Pengusaha Keberatan Usulan Kenaikan Upah Buruh Tahun Depan

Tajuk.co 6/9/2020 23:51 WIB
image
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang (foto: ist)

Tajuk.co, JAKARTA - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal meminta pemerintah menaikkan upah buruh sekurang-kurangnya 8 persen pada 2021.

Upah buruh tersebut meliputi Upah Minimum Provinsi (UMP), Upah Minimum Kabupaten atau Kota ( UMK), dan Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP).

Said Iqbal mengatakan, permintaan tersebut setara dengan kenaikan upah minimum dalam tiga tahun terakhir.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi minus dalam dua kuartal terakhir, tetapi daya beli masyarakat harus tetap dijaga. Dengan demikian, adanya inflansi harga barang tetap terjangkau dengan adanya kenaikan upah yang wajar,” kata Iqbal melalui siaran media di Jakarta, Jumat (4/9).

Menanggapi itu, Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta ( Kadin DKI Jakarta) mengakui keberatan atas usulan tersebut. Pasalnya, menurut Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, keberatan tersebut mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Peraturan tersebut mengatur mengenai skema penghitungan besaran kenaikan upah, dengan mengacu kepada realisasi inflasi dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

 "Kita dari pengusaha dengan berperdoman kepada PP 78 tahun 2015 agar kenaikan UMP,UMK atau UMSP tahun 2021 adalah 0 persen atau tidak ada kenaikan dengan memperhatikan kondisi yang dihadapi pengusaha saat ini," tutur Sarman, dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9/2020).

Menurut Sarman, dengan realisasi pertumbuhan ekonomi terkontraksi hingga 5,32 persen pada kuartal II 2020 dan potensi resesi yang semakin nyata, sudah sepantasnya tidak jadi kenaikan upah minimum pada 2021. "Dan pekerja juga sangat mengerti kondisi cashflow pengusaha,makanya banyak pekerja/buruh yang tidak meminta berbagai fasilitas yang selama ini didapatkan," katanya. (BDN)