Indonesia Harus Jadi Alternatif Baru di Pasifik

Tajuk.co 30/7/2020 10:04 WIB
image
Pakar Hubungan Internasional UGM Rochdi Mohan Nazala dalam Webinar yang digelar Institut Harkat Negeri, Kamis (30/7) (Tajuk.co)

Tajuk.co, JAKARTA -- Pakar Hubungan Internasional UGM Rochdi Mohan Nazala menyebut Indonesia harus menjadi alternatif baru bagi negara-negara di pasifik. Rochdi yang menjadi Kandidat PhD Rutgers University Amerika Serikat (AS) ini menjelaskan, peran Indonesia semakin besar di negara-negara pasifik.

"Saat ini Beijing masuk negara pasifik tapi bukan untuk jadi balancing kekuatan Amerika Serikat dan Australia. Tetapi menjadi opsi alternatif negara Pasifik. Indonesia seharusnya juga memainkan peran itu," terang Rochdi dalam Webinar Geopolitik Kawasan Pasifik: Front Baru Diplomasi Indonesia yang digelar Institut Harkat Negeri, Kamis (30/7/2020).

Ia menyebut, perhatian Indonesia mulai mengarah ke negara-negara pasifik dimulai sejak Presiden Abdurrahman Wahid dengan kebijakan look east.

"Kita sadar ada persoalan west Papua. Gus Dur mulai mengarahkan Indonesia ke timur lewat look east policy. Mulai banyak mengirimkan diplomat dan technical assistant," papar Rochdi.

Rochdi menambahkan, ada perkembangan kebijakan Pasifik pada 2006. Setelah banyak berkutat pada politik dan techinal assistant, Indonesia mulai mengganti kebijakan look east menjadi go east.

"Mulai serius bukan hanya membangun narasi tapi juga mengikuti berbagai forum negara pasifik. Policy ke timur agar ada engage yang lebih dekat," terang Rochdi.

Kemudian pada 2013, saat Menlu RI dijabat Marty Natalegawa, Pemerintah mengenalkan kebijakan Indo Pasifik dengan mulai melakukan perdagangan, pertukaran kebudayaan dan pendidikan.

Bagi Rochdi perkembangan kebijakan Indonesia terhadap negara-negara pasifik bisa dibilang cukup berhasil di level negara. Terutama dalam persoalan dan diskursus soal Papua."Tetapi di kalangan masyarakat pasifik masih menjadi PR terkait isu Papua dengan Indonesia. (FHR)