Empat Peneliti Utama Balitbangtan Dikukuhkan Menjadi Profesor

Tajuk.co 31/3/2021 14:30 WIB
image
Pengukuhan Profesor Riset Kementan

Tajuk.co, BOGOR - Majelis Professor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) mengukuhkan tiga peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menjadi Profesor riset. Pengukuhan tersebut menambah jumlah profesor riset di Balitbangtan, Kementan menjadi 154 orang, sementara untuk tingkat nasional menjadi 599 orang.

Keempat peneliti ahli utama yang melakukan orasi profesor riset kali ini adalah Handewi Purwati Saliem dalam bidang Ekonomi Pertanian, Bambang Heliyanto dalam Pemuliaan dan Genetika Tanaman, Satoto dalam bidang Pemuliaan dan Genetika Tanaman, dan Jacob Nulik dalam bidang Nutrisi dan Teknologi Pakan. Saat ini Professor Riset Kementan yang masih aktif sebagai PNS menjadi berjumlah 54 orang dari 1581 peneliti dan total 5579 PNS di Badan Litbang Pertanian, Kementrian Pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dalam sambutan yang dibacakan Kepala Balitbangtan, Fadjry Djafry mengatakan, jejak panjang penelitian para profesor riset sangat penting bagi kemajuan pembangunan pertanian. Inovasi dan teknologi menjadi tulang punggung sektor pertanian yang masih mampu tumbuh sebesar 1,75%, ditengah-tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang mengalami kontraksi sebesar -2,07% pada tahun 2020.

Orasi Prof Handewi, bertajuk “Redesain Kebijakan Ketahanan Pangan dan Gizi Berbasis Dinamika Pola Konsumsi Masyarakat” mengatakan, belum tercapainya beberapa indikator ketahanan pangan dan gizi (KPG) menunjukan tidak tepatnya desain KPG selama ini. Karena itu, Dewi mendorong dilakukannya reformulasi implementasi kebijakan KPG.

“Selama ini fokusnya lebih kepada penyediaan produksi domestik. Sebaiknya didasarkan pada peta pola konsumsi pangan masyarakat berbasis potensi pangan lokal untuk penyediaan pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman-B2SA (demand driven approach),” ujarnya.

Butuh Keberpihakan Pemerintah

Sementara itu, dalam berjudul “Inovasi Varietas Unggul Tanaman Serat Mendukung Agroindustri Berbasis Serat Alam”, Prof Bambang mengungkapkan kekhawatirannya pada tingginya pencemaran lingkungan oleh limbah serat sintetis yang berbahan plastik. Ia menyadarkan pemanfaatan tanaman serat alam untuk berbagai produk agroindustri sebagai solusi mengatasi kerusakan
lingkungan.

“Dibutuhkan keberpihakan politik atau political will agar budidaya tanaman serat kembali bergairah sekaligus mengungari ketergantungan terhadap serat impor,” tegasnya.

Orasi Prof. Satoto berjudul “Inovasi Teknologi Pengembangan Varietas Unggul Padi Hibrida untuk Meningkatkan Produktivitas Padi dan Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan” mengatakan, lonjakan produksi nasional tidak bisa hanya mengandalkan padi inbrida. Ia menyebut padi Hibrida menjadi solusi lompatan produksi padi karena produktivitasnya jauh diatas padi inbrida.

Menurut Satoto, berdasarkan parameter biofisik untuk pengembangan padi hibrida, terdapat 1,6 juta ha lahan potensial di Jawa dan Bali yang bisa ditanami padi hibrida. Jika lahan tersebut ditanami padi hibrida, sedikitnya ada tambahan 12 juta ton produksi gabah nasional.

Inovasi untuk Ternak Rakyat

Pada sesi terakhir, tampil menyampaikan orasinya, Prof. Jacob Nulik  dengan judul orasi “Inovasi Teknologi Hijauan Pakan Berbasis Legum di Lahan Kering Iklim Kering Mendukung Pengembangan Ternak Sapi Nasional”. Menurut Jacob, produksi daging sapi dalam negeri baru bisa memenuhi 60-65% dari kebutuhan nasional. Dari jumlah tersebut, sebanyak 90%nya dipenuhi dari petani peternak kecil dengan modal terbatas dan produktivtas ternak sapi yang masih rendah.

“Inovasi teknologi hijauan pakan ternak (HPT) berbasis legum adalah solusi menigkatkan produktivitas ternak sapi petani rakyat karena keterbatasan modal yang mereka miliki,” ujar Jacob.

Menurut Jacob, Pengembangan dan Pemanfaatan HPT berbasis legum di lahan kering iklim kering mampu meningkatkan kapasitas tampung ternak sapi dari 2-3 ekor menjadi 4-6 ekor per ha. Angka kematian anak sapi Bali juga bisa diturunkan hingga kurang dari 4%, serta mempertahankan Skor Kondisi Tubuh ternak Induk sapi Sumba Ongole pada skala 3 agar melahirkan anak setiap tahun.

Pemanfataan HPT juga meningkatkan pertambahan berat badan ternak dari 0.2-0.3 kg/ekor/ hari menjadi 0.5-0.8 hingga 1 kg/ekor/hari pada ternak sapi Jantan Bali dan antara 0.6-1.2 kg pada sapi Jantan Sumba Ongole. Teknologi HPT berbasis legum juga akan mampu mendukung peningkatan populasi ternak sapi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi 2 juta ekor pada tahun 2023 dari saat ini kurang lebih 1 juta ekor.

“Potensi peningkatan pasokan ternak sapi dari NTT untuk Nasional pun bakalmeningkat dari 60.000-80.000 ekor saat ini menjadi 120.000-160.000 ekor per tahun,” kata Jacob. (KSL)