Ini Kiat Sukses Kuliah di Universitas Terbuka

Tajuk.co 28/12/2020 08:15 WIB
image

Tajuk.co, BOGOR – Tidak dipungkiri bahwa sebagian masyarakat belum melihat kekuatan Universitas Terbuka (UT). Umumnya masih memandang bahwa hasil pembelajaran mandiri jarak jauh belum menjamin mutu lulusan. “Sesungguhnya belajar di UT merupakan peluang terbesar untuk mengasah sumber daya manusia berkualitas hebat, karena inti belajar di UT adalah pengelolaan secara mandiri potensi yang ada di dalam diri, dan inilah yang menjadi kunci dunia pendidikan,” kata Zulfikri Anas, ketua Pokjar UT Al Iman Citayam, Bogor, Jawa Barat.

Ia mengemukakan hal itu dalam diskusi interaktif kiat sukses kuliah di Universitas Terbuka yang digelar oleh kelompok belajar UT, Perguruan Al Iman, Ahad (20/12).

Zulfikri menambahkan, belajar di UT menyasar menguatnya tanggung jawab mengembangkan potensi diri, kemampuan inilah yang menjadi jaminan kualitas SDM yang Tangguh. “Hal ini sejalan dengan fitrah dan hakikat manusia sebagai makhluk pembelajar, afala ta’qiluun (apakah engkau tidak menggunakan akalmu), afala taffakaruun (apakah engkau tidak berpikir),” ujarnya, Ahad (27/12).

Zulfikri juga mengemukakan seseorang yang mengenali potensinya dengan baik kemudian belajar sesuai dengan passion-nya. Bagi orang yang seperti itu, berbagai persoalan yang dialami justeru memicu sekaligus mengasah kemampuan menganalisis dan mengkaji lebih mendalam dengan menggunakan kekuatan yang datang dari dalam dirinya.

Menurutnya, semua ini menjadi peluang yang besar bagi setiap mahasiswa UT mengelola kekuatan dan potensi secara mandiri, selanjutnya akan tumbuh kesadaran dari dalam diri masing-masing bahwa ilmu pengetahuan menjadi tools (alat) mencapai tujuan hidupnya, belajar sepenuh hati.

“Kekuatan belajar mahasiswa UT bergantung pada potensi diri sendiri dan gaya belajarnya. Apabila mahasiswa memiliki kesadaran ini dan melaksanakan dengan sepenuh hati, lulusan UT akan lebih berkualitas dari lulusan perguruan tinggi lain,” ujar Zulfikri.

Jaka Warsihna, dosen UT sebagai narasumber utama dalam kegiatan ini mengatakan bahwa penilaian di UT akumulasi dari keaktifan mengikuti tutorial, keterlibatan dalam diskusi di forum, ketepatan waktu mengerjakan tugas, dan pelaksanaan ujian. Keaktifan di tutorial online maupun tatap muka sangat penting karena di situlah mahasiswa dapat melakukan tanya jawab untuk memantapkan pemahamannya dan mendapatkan perjelasan terhadap materi yang belum dipahami. “Semua tugas dan soal bersumber dari modul, sehingga sangat mudah bagi mahasiswa mendapatkan nilai A apabila menguasai modul,” ujarnya.

Senada dengan Zulfikri, Jaka mengatakan kesuksesan mahasiswa belajar di UT ditentukan oleh kemampuan mahasiswa mengenali gaya belajarnya. Menurutnya, ada tiga tipe mahasiswa UT, pertama mahasiswa yang sangat mandiri dan sukses dan cepat menyelesaikan studi di UT adalah mahasiswa yang mencari ilmu secara mandiri, dapat memahami modul cukup dengan membaca walaupun tanpa penjelasan dari tutor.

Tipe kedua, mahasiswa yang dapat memahami setelah mendapat penjelasan, mencatat, dan melakukan sesuatu. Apabila ia konsisten mengikuti kuliah sesuai jadwal, mengerjakan tugas tepat waktu, aktif dalam diskusi dan memperhatikan jadwal ujian, ia juga dapat menyelesaikan pendidikan dengan cepat.

