PMI Manufaktur Indonesia Mei 2021 Kembali Cetak Rekor Tertinggi

Tajuk.co 2/6/2021 20:28 WIB
image

Tajuk.co, JAKARTA -- Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik dari posisi 54,6 menjadi 55,3 pada Mei 2021. Ini menandakan ekspansi produksi di sektor industri sekaligus memecahkan rekor baru lagi dalam tiga bulan berturut-turut.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan PMI kembali naik utamanya karena ada peningkatan permintaan baru dan pengeluaran produksi (output). Bahkan, pemerintah meyakini kedua indikator ini akan semakin tinggi pada bulan-bulan berikutnya.

"Optimisme bahwa produksi akan terus menguat terlihat semakin solid di dalam negeri, didorong harapan perbaikan ekonomi karena situasi pandemi covid-19 domestik," ucap Febrio dalam keterangan resmi, Rabu (2/6).

Selain dua indikator ini, pembelian dan ketenagakerjaan juga ikut meningkat. Begitu pula dengan pembelian bahan baku dan setengah jadi dan penambahan perekrutan tenaga kerja untuk menunjang kapasitas produksi.

Kendati begitu, indikator biaya input turut meningkat. Sebab ada keterbatasan pasokan karena kendala cuaca, restriksi akibat covid-19, dan kurangnya bahan baku. Hal ini selanjutnya membuat harga jual ke konsumen ikut terkerek dalam tujuh bulan terakhir.

Sejalan dengan PMI Manufaktur Indonesia, PMI Manufaktur Global juga kembali naik ke kisaran 56 pada periode yang sama atau tertinggi sejak April 2010. Kenaikan juga didorong oleh indikator permintaan baru, permintaan ekspor baru, dan produksi.

Kontribusi PMI global utamanya berasal dari Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. PMI Manufaktur China, Jepang, dan India yang masih di level ekspansi, meski aktivitas manufaktur di negeri Bollywood turun akibat lonjakan kasus covid-19.

Sementara PMI Manufaktur ASEAN bervariasi. PMI di Malaysia dan Vietnam meneruskan tren ekspansi, namun Filipina dan Thailand justru terkontraksi karena perkembangan pandemi. Menurut Febrio, lonjakan kasus di beberapa negara perlu diwaspadai karena bisa berdampak pada penurunan aktivitas manufaktur di negara tersebut.

"Pemulihan ekonomi akan berlanjut, namun pengendalian pandemi covid-19 dan vaksinasi harus terus berjalan dengan baik," pungkasnya. (FHR)