KPK Terima Laporan Erick Thohir Terkait Dugaan Korupsi di Krakatau Steel

Tajuk.co 30/9/2021 10:20 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menerima laporan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir terkait dugaan korupsi di salah satu anak perusahaan plat merah, Krakatau Steel.

"Informasi yang kami peroleh, benar KPK telah menerima aduan dimaksud. Kami pastikan bahwa setiap aduan akan ditindaklanjuti dengan lebih dulu melakukan verifikasi dan telaah terhadap data laporan," kata Plt. Juru Bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (29/9).

Ali berkata pihaknya telah menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pemerintah, termasuk BUMN dan BUMD lewat aplikasi Whistleblowing System Terintegrasi. Menurutnya, sistem itu memungkinkan masyarakat bisa melaporkan aduan dengan cepat, mudah, dan kerahasiaan identitas tetap terjamin.

Menurut Ali, pengaduan masyarakat yang dilengkapi data valid akan sangat membantu KPK melakukan analisis tindak lanjut.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengendus dugaan korupsi di PT Krakatau Steel Tbk (Persero). Indikasi itu merujuk pada utang perusahaan yang mencapai US$2 miliar atau Rp28,515 triliun (Kurs Rp14.257 per dolar AS).

"Krakatau Steel, punya utang US$2 miliar. Salah satunya investasi US$850 juta dari proyek blast furnace yang hari ini mangkrak. Pasti ada indikasi korupsi," kata Erick dalam Talkshow Bangkit Bareng, Selasa (28/9).

Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim angkat suara terkait pernyataan Erick. Silmy menyebut terjadi tren kenaikan utang sejak 2011 sampai 2018. Jika diakumulasi jumlahnya sebesar Rp31 triliun.

Menurut Silmy, utang tersebut disebabkan pengeluaran investasi yang belum memberikan hasil sesuai target perusahaan lewat proyek blast furnace yang diinisiasi pada 2008 silam. Lebih lanjut, pihaknya kini menaruh perhatian terkait dugaan korupsi yang disebut Erick.

"Kaitan adanya indikasi penyimpangan atau korupsi di masa lalu tentu menjadi perhatian manajemen. Fokus saya ketika bergabung adalah mencarikan solusi dan melihat ke depan agar Krakatau Steel bisa selamat terlebih dahulu," kata dia, Selasa (28/9). (FHR)