Harapan Masyarakat Konsumen Meredup

Awalil Rizky2 13/3/2021 08:21 WIB

Oleh: Awalil Rizky dan Rachmawati, Ekonom Institut Harkat Negeri

Survei Konsumen

Keyakinan masyarakat konsumen terhadap kondisi ekonomi seolah terindikasi membaik pada Februari 2021. Sebagaimana klaim Bank Indonesia (BI) berdasar hasil survei konsumennya, yang menyajikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 85,8 atau sedikit meningkat dari 84,9 pada bulan sebelumnya. Padahal, IKK sebesar itu sebenarnya masih masuk dalam zona pesimis menurut skala survei itu sendiri.

Survei Konsumen BI memiliki jumlah responden 4.600 rumah tangga, yang berdomisili di 18 kota. Pengolahan hasil survei dengan metode Balance Score yaitu saldo bersih (net balance) ditambah 100. Saldo bersih merupakan selisih antara responden yang menjawab meningkat dengan yang menjawab menurun. Nilai indeks di atas 100 berarti optimis, dan sebaliknya berarti pesimis.

Nilai IKK sebesar 85,8 di atas artinya sekitar 57 persen responden menjawab memburuk dan hanya 43 persen menjawab membaik.

Dampak pandemi menyebabkan IKK memasuki zona pesimis sejak April 2020. IKK menyentuh titik terendah sepanjang sejarah survei itu, yaitu sebesar 77,8 pada Mei 2020. Pada bulan itu, sekitar 61 persen  responden merasa kondisinya memburuk.

IKK kemudian berfluktuasi selama beberapa bulan berikutnya, namun belum pernah masuk zona optimis. Artinya, responden rumah tangga yang menilai kondisi ekonominya memburuk selalu lebih banyak.

IKK sebesar 85,8 pada Februari 2021 merupakan rata-rata sederhana dari Indeks Kondisi Saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). IKE mencerminkan penilaian konsumen atas kondisi saat ini dibanding enam bulan lalu, berada di zona pesimis. Sedangkan IEK merupakan ekspektasi konsumen untuk enam bulan mendatang, masih di zona optimis.

Penilaian konsumen atas kondisi saat ini mencakup tiga aspek. Masing-masing dihitung indeksnya dalam pengolahan hasil survei. Yaitu: Indeks Penghasilan saat ini, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama.

Nilai ketiganya di bawah 100 atau berada di zona pesimis. Yang terendah adalah Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja sebesar 47,8. Dapat diartikan masyarakat menilai kondisi Februari 2021 lebih buruk dibanding enam bulan sebelumnya atau kondisi Agustus 2020.

Ketika dampak pandemi membuat nilai IKK memasuki zona pesimis, sebenarnya lebih disebabkan pandangan atas kondisi terkini (IKE). Masyarakat mengaku kondisinya jauh lebih buruk dari enam bulan sebelumnya. IKE terendah dialami pada Juni 2020 sebesar 45,8. Ketika pada Desember 2020, IKE hanya sebesar 68,6, maka mereka menilai kondisinya justru lebih buruk dari bulan Juni tersebut.  

Sedangkan IEK memang masih selalu berada pada zona optimis di era pandemi. Komponen penyumbang nilainya terdiri dari tiga aspek. Masing-masing dihitung indeksnya dalam pengolahan hasil survei. Yaitu: Indeks Ekspektasi Penghasilan, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja, dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha.

Sepanjang sejarah survei BI, masyarakat Indonesia memang cenderung selalu optimis atas masa depannya. Nilai IEK selalu di atas 100. Nilainya selama beberapa tahun sebelum era pandemi mencapai kisaran 130-140, atau sangat optimis.

Meski masih di zona optimis, nilainya menurun tajam. Sempat menyentuh 104,9 pada Mei 2020, dan masih sebesar 106,5 pada Februari 2021. Bisa ditafsirkan sebagai masyarakat Indonesia makin berkurang rasa kurang optimis terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang.

Jika dicermati keseluruhan aspek utama yang membuat keyakinan konsumen masih pesimis adalah soal ketersediaan lapangan kerja. Dilihat sebagai komponen penilaian atas kondisi terkini, nilai indeksnya hanya 47,8 pada Februari 2021. Berarti hanya sekitar 24 persen responden yang menganggap kondisinya lebih baik. Sedangkan yang mengaku lebih buruk mencapai 76 persen.

Dalam hal harapan akan ketersediaan lapangan kerja ke depan, nilainya sebesar 100,4. Nilai itu berasal dari jumlah responden yang relatif seimbang dalam hal keyakinan kondisi akan membaik dan memburuk. Perlu diketahui, nilai ini terendah selama era pandemi berlangsung. Dan tentu saja jauh lebih rendah dari era sebelumnya.

Survei konsumen BI selama era pandemi ini sebenarnya dapat menjadi pertimbangan utama Pemerintah dalam mengambil kebijakan ekonomi. Salah satunya, pemulihan ekonomi tidak cukup diartikan sekadar peningkatan laju pertumbuhan ekonomi hingga kembali ke lintasannya. Aspek yang paling butuh perhatian adalah soalan ketersediaan lapangan kerja.  

Berdasar uraian di atas, penulis menilai judul rilis BI agak berlebihan. “Survei Konsumen Februari 2021: Keyakinan Konsumen Membaik”.  Pada bulan sebelumnya pun, judul rilis terkesan bersifat penghalusan. “Survei Konsumen Januari 2021: Perbaikan Keyakinan Konsumen Tertahan”.

Analisis penulis atas hasil survei konsumen pada Januari dan Februari 2021 menyimpulkan hal yang cukup berbeda. Kayakinan konsumen meredup, setelah sempat sedikit menyala pada bulan November dan Desember 2020.

Sebaiknya otoritas ekonomi lebih waspada atas kondisi terkini dan ke depannya. Komunikasi publik tidak perlu dipaksakan bersifat menyenangkan. Bisa saja menjelaskan kondisi yang masih sulit dan pemulihan belum terjadi secara persuasif, namun lebih berterus terang.