Pengamat Sindir Tiga Menteri Rapor Merah Tak Kena Reshuffle

Tajuk.co 24/12/2020 07:50 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menyebut ada tiga menteri di Kabinet Indonesia Maju yang punya catatan rapor merah tapi masih dipertahankan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat reshuffle kabinet.

Ia pun menganggap Jokowi tidak berani mencopot ketiga menteri itu. Sekalipun menurut Ubedilah, dalam setahun ini, menteri-menteri tersebut sebetulnya tidak menunjukkan progres dalam program yang dijalankan.

"Sebenarnya menteri-menteri lain juga memiliki catatan rapor merah, tetapi Jokowi nampaknya tidak berani memberhentikannya. Misalnya Menko Manivest (Marves), Mendikbud dan Menteri Keuangan," kata Ubedilah dalam keterangan tertulis, Rabu (23/12).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan misalnya, kata dia, tidak menunjukkan kemajuan sesuai janji-janji soal investasi.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani, menurutnya juga perlu diganti karena angka pertumbuhan ekonomi yang terus merosot. Adapun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Ubedilah menyinggung masalah kurikulum yang bikin gaduh.

Terkait kurikulum, Nadiem sebelumnya memang mengatakan kurikulum baru akan diuji coba di sejumlah daerah pada tahun ajaran 2021/2022. Kurikulum ini bakal menginstruksikan guru untuk mengajar sesuai kemampuan siswa.

Rencana itu lalu menuai protes dari federasi guru juga pengamat pendidikan. Federasi Guru meminta Kemendikbud mengevaluasi Kurikulum 2013 terlebih dahulu sebelum memutuskan kurikulum baru. Sementara menurut pengamat pendidikan, wacana tersebut tidak tepat diterapkan di tengah pandemi Covid-19.

Namun begitu terkait reshuffle yang ditempuh Presiden Jokowi, Ubedilah mengakui memang ada sedikit efek kejut salah satunya melalui pergantian Menteri Kesehatan. Meski ia juga menyorot latar belakang Budi Gunadi Sadikin yang bukan dari bidang kesehatan.

Karena itu ia pun memperkirakan Menkes baru kemungkinan bakal menghadapi sejumlah masalah di internal kementerian dan perlu waktu yang cukup lama untuk memahami serta memetakan kondisi di Kemenkes.

"Posisi Menteri Agama juga nampaknya kurang tepat karena bukan berasal dari kekuatan NU yang sangat kultural," tambah dia.

Efek kejut lain yang Ubedilah singgung adalah masuknya Sandiaga Uno yang menerima tawaran Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta, Tri Rismaharini di kursi Menteri Sosial.

"Ada Risma yang memberi efek kejut sekaligus pelipur lara. Mungkin PDIP ingin kembali bangun citranya yang terpuruk akibat Mensos sebelumnya yang dari PDIP tersandung korupsi bansos," ucap dia.

Dalam perombakan kabinet kali ini, Ubedillah juga mencium adanya nuansa transaksional antara kekuatan politik di parlemen dan eksekutif dengan terpilihnya menteri baru dari partai.

"Satu catatan kritik saya sejak awal menyusun kabinet 2019 lalu bahwa Jokowi masih mengabaikan pentingnya assessment integritas calon menterinya. Jokowi tidak lagi menggunakan cara-cara ideal menyusun kabinet tetapi lebih dominan pertimbangan chemistry loyalitas dan pertimbangan kekuatan politik," tukas Ubedilah. (FHR)