Dianggap Berbahaya, Mardani Desak Tunda Pembahasan RUU Omnibuslaw

Tajuk.co 22/5/2020 23:13 WIB
image
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera. Foto: ald/tajuk.co

Tajuk.co, JAKARTA - Draft Rancangan Undang Undang (RUU) Omnibus Law Perpajakan dan Cipta Lapangan Kerja (Ciptaker) dianggap sangat berbahaya bagi bangsa dan negara indonesia.

Untuk itu, sebaiknya, RUU tersebut segera ditarik dari pembahasan.

“RUU Omnibus Law berbahaya jika dipaksakan Berbahaya. Saya minta Pemerintah dan teman-teman di DPR menunda pembahasannya dulu dalam kondisi seperti saat ini,” kata Inisiator gerakan Kami Oposisi, Mardani Ali Sera, Jumat (22/5/2020).

Dikatakan Mardani, saat ini, pemerintah dan DPR RI akan lebih memberi manfaat kepada masyarakat jika konsentrasinya diarahkan untuk menangani Pandemi Covid-19 yang kondisinya masih belum jelas.

“Kita dalam kondisi perang dengan musuh yang berukuran mikro yang hingga saat ini masih terus trend nya naik. Lebih baik fokus dulu kesana dan mengurus dampak krisis multidimesinya,” ujar Mardani.

Mardani juga menganggap saat ini konten dari RUU Omnibus Law masih perlu dimatangkan lagi agar menghasilkan kebijakan yang lebih ramah investasi tapi tetap eco-friendly tanpa merugikan buruh di Indonesia.

“Belum siap, harus dikaji panjang dulu,” kata Mardani.

Oleh karena itu, menurutnya Fraksi PKS akan jadi oposisi kritis konstruktif dalam membahas draft RUU Omnibus Law ini, “Saya tegaskan, PKS akan kritis dan menolak aturan yang akan menyengsarakan rakyat dan lebih pro ke oligarki dan pemilik modal serta tidak eco-friendly,” katanya.

Diketahui, Beberapa RUU Omnibuslaw yang akan diusulkan Pemerintah ke DPR, diantaranya: Omnibuslaw Perpajakan, yang akan menyelaraskan Tujuh Undang-undang dan 28 Pasal.

Kemudian, Omnibus Law Ibu Kota Negara, akan menyelaraskan 43 regulasi, terdiri dari peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah, peraturan presiden dan permen.

Selanjutnya, Omnibus Law Cipta (Lapangan) Kerja, akan meyelaraskan Tujuh Puluh Sembilan Undang-undang dan 1.244 pasal.(ALD)