Kementan Serap 1 Juta Telur Ayam Peternak

Tajuk.co 1/11/2021 15:00 WIB
image
Harga telur di tingkat peternak anjlok dibawah Rp19 ribu per kg. Kementan serap 1 juta butir telur ayam peternak. (foto: Liputan6)

JAKARTA, Tajuk.co – Anjloknya harga telur ayam mendorong Kementerian Pertanian melakukan operasi pasar dengan menyerap satu juta butir atau setara dengan 62,5 ton telur ayam ras dari peternak. Langkah tersebut untuk membantu stabilisasi harga, melalui strategi intervensi harga jangka pendek. Saat ini harga di tingkat peternak anjlok hingga di bawah acuan harga Rp 19 ribu-Rp 21 ribu per kg.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Nasrullah,  Senin (1/11/20210 di Jakarta mengatakan, telur tersebut diserap dari para UMKM yang berada di sentra telur wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Lampung. Kementan membeli telur dari berbagai sentra produksi dengan harga Rp19 ribu per kg.

Selanjutnya, Kementan akan membagikannya kepada para PNS di lingkungan Kementan, yayasan, panti asuhan, serta berbagai pihak yang membutuhkan. Menurut Nasrullah, kemarin sudah 30 ton telur ayam ras yang dibagikan kepada seluruh karyawan sebagai bentuk upaya perbaikan gizi.

Lebih jauh Nasrullah mengatakan, pemerintah akan bergerak untuk menyerap komoditas pangan jika harganya di bawah harga acuan. Penyerapan telur dari peternak rakyat akan dilakukan terus oleh Kementan hingga harga membaik.

"Hal yang terpenting, kita dapat berupaya mengurangi efek fluktuasi harga yang menekan harga telur dan merugikan peternak," jelas Nasrullah.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengeklaim, saat ini harga telur ayam ras perlahan mulai naik. Ia menyebut, harga mulai menyentuh Rp 17 ribu per kilogram (kg) di tingkat peternak, mendekati level harga batas bawah acuan Kementan sebesar Rp 19 ribu per kg.

"Kita (Kementan) ambil 1 juta butir, ini langkah yang tidak mudah," kata Syahrul.

Ia memastikan, penurunan harga yang terjadi beberapa waktu terakhir murni karena permintaan masyarakat yang turun secara drastis. Pasalnya, tingkat produksi telur saat ini, menurut Syahrul, masih dalam kondisi normal seperti sebelum masa pandemi.

"Perencanaan kita pada 2021 sebanyak 5,52 juta ton produksi telur dan yang dikonsumsi 5,48 juta ton. Memang ada kelebihan, tapi ini normal. Harga turun karena daya beli yang lemah akibat Covid-19 sudah dua tahun," kata Syahrul.

Melihat tingkat permintaan telur yang sedang lemah, Syahrul menyampaikan, pemerintah tidak berencana untuk mengurangi produksi telur. Menurutnya, langkah pemangkasan produksi telur justru berbahaya bagi situasi pasar dalam negeri. Dia mengatakan, Kementan akan menempuh cara lain untuk bisa membantu meningkatkan harga telur milik peternak agar mampu bertahan di situasi pandemi.

"Kita akan terus antisipasi dan hitung-hitungan kita tidak boleh salah," ujarnya. (KSL)