Mutammimul Ula, Sebuah Kesederhanaan dan Visi Lahirkan Generasi Alquran

Tajuk.co 7/5/2020 12:42 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- Salah satu tokoh Islam di Jakarta Mutammimul Ula berpulang pada usia 64 tahun tanggal 14 Ramadhan 1441 Hijriah atau 7 Mei 2020 pukul 07.56 WIB.

Wafatnya sosok ustadz yang dipanggil Ustadz Tamim ini sontak mengalirkan bela sungkawa dari banyak pihak. Maklum, Ustadz Tamim adalah sosok yang sudah lama berkecimpung dalam dunia aktivisme dan dakwah.

Sosoknya semakin berkibar saat ia dan istrinya Wirianingsih berhasil mendidik 10 anak-anaknya menjadi penghafal Alquran. Kisahnya viral. Perjuangannya mendidik anak menjadi inspirasi. Terlebih kini sedang laku-lakunya semangat orang tua memiliki anak penghafal Alquran. Ustadz Tamim adalah pionir inspirasi. Bagaimana berhasil mencetak 10 anak sebagai penghafal Alquran.

Masa muda Tamim adalah masa muda aktivisme. Ia menamatkan SMA di Al Islam Solo. Salah satu SMA Islam terbaik di Kota Solo, hingga hari ini. Masa Mudanya ia habiskan untuk aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Puncaknya ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar PII masa bakti 1983-1986.

Tamim adalah pejuang hukum. Usai menyelesaikan sarjana hukum di Universitas Diponegoro, ia menuntaskan magister hukum di Universitas Jayabaya. Paduan jiwa aktivis dan aktivitas di dunia hukum membawanya untuk mendirikan Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM).

Dari segudang pengalamannya di dunia aktivis, Tamim melenggang ke Senayan. Sebagai anggota Dewan sejak 1999-2009. Meski duduk sebagai wakil rakyat di tingkat pusat, tidak ada yang berubah dari Tamim. Salah satu ciri khasnya adalah: sederhana.

Satu kisah tentang kesederhanaannya dituturkan oleh Raden Wisnugroho dalam laman Facebooknya saat memberikan obituari kepergian Tamim.

Raden adalah aktivis PII. Saat itu ia meminta Tamim menjadi pembicara acara PII di Kebumen, Jawa Tengah. Tamim, saat itu sudah duduk sebagai Anggota DPR RI.

Datang ke Kebumen menggunakan mobil pribadi, bukan pesawat. Bergantian di kemudi dengan sopir pribadinya. Sesampainya di Kebumen, hanya disiapkan penginapan seadanya.

"Sesampai di Kebumen pagi, minta dicarikan tempat istirahat. Kucarikan penginapan sederhana. Dan beliau istirahat di situ. Tanpa babibu," kenang Raden.

Kisah kesederhanaannya tak sampai disitu. Pendidikan tentang kesederhanaan juga ia berikan kepada anak-anaknya. Raden melanjutkan kisahnya suatu hari ia diajak Tamim pergi ke Solo. Tamim yang menyupir.

Mereka berdua sampai ke SOlo di area pertengahan sawah, malam-malam. Setelah sampai di sawah, mereka berjalan kaki melewati pematang menuju mushala di tengah sawag.

"Ternyata di Mushalla itu, anaknya mas Tamim tinggal menjadi marbot. Ketika itu, dia masih sekolah di SMA AL Islam Solo. Semalam kami menginap di situ. Tidur di emperan Mushalla," ujar Raden.

Berhasil Melahirkan 10 Hafidz

Tamim dan istri sudah menjadi role model bagaimana melahirkan 10 hafidz Alquran dari rumah. Keluarganya memiliki motto Alquran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tamim dan istri mengajarkan Alquran kepada anak sejak usia 4 tahun. Keberhasilan pendidikan kuncinya di rumah, bukan sekolah. Keberhasilan pendidikan adalah hasil hasil integrasi kedua orang tuanya.

Suatu ketika Tamim mengungkapkan visinya sebagai kepala rumah tangga kepada istrinya. "Bu, Kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita sudah tidur, orang lain tidur kita sudah bangun. Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita."

Visinya menjadikan anak hafidz Alquran pun ditempuh dengan berkeliling Jawa dan Madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di Kudus. Saat itu belum banyak pesantren tahfidz modern seperti saat ini.

Tamim dan istri juga setiap hari memperdengarkan murattal di rumah. Mereka juga berkomitmen untuk hidup dengan buku. Ada ribuan koleksi buku di rumah mereka. Bagi keluarga ini kekayaan mereka adalah anak dan buku. Setiap liburan, anak-anak selalu diajak ke toko buku.

Kini sosok Tamim sudah berpulang. Semua merasa sangat kehilangan. Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid pun mendoakan agar Tamim menjadi ahli surga dengan semua kebaikan yang telah ia berikan semasa hidup.

“Semoga Allah karuniakan husnul khatimah untuk hamba-Nya yang sangat baik ini. Dan Allah Rahman Rahim berkenan memasukkan beliau ke surga-Nya al-Jannah, bersama para shalihin dan shiddiiqiin, bersama para awliyaa dan syuhadaa. Dan keluarga serta kami yg ditinggalkan,semoga dikaruniai ridha dan istiqamah untuk lanjutkan dakwah dan perjuangan Beliau. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu. Alfaatihah,” ujar Hidayat. (FHR)