Progres Fisik Capai 61%, Terowongan Silaturahmi Ditargetkan Rampung Agustus

Tajuk.co 3/6/2021 08:53 WIB
image
Terowongan Silaturahmi sepanjang 28,3 meter menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral

Tajuk.co, JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini tengah menyelesaikan pembangunan Silaturahmi Terowongan yang menyambungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral. Terowongan yang menjadi ikon toleransi antar umat beragama dalam kemajuan fisiknya mencapai 61% dan ditargetkan selesai pada 17 Agustus 2021.

PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan penghubung antara dua rumah ini bisa saja menggunakan jembatan penyeberangan, tetapi karena faktor keamanan dan keselamatan desain yang dipilih adalah menteri keamanan bawah tanah. "Ada tiga alternatif sebenarnya bisa jembatan penyeberangan, tapi kan terlalu curam, atau dengan yang lain, kita pilih yang lebih aman," kata Menteri Basuki.

Direktur Jenderal Cipta Karya Diana Kusumastuti menyampaikan untuk selalu memperhatikan keselamatan masa konstruksi, terutama pembangunan Silaturahmi Terowongan dekat dengan Masjid Istiqlal dan Gereja Katederal yang merupakan bangunan cagar budaya. 

Dalam pembangunannya, persyaratan teknis pembangunan yang mencakup aspek keselamatan, kenyamanan, dan kenyamanan tetap menjadi prioritas. "Keselamatan konstruksi menjadi fokus utama yang harus diterapkan di lapangan, terutama bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katederal ini merupakan bangunan cagar budaya yang menjadi kebanggaan negara kita. Harus ada pengawasan dan metode khusus dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan baik untuk pembangunan Terowongan Silaturahmi maupun bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katederal.” terang Diana

Pembangunan Terowongan ini telah dimulai pada 15 Desember 2020 lalu dengan anggaran Rp 37,3 miliar yang dikerjakan oleh kontraktor PT Waskita Karya, manajemen konstruksi PT Virama Karya dan perencana PT Yodya Karya. Lingkup pekerjaan penutup dan K3 dengan progres 94,46%, pekerjaan pembongkaran97,25%, galian tanah dan finishing jalan 85,76%, pekerjaan struktur 80,18%, pekerjaan arsitektur 35,07%, pekerjaan MEP 8,71% 

Pekerjaan galian tanah dan finishing jalan meliputi pekerjaan galian tanah, pekerjaan timbunan dan pemadatan, pekerjaan sumur recharging, piezometer dan inclinometer, pekerjaan perkerasan bawah jalan dan pekerjaan lapisan atas jalan. Selanjutnya pekerjaan struktur meliputi pekerjaan guide wall, pekerjaan dwall, pekerjaan capping beam, pekerjaan struktur baja lift dan entrance. Sementara pekerjaan arsitektur meliputi pekerjaan entrance, pekerjaan dinding dan lantai marmer dan pekerjaan plafon perforated metal. 

Terowongan Silaturahmi dengan panjang terowongan 28,3 meter, tinggi 3 meter, lebar 4,1 meter dengan total luas area yang dibangun terowongan 136 m2 dengan total luas shelter dan terowongan 226 m2. Jarak terdekat pintu masuk struktur m Gereja Katedral yakni 32 hal ini guna memastikan keamanan. Sementara jarak terdekat dengan gerbang Masjid Istiqal adalah 16 m. 

Arsitektur ini merupakan pintu masuk yang dibangun dengan gaya modern di mana eksteriornya menggunakan material transparan sehingga keindahan desain Masjid dan Gereja Katedral yang bangunan cagar budaya tidak terhalang. 

Sementara untuk interiornya menggunakan material marmer serta dilengkapi dengan railing stainless sebagai simbol jabat tangan. Selain tangga, ini juga dilengkapi dengan lift difabel untuk mendukung fungsi sebagai bangunan publik.

Di samping sebagai ikon toleransi antar umat beragama, pembangunan ini berfungsi memudahkan akses jamaah antar bangunan rumah ibadah untuk kebutuhan ruang parkir tanpa mengganggu arus lintas saat ini. 

Dalam pembangunan, Badan Pengelola Masjid Istiqlal dan Dewan Paroki Gereja Katederal dilibatkan dalam proses pembahasan terkait konsep disain yang memperhatikan masing-masing rumah ibadah agar mencirikan bentuk persatuan bukan perbedaan dalam bentuk disain, rencana pengelolaan dalam operasional Terowongan Silaturahmi nantinya, serta keselamatan masing-masing bangunan rumah ibadah selama pengerjaan konstruksi agar tidak menimbulkan kerusakan pada bangunan eksisting. (KSL)