Politik Kuyo-Kuyo

Masz Ton 4/12/2020 12:46 WIB

Oleh: Masz Ton

Praktisi Media dan Komunikasi Politik

 

KUYO-KUYO  berasal dari bahasa Jawa. Maknanya dihinakan, dinistakan, atau dipojokkan. Pihak yang dikuyo-kuyo bisa individu atau organisasi. Individu atau organisasi yang dikuyo-kuyo diposisikan sebagai pihak yang selalu salah. Kagak ada benernye kata orang Betawi.

Selalu dicari-cari kesalahannya untuk kemudian disudutkan. Apa saja yang dilakukan  pihak yang dikuyo-kuyo selalu serba salah. Ini salah. Itu salah. Bertindak benar saja masih dicari-cari celah kesalahannya. Apalagi bertindak salah langkah. Bakal dihabisi sampai jadi abu.

Tetapi di jagad politik dikuyo-kuyo itu acap menjadi berkah. Karena bisa menimbulkan efek simpati masyarakat pada pihak yang dikuyo-kuyo itu. Ini karena sifat dasar manusia untuk cenderung bersimpati dan berempati pada orang yang menderita. Pada orang yang dikuyo-kuyo. Orang yang didzalimi baik secara fisik maupun mental.

Karena itu dalam dunia pemasaran politik (political marketing) muncul istilah playing victim. Ini sebuah istilah untuk orang yang berakting sebagai korban yang dihinakan, didzalimi. Ya dikuyo-kuyo itu.

Mereka merekayasa peristiwa atau situasi, yang memancing reaksi pihak lain untuk menyudutkannya. Harapannya dengan dikuyo-kuyo publik akan memberi atensi (attention) atau perhatian kepadanya.

Setelah muncul atensi, step selanjutnya adalah menimbulkan ketertarikan (interest) padanya. Dari situ timbul keinginan (desire) untuk bersimpati dan berempati kepadanya dan lantas melakukan aksi (action) untuk membelanya.

Inilah yang dalam teori komunikasi disebut AIDA (Attentions, Interest, Desire, Action). Ini teori yang menjelaskan tahapan orang dalam melakukan suatu tindakan atau aksi.

Dalam konteks politik elektoral, membela orang yang dikuyo-kuyo berarti memilih dia atau memberikan suara kepada aktor yang didzalimi atau berakting seolah-olah didzalimi. Dan melawan orang yang nguyo-nguyo atau berlaku dzalim.

Inilah psikologi massa. Mudah trenyuh dan bersimpati pada penderitaan orang. Sehingga tidak heran jika orang yang berakting seolah dirinya dikuyo-kuyo saja mendapat simpati, apalagi orang yang memang benar-benar didzalimi.

Sangat boleh jadi, publik awalnya tidak tertarik pada satu sosok tertentu. Tidak jatuh hati. Bukan pendukung. Bukan fans. Namun karena sosok ini terus menerus dikuyo-kuyo maka publik menjadi simpati.  Ingin membelanya. Karena sifat dasar manusia adalah tidak menyukai kesewenang-wenangan. Apalagi jika kesewenang-wenangan itu melampaui batas.

Inilah yang kemudian menjelaskan mengapa massa pendukung orang yang dikuyo-kuyo bukannya berkurang. Tetapi semakin dikuyo-kuyo justru makin bertambah dan bertambah. Karena semakin dikuyo-kuyo para pendukungnya jadi makin solid. Dan orang yang semula tidak mendukung,  tetapi bersifat netral malah bersimpati. Bahkan orang yang semula membenci juga bisa berubah haluan mengalihkan dukunganya pada orang yang dikuyo-kuyo tadi.

Jadi jangan salah. Menguyo-nguyo orang tidak akan mengecilkan atau mengkerdilkan orang yang menjadi lawan politik. Sebaliknya justru akan membuatnya menjadi besar.

Juga jangan mengira orang yang dikuyo-kuyo itu susah, menderita. Ada yang ikhlas, kalau tidak dibilang menikmati kuyo-kuyo itu. Karena dia mahfum ini adalah jalan untuk membesarkannya.

Ingat dalam sejarah peradaban dunia, banyak pemimpin yang justru menjadi besar karena dikuyo-kuyo. Di Indonesia Sukarno dan putrinya Megawati adalah contoh yang ceto wela welo alias terang benderang.

Sukarno tertempa jiwa kepemimpinannya karena dikuyo-kuyo penjajah. Dia menjadi besar dan mendapat dukungan rakyat untuk memimpin negeri setelah penjajah pergi.

Megawati menjadi besar berkat dikuyo-kuyo penguasa waktu itu. Bahkan hasil kuyo-kuyo rezim kemudian mengantarkannya menjadi presiden perempuan pertama Indonesia.

Tapi sayangnya Megawati tidak belajar dari pengalamannya. Ketika berkuasa dia menguyo-uyo SBY. Kalimat: Jenderal cengeng seperti anak kecil, yang ditujukan ke SBY saat itu menjadi bumerang bagi rezim Megawati. Dan sebaliknya menjadi kalimat bertuah yang menjadi tenaga ekstra bagi SBY untuk mengalahkan Megawati di Pilpres 2004.

Di Filipina, Cory Aquino naik tahta menggantikan Marcos yang menguyo-nguyo ia dan suaminya, Benigno Aquino. Di Afrika Selatan, ada contoh Nelson Mandela, yang tampil sebagai pemimpin setelah 27 tahun dikuyo-kuyo rezim apartheid.  

Banyak lagi contoh bagaimana orang yang dikuyo-kuyo kemudian menjadi besar mengalahkan pihak yang menguyo-uyo.

Herannya meski banyak catatan sejarah mengenai rezim yang memainkan politik kuyo-kuyo selalu digantikan oleh lawannya yang dikuyo-kuyo, masih saja ada rezim yang memainkan politik kuyo-kuyo ini.

Pesan kepada siapa pun rezim yang berkuasa, saat di atas jangan ugal-ugalan menggunakan kekuasaanya untuk nguyo-uyo pihak lain. Cara itu tidak akan berhasil mengecilkan lawan politik, sebaliknya malah membesarkannya.

Dan kepada pihak yang dikuyo-kuyo, jangan kecil hati. Karena inilah jalan menjadi besar. Hanya menunggu waktu. Setelah itu giliran Anda menggantikan penguyo-uyo.

Tapi setelah duduk jangan kemudian ikut memainkan politik kuyo-kuyo kepada lawan. Jangan ikut-ikutan menguyo-uyo pihak lain.

Yang perlu dicamkan, politik kuyo-kuyo bukan hanya merugikan pelakunya tetapi juga merugikan negara. Karena menciptakan keterbelahan pada rakyat. Antara pendukung dan yang anti kuyo-kuyo terus berseteru tak henti. Menghabiskan energi, yang seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal yang produktif membangun bangsa.

Politk kuyo-kuyo juga cenderung terpeleset pada abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan), karena syahwat kuyo-kuyo bisa menggiring rezim menggunakan aparatur negara untuk menguyo-uyo lawan politik. Aparat negara digunakan tidak pada tempatnya sehingga merusak tatanan bernegara. Kepentingan kekuasaan ditempatkan di atas kepentingan negara.

Ingat! Jasmerah: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Utamanya sejarah para penguyo yang digantikan pihak yang dikuyo-kuyo.