Ketiga, tipe mahasiswa yang gagal, yaitu tidak senang membaca, tidak mengikuti tutorial, dan tidak mengerjakan tugas dan tidak mengikuti diskusi di dalam forum. “Tantangan pembelajaran jarak jauh adalah menjaga semangat, karena ketika mengalami permasalahan mahasiswa yang tidak aktif tutorial akan mudah frustasi,” kata Jaka.

Jaka memberikan tip, mahasiswa harus menyisihkan waktunya 2 jam dalam sehari untuk mempelajari modul, dan mendiskusikan pada saat tutorial. Belajar kelompok dapat dilakukan di media sosial dengan membagi materi dalam modul, membuat resume dan saling berbagi resume dan berdiskusi untuk saling melengkapi dan menambah pengayaan terhadap materi modul.

Keaktifan dalam grup sangat membantu untuk menjaga semangat belajar. “UT menyediakan fasilitas sumber belajar dalam bentuk siaran radio online, siaran TV online, dan perpustakaan online yang diakses oleh mahasiswa untuk meningkatkan pemahamannya,” pungkasnya.

Zulfikri menyampaikan hasil kajian terbaru psikologi modern tentang belajar, bahwa kesuksesan seseorang dalam belajar di manapun, sangat ditentukan oleh pola pikir tentang tujuannya belajar. Ada dua kutub tujuan belajar yang dapat dilihat secara dikotomi tapi juga bisa dipandang saling melengkapi. Pertama, tujuan belajar untuk prestasi, nilai, dan lulus. Tujuan belajar yang kedua untuk menemukan hal baru.

“Temuan terbaru psikologi tentang belajar ini ternyata mempengaruhi cara belajar dan semangat belajar yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesuksesan. Pada tujuan belajar yang kedua, keberhasilan adalah dampak dari sebuah proses menemukan hal baru yang dilakukan secara berulang kali,” kata Zulfikri.

Ia mengatakan, proses tutorial di kelompok belajar UT Al Iman mendorong mahasiswa untuk menjadikan tujuan belajar yang kedua, yaitu untuk menemukan sesuatu yang baru. Dengan demikian, semangat, kegairahan, dan kebahagiaan belajar untuk mendapatkan sesuatu yang baru itulah yang akan terus digelorakan dalam tutorial.

Strateginya antara lain menyediakan ruang untuk berkreasi, melakukan penelitian dan kajian. “Mahasiswa yang mengikuti tutorial di UT Al Iman akan diposisikan sebagai peneliti, tugas-tugas mata kuliah akan diorientasikan untuk memudahkan mahasiswa dalam menemukan obyek penelitian yang akan dilakukan pada akhir masa studi,” paparnya.

Sementara itu, wakil ketua Pokjar UT Al Iman, Khairunas menyatakan bahwa Al Iman akan melaksanakan kajian berkala dan serial webinar yang menghadirkan tokoh dan praktisi yang berkompeten di bidangnya. Misi ini adalah ikhtiar untuk menjawab tantangan dan membalikkan persepsi sebagian masyarakat yang memandang sebelah mata terhadap lulusan UT.

“Melalui kajian mendalam berbagai aspek kehidupan dan pendidikan inilah kita mengajak dan menginspirasi para mahasiswa untuk terus mengasah kemampuannya secara mandiri," kata Khairunnas.

Menurutnya, tidak bisa kita pungkiri bahwa muncul gejala Menara Gading di kalangan perguruan tinggi: fasilitas pendidikan yang lengkap, bergantung sepenuhnya kepada dosen, terlalu asyik sendiri menggumuli teori-teori yang sudah jadi. Semua ini membuat kemandirian mahasiswa tergerus dan kepekaan terhadap dunia sekitarnya menjadi berkurang, akhirnya para mahasiswa hanya mengandalkan capaian nilai akademis yang sempurna, lalu menggantungkan nasib mereka kepada ketersediaan lowongan pekerjaan.

"Kondisi inilah yang ingin diubah melalui berbagai aktivitas di Pokjar UT Al Iman, Citayam, Bogor, Jawa Barat,," ujar Khairunas. (FHR)