PLO Minta PBB Desak Israel Bebaskan Tahanan Palestina

Tajuk.co WIB
image
Tahanan Palestina di penjara Israel. Foto: MEMO

Tajuk.co YERUSALEM – Komisi PLO (Palestine Liberation Oraginization/Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina) untuk Urusan Tahanan meminta PBB mendesak Israel agar membebaskan tahanan Palestina di tengah ketakutan wabah coronavirus.

Ketua komisi itu, Qadri Abu Bakr menyampaikan, PBB sadar penjara-penjara Israel termasuk yang paling ramai di dunia.

"Penjara-penjara Israel tidak memenuhi persyaratan minimum kesehatan dan keselamatan. Hal itu menciptakan lingkungan untuk penyebaran virus corona," kata Abu Bakar.

Permintaan Abu Bakar menyusul keluarnya perintah Menteri Keamanan Publik Israel, Gilad Erdan pekan lalu yang memerintahkan pembebasan sekitar 500 tahanan Israel, yang telah ditempatkan di bawah tahanan rumah.

Menurut perkumpulan tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Club), setidaknya empat tahanan Palestina di penjara Israel dinyatakan positif COVID-19.

Para tahanan mengancam akan melancarkan mogok makan jika langkah-langkah untuk melindungi mereka terhadap virus tidak diterapkan.

Tahun lalu, Erdan berjanji akan memperburuk kondisi tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, termasuk menjatah pasokan air dan mengurangi jumlah kunjungan keluarga.

Menurut statistik resmi, jumlah tahanan Palestina di balik jeruji Israel mencapai 5.000 orang, termasuk 180 anak-anak dan 43 wanita. Sekitar 430 berada di bawah tahanan administratif, sebuah prosedur yang memungkinkan Israel untuk memenjarakan mereka tanpa dakwaan atau pengadilan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan lusinan tahanan dalam kondisi membutuhkan perawatan medis. Mereka banyak menderita penyakit serius atau kronis.

Banyak tahanan Palestina mengatakan mereka telah mengalami penyiksaan dan kekerasan di dalam tahanan. Ada banyak protes terhadap kondisi buruk dalam beberapa tahun terakhir, termasuk beberapa di antaranya melakukan aksi mogok makan.

Banyak tahanan juga tidak mendapat layanan medis yang memadai. Para tahanan harus membayar perawatan medis mereka sendiri.

Sebelumnya, Al Jazeera melaporkan, banyak di antara para tahanan yang hanya diberikan obat penghilang rasa sakit (paint killer) sebagai obat dan solusi untuk penyakit kronis.

Ada beberapa negara yang telah membebaskan tahanan dalam upaya untuk mengekang penyebaran coronavirus yang sangat menular, termasuk Iran dan Amerika Serikat.

Sementara itu, Turki sedang berupaya mengeluarkan undang-undang untuk memfasilitasi pembebasan awal sekitar 100.000 tahanan. (HIP)