Gubernur Jatim: Tragedi Kanjuruhan sebagai Duka Indonesia

Tajuk.co 2/10/2022 19:31 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, tak cuma duka bagi provinsinya, tapi juga duka Indonesia.

Hal itu disampaikan Khofifah melalui sebuah unggahan Story di akun Instagram-nya, Minggu (2/10)

"Insiden yang terjadi dalam laga derby Jawa Timur antara Arema FC vs Persebaya (1/10) di Stadion Kanjuruhan, Malang yang menewaskan 129 orang suporter [Data Terakhir Pukul 09.00] tidak hanya menjadi duka Jawa Timur, namun juga duka Indonesia dan duka dunia olah raga," tulis Khofifah.

Khofifah, atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun menyampaikan belasungkawa atas kejadian tersebut.

"Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada seluruh korban dan keluarga. Semoga amal ibadah seluruh korban diterima oleh Allah SWT dan keluarga korban diberikan ketabahan dan keikhlasan. Yang dirawat di rumah sakit semoga lekas sembuh," tuturnya.

Menurut Khofifah, tragedi Kanjuruhan perlu dijadikan pelajaran agar kejadian yang sama tak terulang.

"Peristiwa ini harus menjadi pembelajaran dan pendewasaan kita bersama, seluruh insan olahraga dan pecinta sepakbola Indonesia agar menjunjung tinggi sportivitas dalam setiap pertandingan," katanya.

Santunan untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Saat ini, Pemprov Jatim bersama Pemkab dan Pemkot Malang tengah menangani korban, baik korban tewas maupun korban lain yang memerlukan tindakan medis.

Pemprov Jatim, lanjut Khififah, akan memberikan bantuan biaya untuk penanganan kesehatan korban. Semua korban, baik korban tewas dan luka berat, juga akan mendapatkan santunan.

"Penanganan di RS. Saiful Anwar akan ditanggung oleh Pemprov Jawa Timur. Semua korban yang wafat dan luka berat akan mendapatkan santunan dari Pemprov Jatim," terangnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kerusuhan maut terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Kerusuhan bermula dari suporter Arema FC yang kecewa karena tim jagoannya kalah dari Persebaya dan merangsek masuk ke lapangan.

Merespons hal tersebut, polisi menembakkan gas air mata, baik ke arah lapangan maupun tribun penonton. Hal itu pun memicu kepanikan massa yang kemudian berlari sambil berdesak-desakan ke arah pintu keluar.

Akibatnya, beberapa massa penonton mengalami sesak napas dan terinjak-injak. Hingga saat ini, sebanyak 130 korban tewas dilaporkan dalam tragedi Kanjuruhan. (FHR)