waktu hingga 200 tahun untuk dapat terurai. Terlebih lagi, sekitar 85 persen dari sampah tekstil dibuang ke tempat sampah dan laut.

Badan Litbang Pertanian mendorong penggunaan serat alami untuk mengatasi sampah plastik akibat penggunaan serat sintetis. Guna memenuhi kebutuhan serat alami, Balitbangtan pun mengembangkan varietas unggul dari sejumlah tanaman penghasil serat.

Dalam pengukuhannya sebagai Profesor Riset, peneliti Balitbangtan Bambang Heliyanto menyebut kapas, kenaf, rami, abaka, dan kapuk merupakan penghasil serat alami potensial yang bisa menggantikan serat sintetis.

Menurut Bambang, terdapat sekitar 5 juta hektare lahan potensial untuk tanaman kapas. Penambahan produksi 5% dari luas tersebut, atau sebesar 250 ribu ha, itu akan menghasilkan 500 ribu – 625 ribu ton kapas.

“Jumlah yang cukup untuk swasembada serat kapas,” paparnya saat menyampaikan orasi ilmiah di Bogor, Rabu (301/3/2021).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 menunjukkan, Indonesia mengimpor 629 ribu ton serat alami atau senilai US $1,15 milyar. Selain itu, Indonesia juga mengimpor kertas untuk uang (berbahan baku kapas) senilai US $50 juta.

Saat diwawancarai usai Orasi, Bambang mengatakan, pengembangan VUB tanaman serat ke lahan suboptimal di luar Jawa berpotensi untuk menjamin penyediaan konsumsi domestik serat alam secara berkelanjutan dan sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia atas serat impor. Selain itu bisa memperbaiki lingkungan, khususnya menjaga emisi gas CO2 agar tidak melebihi batas ambang 29% pada tahun 2030.

Saat ini sudah tersedia varietas unggul lima komoditas serat alam potensial, yaitu 23 VUB kapas putih dan 3 VUB kapas warna, 13 VUB kenaf, 1 VUB rami, 4 VUB abaka dan 4 VUB kapuk, dengan produktivitas tinggi dan mutu yang diterima agroindustri serta adaptif terhadap cekaman biotik dan abiotik. Persoalannya, kebijakan pemerintah saat ini belum mendukung berkembangan budidaya tanaman serat, baik dari sisi pasar, harga jual yang menguntungkan petani, maupun sisi kelembagaannya.

Pengembangan agroindustri berbasis serat alam sangat potensial, baik untuk industri tekstil, kertas khusus berkualitas tinggi, komponen otomotif, biokomposit untuk komponen pesawat, hingga rompi anti peluru. Namun tidak berarti apa-apa jika hanya sebatas potensi, karena perlu aksi dan dukungan nyata dari pemerintah.

Bambang menyontohkan, varietas unggul kapas maupun abaca yang dikembangkan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, mampu menghasilkan uang kertas yang sulit untuk ditiru. Hal itu penting untuk mencegah pemalsuan uang yang merugikan masyarakat.

“Banyak industri yang siap menampung dan mengembangkan pemanfaatan serat alam, namun sayangnya belum ada political will yang nyata untuk mendukung petani tanaman serat,” pungkas Bambang. (KSL)