Dubes Tantowi Yahya: Kita Bisa Lebih Hadir di Pasifik dengan Tangan Di Atas

Tajuk.co 30/7/2020 10:32 WIB
image
Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya (Tajuk.co)

Tajuk.co, JAKARTA -- Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya memandang perlu meluruskan paradigma hubungan Indonesia dengan pasifik. Ia menyebut, selama ini kacamata Indonesia masih sebatas bagian dari Asia saja. Padahal menurut Tantowi, secara geografis dan demografi Indonesia juga bagian dari Pasifik.

"Kita melihat Indonesia sejauh ini lebih Asia daripada pasifik. Indonesia lebih banyak dipotret dari sebelah Samudera Hindia dan kita menikmati posisi itu, bagian dari Asia. Ini yang terkadang jadi “penghalang” saat saya berbicara mengenai isu Pasifik," papar Tantowi dalam Webinar Geopolitik Kawasan Pasifik: Front Baru Diplomasi Indonesia yang digelar Institut Harkat Negeri, Kamis (30/7/2020).

Tantowi menerangkan, sejatinya secara demografi dan geografi Indonesia jauh lebih pasifik dibandingkan negara-negara pasifik itu sendiri.

Ia menyebut ada lima provinsi di Indonesia yang menjadi bagian dari komunitas pasifik yakni Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Bara dan NTT.

"Ras Melanesia sebagai yang terbesar di Pasifik terakhir itu jumlahnya 22 juta dan 13 juta diantaranya ada di Indonesia. Jadi mayoritasnya ada di Indonesia, ini penegasan kita bagian dari pasifik," papar Tantowi.

Tidak fokusnya Indonesia sebagai bagian dari pasifik juga berimbas terhadap minimnya informasi soal pasifik di Indonesia. "Terbukti saat saya fit and proper test jadi calon Duta Besar, tidak banyak pertanyaan tajam soal pasifik dari teman-teman komisi I," papar Tantowi.

Karena itu, sudah waktunya Indonesia memperkuat kehadiran di wilayah Posifik. Tantowi menjelaskan mandat yang diberikan untuk meningkatkan diplomasi Indonesia. “Presiden Joko Widodo memberi direktif yang jelas, agar Indonesia lebih hadir di Pasifik. Bukan hanya sekedar hadir, tetapi hadir dengan “tangan di atas”, ujar Tantowi.

Pasifik juga kesempatan yang harus dikejar, baik untuk urusan geopolitik, keamanan kawasan, maupun hal-hal yang kongkret seperti bisnis dan ekonomi.

“Banyak jembatan yang bisa dibangun seperti Pariwisata, Capacity Building, kerjasama ekonomi, bahkan kebudayaan,”’papar Tantowi