Empat Hari Pengetatan PSBB, Kasus Positif COVID-19 di Jakarta Masih di Atas 1.000

Tajuk.co 17/9/2020 23:33 WIB
image
Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan (foto: Dok Humas Pemprov DKI Jakarta)

Tajuk.co, JAKARTA - Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan telah menetapkan Jakarta berada dalam status Pengetatan PSBB atau PSBB Jilid II. Penetapan status tersebut berlangsung selama dua pekan ke depan sejak Senin 14 September 2020 kemarin.

Adapun pengetatan PSBB tersebut ditujukan pada penerapan protokol kesehatan di sektor perkantoran untuk memutus mata rantai penularan COVID-19 yang meningkat signifikan pada awal September 2020.

Pemprov DKI Jakarta terus memassifkan tes PCR untuk menemukan kasus baru secara cepat, agar dapat segera melakukan tindakan isolasi / perawatan secara tepat. Sehingga, memperkecil potensi penularan COVID-19. 

"Dalam PSBB mulai 14 September ini, fokus utama kita adalah pembatasan di arena perkantoran. Di arena perkantoran pemerintahan, kedisiplinan untuk mengatur jam kerja dan mengatur jumlah pegawai telah berjalan lebih baik. Tapi di swasta harus ada peningkatan kedisiplinan. Karena itulah, dengan diwajibkan para pimpinan mengatur pekerjanya bekerja dari rumah, apabila harus bekerja, maka sebanyak-banyaknya ada 25%. Harapannya kita bisa menekan kasus yang bermunculan di klaster perkantoran. Ini berlaku selama 2 pekan ke depan. Dan bila di pasar, di pusat perbelanjaan, di gedung perkantoran ditemukan kasus positif maka bukan saja kantor atau penyewa di lantai tertentu tapi seluruh gedung akan ditutup selama 3 hari operasi," ujar Anies di Balai Kota, Minggu (13/9).

Adapun kantor pemerintahan dan kantor swasta di luar 11 sektor tersebut akan mengacu pada aturan yang dikeluarkan oleh KemenPAN-RB bahwa di zona dengan risiko tinggi, kantor tetap diperbolehkan beroperasi dengan maksimal 25% pegawai yang bekerja dari kapasitas dalam tempat dan waktu yang bersamaan.

Belum Menurun

Meskipun demikian, dalam penelusuran Tajuk.co selama empat hari pelaksanaan Pengetatan PSBB tersebut, belum tampak penurunan jumlah kasus positif COVID-19 di DKI Jakarta.

Seperti halnya pada awal pekan September 2020, kasus positif COVID-19 di DKI Jakarta selama empat hari terakhir masih berada di kisaran atas 1.000 kasus positif.

Saat Senin (14/9), terjadi penambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 1.062 kasus. “Hal itu lantaran terdapat akumulasi data sebanyak 394 kasus dari tanggal 11 dan 12 September yang baru dilaporkan. Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 71.724. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 51.767," terang Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, Senin (14/9).

Saat Selasa (15/9), dilakukan tes sebanyak 7.141 orang dites PCR untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 1.027 positif dan 6.114 negatif. "Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 72.395. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 59.594," terang Dwi, Selasa (15/9).

Saat Rabu (16/9), sebanyak 5.561 orang dites PCR untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 1.003 positif dan 4.558 negatif. "Namun, total penambahan kasus positif sebanyak 1.505 kasus, lantaran terdapat akumulasi data sebanyak 502 kasus dari tanggal 12, 13 dan 14 September yang baru dilaporkan,” terang Dwi.

Saat Kamis (15/9), sebanyak 7.615 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 1.014 positif dan 6.601 negatif. "Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 74.380. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 57.182," tambah Dwi.

Sidak di Perkantoran

Meskipun demikian, seluruh jajaran Pemprov DKI Jakarta mulai dari Gubernur, Wakil Gubernur, Walikota, hingga Kelurahan senantiasa aktif melalukan sidak ke beberapa perkantoran, rumah makan, dan pusat perbelanjaan. Hal itu dilakukan untuk secara aktif menekan angka penyebaran kasus COVID-19 sebagaimana diamanatkan dalam Pergub Nomor 88 tahun 2020. (BDN)