Menjaga Risiko Keamanan Pangan Produk Bioteknologi Modern

drh. Pudjiatmoko, Ph.D 4/11/2022 13:25 WIB
image

Penggunaan Bioteknologi modern bidang pangan bertujuan memperbaiki dan memperluas pengelolaan sumber daya alam secara efisien, untuk menghasilkan produk pangan yang bermutu, aman, dan berkelanjutan, guna mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.  Namun risiko keamanannya perlu diawasi oleh pemerintah yang dibantu oleh Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (PRG).  Komisi ini selalu bekerja hati-hati dalam memberi rekomendasi kepada Menteri terkait kebijakan pangan produk PRG.

Pada saat ini, petani atau peternak bisa mendapatkan bibit tanaman atau ternak dengan sifat-sifat khusus seperti peningkatan resistensi serangga atau toleransi herbisida, atau pemuliaan ternak dengan cara yang terkendali, sehingga dapat mengembangkan tanaman pangan dan ternak unggul, serta memproduksi pangan yang diinginkan dengan cara rekayasa genetik. Namun, produk bioteknologi ini juga menimbulkan kekhawatiran para konsumen terutama terkait keamanan produk yang dihasilkannnya. Sehingga perlu dilaksanakan pengaturan terkait kemanan produknya.

Produk bioteknologi diatur dengan Codex

Indonesia telah terlibat dalam kegiatan pengembangan Standar Codex, sejak tahun 1971.  Sudah banyak pangan dan tingkat keamanan pangan yang diterima secara umum oleh masyarakat, hal ini mencerminkan konsumsi pangan manusia yang aman. Mitigasi bahaya yang terkait dengan pangan harus mengikuti pada Standar Codex dalam melakukan analisis risiko untuk menilai potensi dan manajemen risikonya.

Produk bioteknologi diatur dengan Codex terutama berkaitan dengan aspek penilaian risiko keamanan pangan.  Penilaian risiko mencakup penilaian keamanan, yang dirancang untuk mengidentifikasi adanya bahaya, masalah nutrisi atau keamanan, dan jika ada, dilanjutkan mengumpulkan informasi tentang sifat dan tingkat keparahannya.

Penilaian keamanan harus membandingkan antara pangan produk bioteknologi modern dan pangan konvensional. Penilaian fokus pada penentuan persamaan dan perbedaannya. Codex telah mengembangkan teks yang relevan untuk pelabelan pangan produk bioteknologi modern.  Kita perlu mencermati prinsip analisis risiko keamanan pangan produk bioteknologi modern menurut CODEX pada CAC / GL 44-2000.

tempe_biotek

Kedelai yang menjadi bahan baku tempe, tahu dan aneka produk makanan dan minuman lainnya, di sejumlah negara sudah menggunakan rekayasa genetika 

Mitigasi bahaya pangan PRG

Tingkat keamanan pangan yang diterima secara umum oleh masyarakat mencerminkan riwayat konsumsi pangan manusia yang aman. Dalam banyak kasus, pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola risiko yang terkait dengan pangan telah diperoleh dengan riwayat penggunaannya. Makanan umumnya dianggap aman setelah mengalami perlakuan tertentu selama pengembangan, produksi primer, pemrosesan, penyimpanan, penanganan, dan persiapannya.

Mitigasi bahaya terkait dengan pangan harus mengikuti analisis risiko pada Codex Alimentarius Commission dalam penilaian potensi risiko dan, jika perlu, mengembangkan pendekatan manajemen risiko. Pelaksanaan analisis risiko mengikuti keputusan umum Komisi Codex Alimentarius dan Prinsip Kerja Analisis Risiko Keamanan Pangan.

Meskipun analisis risiko telah digunakan dalam jangka waktu yang lama untuk mengatasi: (a) bahaya kimiawi (misalnya residu pestisida, kontaminan, bahan tambahan makanan, dan alat bantu pemrosesan); dan (b) semakin sering digunakan untuk mengatasi bahaya mikrobiologis; dan (c) prinsip faktor nutrisi untuk seluruh pangan.

