75 Tahun PMI Kisah Heroik Para Relawan PMI di Tengah Covid-19

Tajuk.co 17/9/2020 00:23 WIB
image
Webinar 75 Tahun PMI "Kisah Para Pejuang Kemanusiaan."

Tajuk.co, JAKARTA – Menyambut hari Palang Merah Indonesia (PMI) ke-75 yang jatuh pada 17 September 2020, Institut Harkat Negeri (IHN) menggelar webinar tentang “Kisah Para Pejuang Kemanusiaan” lembaga kemanusiaan yang dipimpin oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tersebut, pada Rabu (16/9/2020).

Empat orang relawan PMI berkesempatan menceritakan pengalamannya berjibaku membantu masyarakat yang terkena bencana alam di tengah pandemi Covid-19.

Tata Nursita misalnya, relawan PMI Maluku Utara ini berkisah bagaimana dia sampai terpapar Covid-19 dan terpaksa menjalani masa karantina yang cukup berat bersama ibundanya yang juga terpapar Covid-19.

“Pada bulan April 2020 memang saya banyak melakukan pendampingan masyarakat yang terkena Covid-19,” kata Tata.

Tata sendiri kurang tahu dia terpapar dari klaster apa. “Tetapi yang paling berat sebetulnya faktor psikologis karena selain harus menghadapi Covid-19 juga stigma masyarakat yang ketakutan terpapar juga, sehingga mereka cenderung mengucilkan,” katanya.

Beruntung setelah menjalani pengobatan dan menjalani tes-tes di karantina, Tata yang telah aktif menjadi relawan PMI sejak 2012 ini dinyatakan sembuh.

Dwi Suryanto yang sudah 19 tahun menjadi relawan PMI Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki pengalaman yang seumur-umur belum pernah dia lakukan, yaitu mengurusi jenazah , bahkan jenazah spesial yakni korban Covid-19.

“Bersama tim relawan PMI yang lain, saya membawa jenazah korban Covid-19 memakai ambulance hingga menuburkannya di pemakman khusus,” kata Suryanto.

Hingga Agustus 2020, sedikitnya sudah 36 jenazah korban covid-19 yang dia urusi. “Sebagai manusia normal, pada awalnya perasaan takut tertular dan lain sebagainya pasti ada. Beruntung teman-teman PMI saling menguatkan,” ujarnya.

Begitu juga dengan pengalaman Andi Aswady, relawan PMI dari Luwu Utara. Saat Covid-19 melanda, Luwu Utara justeru terkena banjir bandang. Pada saat keharusan melakukan protokol kesehatan, di sisi lain dia bersama relawan PMI lainnya merasa terpanggil melakukan evakuasi korban banjir di tengah lumpur berkedalaman hingga dada orang dewasa.

“Sangat sulit sekali melakukan protokol kesehatan, sebab mau tidak mau kami harus bersentuhan dengan  para korban banjir. Kami beruntung setelah dilakukan rapid test tidak ada satu orang pun yang terpapar Covid-19,” ujarnya.

Berbeda dengan pengalaman Muhammad Waly, relawan PMI dari Lhokseumawe, Aceh. Saat Covid-19 melanda, dia dan teman-temannya berjibaku menolong ratusan imigran dari Myanmar yang terdampar di pantai Aceh.

“Menolong 386 imigran dari Myanmar yang sebagian besar wanita dan anak-anak ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Sebab, sebelumnya kami di PMI Aceh belum pernah melakukan tugas kemanusiaan menolong para pengungsi,” kata Alwy.

Alwy mengaku sangat berterima kasih atas dukungan dan arahan dari PMI Pusat untuk menjalankan tugas kemanusiaan tersebut.

Sudirman Said, Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) yang bertindak sebagai moderator dan juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PMI Pusat menambahkan bahwa pada saat terjadi perdebatan antara keharusa menolong atau tidak para pengungsi Myanmar, Ketua Umum PMI Pusat Jusuk Kalla mengingatkan bahwa Indonesia memiliki Sila Kedua dari Pancasila, yakni “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.”

“Dengan ungkapan Pak  JK ini akhirnya para pemegang kebijakan memutuskan untuk membantu para pengungsi Myanmar tersebut,” kata Sudirman Said.

Senada dengan Sudirman Said, Ketua Bidang Relawan PMI Pusat Sasongko Tedjo mengatakan bahwa itulkah gambaran PMI. PMI tidak hanya berususan dengan donor darah, tetapi juga kerja-kerja kemanusiaan lainnya.

“Bahkan Pak JK selalu mengatakan, PMI harus selalu hadir di setiap bencana,” kata Sasongko.

Menurutnya, apa yang telah dilakukan para relawan PMI di tengah pandemi Covid-19, merupakan wujud implementasi nilai-nilai kemanusiaan.

“Penanganan mayat-mayat korban Covid-19 dan bencana alam di berbagai tempat di Indonesia itu banyak mendapat apresiasi dari berbagai pihak,” tuturnya.

Pernyataan Sasangko ini terkonfirmasi oleh hasil penelitian Lembaga Survey Kedai Kopi. Hendri Satrio, Pendiri Kedai Kopi menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelitian pada bulan Juni 2020 lalu, masyarakat mulai mengenal PMI tidak semata sebagai lembaga donor darah, tetapi banyak juga yang telah mengenal PMI sebagai lembaga kemanusiaan yang banyak membantu masyarakat yang terkena bencana alam, termasuk masyarakat yang menjadi korban Covid-19.

Prosentasenya memang masih banyak masyarakat yang mengenal PMI sebagai lembaga donor darah, karena memang kerja kemanusiaan ini telah dilakukan PMI selama 75 tahun.

“Dari 1.208 responden yang diambil secara random dan proporsional, 59,3 persen mengenal PMI sebagai lembaga donor darah, 12,4 persen lembaga kesehatan, dan 7,3 persen lembaga bantuan kemanusiaan,” kata Hendri Satrio yang juga pakar komunikasi ini. (HAS)