KY Minta Publik Tak Intervensi Putusan Hakim Atas Penyerang Novel Baswedan

Tajuk.co 3/7/2020 19:45 WIB
image
Ketua Komisi Yudisial (KY) Jaja Ahmad Jayus. Foto: bpp/tajuk.co

Tajuk.co, JAKARTA - Ketua Komisi Yudisial (KY) Jaja Ahmad Jayus meminta kepada semua pihak termasuk masyarakat untuk tidak mengintervensi putusan hakim atas terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan.

"Siapapun tidak boleh intervensi, KY atau siapapun tidak boleh intervensi. Hakim harus memutus sesuai fakta di persidangan," tegas Jaja di sela kesempatannya menyambangi kantor KPK, Jakarta, Jumat (3/7/2020).

Lebih lanjut Jaja menuturkan jika dirinya sempat melakukan pemantauan sidang kasus penyiraman air keras tersebut.

Sebagai Ketua KY ia pun meminta, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang mengurus perkara tersebut dapat memutus sesuai fakta persidangan.

"Saya pernah melakukan pemantauan sekali ya, selama proses itu sesuai fakta hukum di persidangan, KY tentunya memberikan para hakim memutus sesuai fakta hukum di persidangan," ungkapnya.

Jaja menegaskan KY turut melakukan pemantauan jalannya proses persidangan tersebut. Pemantauan itu dilakukan dengan turun langsung ke ruang sidang secara daring.

"Karena ada sidang virtual disiarkan secara media elektronik, selain pantau langsung juga kita pantau media elektronik," ucapnya.

Dikatakan Jaja, pihaknya menerima laporan permintaan pemantauan persidangan kasus penyerangan terhadap Novel. Pemantauan itu dilakukan tidak lain untuk menemukan adanya unsur kejanggalan dalam sidang tersebut.

"Setiap yang menjadi konsumsi publik, KY selalu pantau," jelasnya.

Jika terdapat pihak-pihak yang nantinya merasa kurang puas akan vonis hakim, Jaja menyarankan untuk melakukan upaya hukum lain seperti banding dan kasasi.

"Kalau nggak puas terhadap putusan, silakan banding dan kasasi," tukas Jaja.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) akan membacakan vonis terhadap Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis selaku terdakwa penyerang penyidik KPK Novel Baswedan pada 16 Juli mendatang.

"Majelis hakim telah sepakat dan bermusyawarah untuk putusan nanti akan diagendakan pada Kamis, 16 Juli 2020 pada pukul 10.00 WIB," kata Ketua Majelis Djumyanto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (29/6/2020).

Sidang tersebut mendapat sorotan tajam lantaran Jaksa Penuntut Umum yang semestinya membela korban, justru menuntut hakim memvonis pelaku dengan hukuman satu tahun penjara.

Padahal, imbas dari kejadian teror tersebut membuat mata Novel Baswedan khususnya sebelah kiri tak lagi berfungsi.(BPP)