Pendekatan analisis risiko, secara umum, dapat diterapkan pada pangan termasuk produk dari bioteknologi modern. Namun, diakui bahwa pendekatan ini harus dimodifikasi saat diterapkan pada pangan utuh terhadap bahaya yang mungkin ada dalam pangan.

Prinsip “Bioteknologi Modern”

Prinsip ini bertujuan membuat kerangka kerja analisis risiko pada aspek keamanan dan gizi pangan produk bioteknologi modern.

Prinsip “Bioteknologi Modern” ditegakkan melalui penerapan: (a) Teknik asam nukleat in vitro, termasuk DNA rekombinan dan injeksi asam nukleat ke dalam sel atau organel, atau (b) Fusi sel (peleburan dua sel) di luar keluarga taksonominya, untuk mengatasi hambatan reproduksi fisiologis alami atau rekombinan, dan yang bukan teknik pemuliaan dan seleksi konvisional.

Sedangkan “Teknik konvensional” dalam penetapan keamanannya bahwa organisme / varietas terkait, komponen dan / atau produknya berdasarkan “Sudah lazim digunakan sebagai makanan”.

Penilaian risiko keamanan pangan

Penilaian risiko mencakup penilaian keamanan, yang dirancang untuk mengidentifikasi bahaya, masalah nutrisi atau masalah keamanan lainnya, dan jika ada, perlu mengumpulkan informasi tentang sifat dan tingkat keparahannya. Penilaian keamanan harus mencakup perbandingan antara pangan produk bioteknologi modern dan pangan konvensional, berfokus pada penentuan persamaan dan perbedaan. Jika terdapat masalah bahaya nutrisi atau keamanan lainnya maka diidentifikasi dengan penilaian risiko terkait keselamatan manusia.  Maka dari itu perlu diidentifikasi untuk menentukan relevansinya dengan kesehatan manusia.

Penilaian keamanan dilakukan dengan penilaian seluruh pangan atau komponennya terhadap pangan konvensional yang sesuai: a) memperhitungkan dampak yang disengaja dan tidak disengaja; b) mengidentifikasi bahaya baru; c) mengidentifikasi perubahan kandungan nutrisi utama yang relevan dengan kesehatan manusia.

Penilaian keamanan pra-pasar harus dilakukan mengikuti pendekatan terstruktur dan terintegrasi yang dilakukan atas dasar kasus per kasus. Data dan informasi berdasarkan ilmu pengetahuan yang memadai, diperoleh dengan menggunakan metode yang tepat dan dianalisis dengan teknik statistik yang sesuai, harus memiliki kualitas dan kuantitas yang sesuai, serta tahan menurut tinjauan ilmiah para pakar.

Penilaian risiko harus diterapkan pada semua aspek yang relevan dari pangan yang berasal dari bioteknologi modern. Pendekatan penilaian risiko untuk pangan ini didasarkan pada pertimbangan data dan informasi multidisiplin berbasis ilmu pengetahuan dengan mempertimbangkan persyaratan yang disebutkan dalam pedoman yang telah ditentukan.

Data ilmiah untuk penilaian risiko umumnya diperoleh dari berbagai sumber, seperti pengembang produk, literatur ilmiah, informasi teknis umum, ilmuwan independen, badan pengatur keamanan pangan, badan internasional, dan pihak berkepentingan lainnya. Data harus dinilai dengan menggunakan metode penilaian risiko berbasis sains yang sesuai.

Pengkajian risiko harus mempertimbangkan semua data dan informasi ilmiah yang tersedia yang berasal dari prosedur pengujian yang berbeda, asalkan prosedur tersebut secara ilmiah baik, dan parameter yang diukur sebanding.

handling-food-safety

Penanganan makanan secara aman atau handling food safety menjadi bagian sangat penting bagi pelaku usaha di sektor makanan dan minuman.

Manajemen risiko keamanan pangan

Tindakan manajemen risiko untuk pangan produk bioteknologi modern harus proporsional dengan risiko, berdasarkan hasil penilaian risiko dan, jika relevan, dengan mempertimbangkan aturan resmi lainnya sesuai dengan pedoman Codex : (a) Keputusan Umum Komisi Codex Alimentarius ; (b) Prinsip Kerja Analisis Risiko Keamanan Pangan.

