Mendikbud Nadiem Targetkan 75 Ribu Guru untuk Ikuti Program Bimbingan TIK

Tajuk.co 15/4/2021 22:05 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menargetkan 75 ribu guru mengikuti pelatihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada 2021.

"Tahun ini kami menargetkan 75 ribu [guru] untuk mengikuti program bimbingan teknis [TIK]," tutur Nadiem dalam acara yang disiarkan langsung di Youtube Kemendikbud RI, Kamis (15/4).

Nadiem menjelaskan guru yang mengikuti pelatihan akan melalui empat tahapan pengembangan TIK. Pada tingkat pertama guru bakal belajar terkait literasi TIK, kedua implementasi TIK, ketiga kreasi TIK dan keempat berbagi dan berkolaborasi menghasilkan materi belajar dengan TIK.

Menurut Nadiem, pentingnya pelatihan guru terkait TIK dibuktikan ketika pandemi Covid-19 berdampak pada pendidikan dan membatasi pembelajaran tatap muka.

Dan meskipun saat ini sekolah sudah bersiap melakukan pembelajaran tatap muka, kata dia, guru masih dituntut menyediakan pendidikan jarak jauh secara luring atau daring, sehingga literasi digital penting dimiliki guru.

Namun di luar itu, Nadiem menekankan ketangkasan dalam memahami teknologi menjadi kriteria penting yang dia cari pada Guru Penggerak. Diketahui, Guru Penggerak adalah program pelatihan guru besutan Nadiem yang dapat mempercepat jalur guru menjadi kepala sekolah.

"Guru yang memiliki kemampuan untuk memaksimalkan potensi diri dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran merupakan salah satu kriteria terpenting guru penggerak," lanjut dia.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kemendikbud Ainun Naim mengatakan pelatihan ini diikuti guru dari seluruh provinsi. Kemendikbud mencatat tahun 2020 terdapat 70 ribu guru yang dilatih TIK.

"Output Pembatik (Pelatihan Berbasis TIK) ini adalah terlatihnya guru-guru Indonesia dalam pemanfaatan Iptek dalam pembelajaran. Itu juga berarti guru-guru kita dapat memanfaatkan Iptek dalam mendidik para anak didik," ucap Ainun.

Mayoritas sekolah terpaksa ditutup selama setahun lebih pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Selama itu, sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh berbasis daring.

Namun pelbagai survei maupun pantauan pihak terkait di dunia pendidikan menemukan masih banyak kendala dalam PJJ. Selain perkara kekurangan fasilitas dan jaringan internet, kemampuan guru juga menjadi persoalan.

Pada sejumlah sekolah, pembelajaran daring terbatas hanya menggunakan jejaring Whatsapp atau aplikasi percakapan lainnya. Alasannya ada yang karena kesulitan jaringan, namun juga ada yang karena keterbatasan literasi digital.

Semua sekolah pada Juli 2021 sendiri targetkan menyediakan dua opsi pembelajaran, yakni belajar tatap muka dan pembelajaran jarak jauh dengan metode daring atau luring. (FHR)