Produk Pangan Olahan Tingkatkan Kesehatan Masyarakat

Tajuk.co 28/7/2020 20:41 WIB
image
Produk pangan olahan dapat meningkatkan daya tahan tubuh (foto: Balitbangtan)

Tajuk.co, BOGOR - Pandemi Covid-19 berdampak pada pada pola makan masyarakat di hampir semua negara di dunia. Belum ditemukannya obat penangkal virus tersebut, membuat masyarakat beralih pada pangan sehat yang diyakini menjadi “obat termujarab” yang membuat tubuh tetap fit. Serangan virus ataupun bakteri pathogen bisa ditangkal oleh imunitas atau daya tahan yang baik.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Fadjry Djufry yang menjadi pembicara kunci dalam Webinar bertema “Menu Sehat Menunjang Kesehatan Masyarakat Menuju Era Industri Pangan” yang dibacakan Sekretaris Balitbangtan Haris Syahbuddin, di Bogor, Selasa (28/7/2020).

Webinar ini diikuti peserta dari kalangan industri, civitas akademika, peneliti, penyuluh, pemerhati pertanian, petani, dan masyarakat pada umumnya.

Kepala Balitbangtan mengatakan, Kementerian Pertanian sangat concern terhadap isu pangan sehat maupun isu food loss dan food waste. Pola konsumsi pangan belakangan ini mulai berubah, terutama pada generasi milenial, baik generasi Z maupun generasi seterusnya.

“Permintaan makanan siap saji meningkat signifikan akibat perubahan preferensi produk olahan pangan. Generasi milenial memilih pangan yang praktis, instan, dan terjangkau baik akses maupun harganya,” beber Fadjry.

Tren tersebut mendorong Kementan bergerak menjaga keberlanjutan ketersediaan pangan melalui model “double track”, yaitu pemenuhan pangan untuk publik sekaligus memenuhi kebutuhan industri. Riset-riset yang dijalankan Balitbangtan pun sejalan dengan upaya pencapaian output tersebut, yang dilakukan secara kolaboratif dan inovatif.

“Kerjasama segenap stake holder secara multidisiplin dan multimitra, termasuk sinergi dengan kalangan industri dilakukan sejak awal, sejak produk dirancang. Merekalah yang nantinya memanfaatkan hasil litbang tanaman pangan untuk menghasilkan produk-produk pangan olahan yang dikehendaki pasar atau konsumen,” tuturnya.

 

Diversifikasi Pangan

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih mengatakan, indikator ketahanan sebuah bangsa atau negara itu sangat berkaitan pemenuhan gizi dan ketahanan pangan. Di tengah pandemi Covid-19, ketidakmampuan mengonsumsi makanan bergizi relatif meningkat.

Ia berharap Kementerian Pertanian mendorong dan menggerakkan masyarakat agar tidak hanya menanam tanaman yang menghasilkan karbohidrat, tapi juga umbi-umbian, kacang-kacangan, serta tanaman lain yang bisa konsumsi untuk mengurangi efek dari persoalan Covid-19.

“Sebab dalam gizi seimbang ada lima unsur penting yang harus dikonsumsi yaitu unsur yang mengandung kalori, lemak, protein, vitamin dan mineral, serta air. Kalau orang kekurangan asupan makanan bergizi maka daya tahan tubuhnya akan kurang,” terangnya. (KSL)