Harus diakui bahwa tindakan manajemen risiko yang berbeda mungkin mampu mencapai tingkat perlindungan yang sama sehubungan dengan pengelolaan risiko yang terkait dengan dampak keselamatan dan gizi pada kesehatan manusia.

Pimpinan manejemen risiko harus mempertimbangkan ketidakpastian yang diidentifikasi dalam penilaian risiko dan menerapkan langkah-langkah yang tepat untuk mengelola ketidakpastiannya.  Langkah-langkah manajemen risiko dapat mencakup, jika sesuai, kondisi pelabelan pangan untuk persetujuan pemasaran dan pemantauan pasca pasar.

Pemantauan pasca pasar mungkin merupakan tindakan manajemen risiko yang tepat dalam keadaan tertentu. Kebutuhan dan kegunaannya harus dipertimbangkan, atas dasar kasus per kasus selama penilaian risiko. Harus mempertimbangkan kepraktisannya selama manajemen risiko.  Pemantauan pasca pasar dapat dilakukan dengan tujuan: a) memverifikasi kesimpulan tentang tidak adanya atau kemungkinan terjadinya, dampak dan besarnya dampak kesehatan terhadap konsumen utama; dan b) memantau perubahan tingkat asupan gizi, terkait dengan pemberian pangan baru yang kemungkinan besar akan mengubah status gizi, untuk menentukan dampak kesehatan manusia.

Alat khusus mungkin diperlukan untuk memfasilitasi penerapan dan penegakan tindakan manajemen risiko.  Contohnya metode analisis yang tepat; bahan referensi; dan, penelusuran produk untuk tujuan memfasilitasi penarikan dari pasar ketika risiko terhadap kesehatan manusia telah diidentifikasi.

Kerangka peraturan yang transparan harus disediakan dalam mengkarakterisasi dan mengelola risiko yang terkait dengan pangan yang berasal dari bioteknologi modern. Kerangka peraturan ini harus mencakup konsistensi persyaratan data, kerangka penilaian, tingkat risiko yang dapat diterima, mekanisme komunikasi dan konsultasi, serta proses pengambilan keputusan yang tepat waktu.

Komunikasi risiko

Komunikasi risiko yang efektif sangat penting di semua fase penilaian risiko dan manajemen risiko. Ini merupakan proses interaktif yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan, termasuk pemerintah, industri, akademisi, media, dan konsumen.

food safety

Komunikasi risiko harus mencakup penilaian risiko dan proses pengambilan keputusan manajemen risiko yang transparan. Proses ini harus didokumentasikan secara lengkap di semua tahap dan terbuka untuk pengawasan oleh publik, dengan tetap menghormati dokumen resmi untuk menjaga kerahasiaan informasi komersial dan industri. Secara khusus, laporan yang disiapkan tentang penilaian risiko dan aspek lain dari proses pengambilan keputusan harus tersedia untuk semua pihak yang berkepentingan.

Komunikasi risiko yang efektif harus mencakup proses konsultasi yang responsif. Proses konsultasi harus interaktif. Pandangan dari semua pihak yang berkepentingan harus dikumpulkan dan masalah keamanan pangan dan gizi yang relevan yang diangkat selama konsultasi harus ditangani selama proses analisis risiko.

Menyadari laju perkembangan yang pesat di bidang bioteknologi, pendekatan penilaian keamanan pangan produk bioteknologi modern harus ditinjau ulang untuk memastikan bahwa informasi ilmiah yang baru muncul dimasukkan ke dalam analisis risiko. Ketika tersedia informasi ilmiah baru yang relevan dengan penilaian risiko, maka penilaian harus ditinjau untuk memasukkan informasi tersebut sehingga tindakan manajemen risiko menjadi lebih efektif.

Sebagai saran dalam rangka menyebarluaskan kegiatan Codex dan hasil-hasil yang telah dicapai Codex, serta penanganan dan partisipasi Indonesia dalam forum Codex, Badan Sstandarisasi Nasional (BSN) perlu meningkatkan Sosialisasi Standar Codex dan Penanganannya di Indonesia kepada stakeholder di bidang pangan, khususnya industri pangan dan instansi pemerintah yang memiliki tugas dan kewenangan di bidang pangan.