Mendagri Kaji Usulan Serangan Umum 1 Maret Jadi Hari Penegakan Kedaulatan Negara

Tajuk.co 2/11/2021 09:49 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian berjanji mematangkan usul soal Serangan Umum 1 Maret diperingati sebagai hari besar nasional. Usul itu telah diajukan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X sejak 2018.
Tito telah menemui Sultan di Yogyakarta hari ini. Tito akan segera menginisiasi pembentukan Panitia Antar Kementerian (PAK) untuk mengkaji usulan tersebut.

"Tadi kami mendiskusikan dan membahas mengenai usulan dari Bapak Gubernur terkait Peristiwa Serangan Umum Jogjakarta, 1 Maret, sebagai Hari Besar Nasional. Beliau mengusulkan namanya Hari Penegakan Kedaulatan Negara, ini kami juga melakukan kajian," kata Tito dalam keterangan tertulis, Senin (1/11).

Tito berpendapat Serangan Umum 1 Maret pada 1949 telah menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Momen itu juga berdampak strategis kepada pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949.

Meski demikian, ia tak bisa serta-merta menerima usulan Sultan Hamengku Buwono X. Menurutnya, penetapan hari besar nasional harus melewati prosedur yang telah diatur dalam perundang-undangan.

"Kemendagri prinsipnya menghormati peristiwa itu, tapi Kemendagri bukan pengambil keputusan yang utama karena harus ada rapat kementerian. Setelah itu, hasil rapat ini yang utama bagaimana meyakinkan dan setelah itu dinaikkan ke Bapak Presiden," ujarnya.

Tito menyarankan Pemprov D.I. Yogyakarta untuk menyiapkan naskah akademik. Ia meminta naskah itu disertai oleh fakta-fakta sejarah yang lengkap.

"Kami dari Kemendagri kemudian mem-follow up. Dengan dasar ini, nanti kami akan ajukan kepada Mensesneg untuk segera melakukan rapat panitia antarkementerian," ujarnya.

Serangan Umum 1 Maret terjadi di Yogyakarta pada tahun 1949. Saat itu, Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menduduki Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu. Mereka pun membuat propaganda yang menyatakan TNI telah tiada.

Dikutip dari situs Kemendikbud, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bersurat kepada Letnan Jenderal Soedirman. Ia meminta izin untuk melakukan serangan besar-besaran.

Pada 1 Maret 1949 pagi, serangan besar-besaran dimulai. Pasukan Indonesia menyerbu sekitar pukul 06.00. Perang dapat dimenangkan hanya dalam waktu 6 jam.

Serangan itu membuat posisi tawar Indonesia di meja perundingan menjadi tinggi. Serangan Umum 1 Maret menunjukkan bahwa Tentara Nasional Indonesia masih ada. (FHR)