Kementan Jadikan Pisang Komoditas Unggulan Ekspor

Tajuk.co 28/4/2021 17:00 WIB
image
Indonesia kaya akan aneka ragam jenis pisang

Tajuk.co, JAKARTA - Pisang merupakan buah-buahan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Selain cita rasa yang enak dan harganya murah, pisang mudah diolah menjadi produk bernilai komersial. Di Indonesia, ada ratusan jenis pisang yang tumbuh dari Sabang sampai Merauke. Namun, potensi pisang yang besar ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan ekonomi Indonesia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadry Djufry mengatakan jenis-jenis pisang yang di Indonesia sangat variatif seperti pisang cavendish, barangan, pisang tanduk, raja emas, kepok tanjung dan lain-lain. Masing-masing wilayah Indonesia memiliki karakteristik pisang berbeda-beda.

“Pisang bisa menjadi komoditi ekspor unggulan karena tiap tahun trennya semakin meningkat. Permintaanya pasarnya tidak hanya di Asia, termasuk di Jepang dan negara lain,” kata Fadjry saat membuka Bincang Buah Tropika Online #Seri Pisang yang digelar oleh Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) pada Rabu (28/4/2021).

Untuk mendukung pengembangan pisang di Indonesia, Balibangtan melalui Balitbu Tropika terus berupaya untuk menghasilkan inovasi teknologi dan varietas-varietas unggul. Salah satunya melalui convensional breeding telah menghasilkan varietas pisang INA 03 yang tahan penyakit layu fusarium.

Balitbangtan juga mendukung program Kementan dalam pembangunan kawasan hortikultura seperti kampung pisang untuk pengembangan pisang dari hulu ke hilir termasuk industri pengolahan pisang. “Produk turunan pisang masih banyak yang belum kita eksplor agar memberi nilai tambah,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa perlu dibentuk kawasan buah yang bernilai ekonomi tinggi. "Kita dorong adanya kerjasama antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah dan Perbankan, kedepan dapat dibentuk kampung manggis, kampung durian dan sentra buah lainnya." tegasnya

Pada kesempatan tersebut, Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman menyampaikan arah kebijakan Direktorat Jenderal Hortikultura tahun 2020-2024 yaitu meningkatkan daya saing hortikultura melalui peningkatan produksi, peningkatan akses pasar dan ekspor didukung oleh sistem budidaya modern yang ramah lingkungan berkelanjutan serta peningkatan nilai tambah produk untuk peningkatan kesejahteraan petani.

Kampung Buah

Untuk mengimplementasikan arah kebijakan tersebut, terangnya, ada tiga Strategi Pengembangan Hortikultura 2021-2024 yaitu pengembangan kampung hortikultura (buah-buahan, sayuran, dan tanaman obat), penumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) hortikultura, serta memperkuat digitalisasi pertanian melalui pengembangan sistem informasi.

“Kampung buah adalah pengembangan komoditas buah-buah dalam wilayah administrasi terfokus dalam 1 desa. Luasannya minimal 10 hektare per desa. Buah yang kita kembangkan adalah buah yang cocok yang sesuai dengan agroekosistem di desa tersebut,” terangnya.

Menurut Liferdi, pihaknya akan mengalokasikan anggaran pembiayaan apabila masyarakat betul-betul serius dan antusias untuk melaksanakan kampung buah tersebut. Selain itu harus ada dukungan dan komitmen tinggi dari pemerintah daerah setempat.

Salah satu contoh kisah sukses kampung buah adalah Kampung pisang berbasis korporasi di Tanggamus, Lampung yang dikembangkan 2017 dengan mengandeng PT Great Giant Pineapple (GGP). Awalnya, kampung pisang ini hanya seluas 10 hektare, sekarang sudah berkembang hampir 400 hektare dan dikelola oleh 800 petani. Kampung pisang ini bisa berkembang karena konsep korporasi dengan mengandeng mitra industri.

Pada 2021, kampung pisang akan dikembangkan di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tenggara (Aceh), Lampung Barat (Lampung), Cianjur dan Bogor (Jawa Barat), Grobogan (Jawa Tengah), dan Blitar (Jawa Timur) dengan luas keseluruhan 280 hektare. Selanjutnya pengembangan kawasan pisang sebagai pendukung pengembangan pangan lokal di Minahasa (Sulawesi Utara), Bantaeng (Sulawesi Selatan), Mamuju Tengah (Sulawesi Barat), Halmahera Timur (Maluku Utara), serta Pulang Pisau dan Kapuas (Kalimantan Tengah).

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Bambang Sugiarto mengatakan produksi pisang di Indonesia pada 2020 sebesar 8.182.756 ton, meningkat 12,4 persen dari tahun sebelumnya. Pisang merupakan komoditas unggulan ekspor Indonesia yang selalu didorong dalam kerjasama internasional. Potensi tujuan ekspor pisang Indonesia adalah Jepang, Timur Tengah, Malaysia, Korea, Belanda, China, Australia, dan China.

Nilai ekpor pisang terbesar ke Jepang yaitu 1,348 juta USD tahun 2020. Namun share Indonesia di pasar Jepang hanya 0,16%. “Kami mohon penelitian terkait permasalahan kenapa kita tidak mampu bersaing ke Jepang. Selain harga juga karena faktor lalat buah. Ini menjadi kendala dalam mengekspor pisang, padahal Jepang pasarnya sangat bagus,” terangnya.

Untuk mendorong peningkatan ekspor pisang, Bambang berharap pengembangan 71 kawasan hortikultura pisang seluas 1.300 hektar diarahkan untuk tujuan ekspor. Pengembangan kawasan pisang tersebut harus didorong untuk menggunakan pestisida hayati agar bisa dikendalikan sejak awal sehingga tidak ada bahan kimia pada pisang dan bebas dari lalat buah.

Pihaknya juga mendorong pengembangan pisang-pisang khusus misalnya pisang raja, barangan, raja bulu, pisang mas kirana, dan lain-lain. Menurut Bambang, salah satu kendala mengapa pisang barangan tidak bisa masuk pasar internasional karena ada bintik-bintik sehingga kurang disukai, padahal rasanya sangat enak. Untuk itu, ia berharap Balitbu Tropika melakukan penelitian untuk menghilangkan bintik-bintik pada pisang barangan.

Webinar ini juga menghadirkan Luthfiany Azwawie, Head of Product Management and Marketing, PT Sewu Segar Nusantara (PT SSN) yang memaparkan prospek pemasaran pisang untuk pasar modern dan tradisional. PT SSN merupakan perusahaan distribusi dan pemasaran buah-buahan segar di Indonesia dengan merek SUNPRIDE.

Kepala Balitbu Tropika, Ellina Mansyah mengatakan Bincang Buah Tropika Online ini merupakan sesi terakhir yang membahas permasalahan pisang. Kegiatan ini tercatat sebagai salah satu agenda untuk partisipasi Indonesia dalam memeriahkan Tahun Buah dan Sayur Internasional 2021.