Risko Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat

Awalil Rizky2 5/3/2021 11:44 WIB

Oleh: Awalil Rizky, Kepala Ekonom Institut Harkat Negeri

ULN

Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Desember 2020 mencapai US$417,5 miliar. ULN merupakan kewajiban penduduk Indonesia kepada bukan penduduk dalam kurun waktu tertentu, yang membutuhkan pembayaran kembali bunga dan pokok pada waktu yang akan datang. Pengertian penduduk dimaksud mencakup pemerintah, bank sentral, dan pihak swasta atau masyarakat.

Data posisi ULN Indonesia dihitung dan disajikan oleh Bank Indonesia melalui laporan yang disebut Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI). SULNI dipublikasi rutin tiap bulan, memuat berbagai rincian data ULN hingga kondisi terkini.     

Secara internasional, data ULN banyak negara secara cukup rinci antara lain dipublikasikan oleh Bank Dunia. Publikasi terkininya berupa laporan berjudul International Debt Statistics (IDS) 2021. Laporan tersebut menyajikan beberapa rincian utang banyak negara hingga kondisi akhir 2019. Di antaranya mengenai besaran posisi utang, sumber utang, dan beberapa rasio utang.

Menurut laporan tersebut, Indonesia termasuk ke dalam 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan posisi utang luar negeri terbesar pada 2019. Berada pada posisi ke-6 dalam daftar yang tak memasukkan China, dengan total utang sebesar US$ 402,08 miliar.

Laporan tersebut dipublikasi saat pandemi dan memberi dampak besar pada kondisi ekonomi, meski masih memakai data kondisi utang sebelum perkonomian terdampak. Dengan demikian, bisa digunakan sebagai bahan analisis mengenai risiko yang akan meningkat karena harus berutang lebih banyak. Juga tentang beban pembayaran utang sebelumnya yang berpotensi menyedot sumber daya yang dibutuhkan mendanai krisis kesehatan dan mempercepat upaya pemulihan ekonomi.

Laporan juga menyajikan beberapa rasio utang untuk masing-masing negara dan kelompok negara. Di  antaranya adalah rasio posisi ULN atas ekspor (external debt stocks to exports) dan rasio beban pembayaran utang atas ekspor (debt service to exports).

Pengertian ekspor meliputi ekspor barang, ekspor jasa, dan penerimaan pendapatan primer. Sedangkan pengertian beban pembayaran utang mencakup pembayaran pokok utang dan bunga utang jangka panjang.

Dalam kedua rasio tersebut, Indonesia termasuk buruk dibanding banyak negara berpendapatan rendah dan menengah (negara berkembang). Dan cenderung mengalami peningkatan yang lebih tinggi selama 10 tahun terakhir.

External debt stocks to exports Indonesia sebesar 194 persen pada tahun 2019. Posisi ULN Indonesia hampir dua kali lipat dari nilai ekspor. Lebih tinggi dari rasio seluruh negara berpendapatan rendah dan menengah sebesar 107 persen. Posisi ULN dari seluruh negara pada kelompok itu (Indonesia ikut diperhitungkan) hampir setara dengan nilai ekpornya.   

Debt service to exports Indonesia sebesar 39 persen pada 2019. Pembayaran ULN Indonesia telah “menghabiskan” hasil ekspor sebesar porsi tersebut. Lebih tinggi dari rasio seluruh negara berpendapatan rendah dan menengah yang hanya sebesar 15 persen.

Rasio Debt service to export merupakan indikator yang paling sering dipakai dari beberapa macam cara penghitungan tentang Debt Service Ratio (DSR) utang luar negeri. Dikenal beberapa cara untuk menghitung untuk besaran debt service (pembilang) dan untuk besaran penyebutnya. Pada prinsipnya untuk mengukur “kemampuan membayar” sekaligus risiko dari ULN.

BI menghitung dan mempublikasi Debt Service Ratio (DSR) dengan konsep yang mereka sebut sebagai DSR Tier-1 dan DSR Tier-2. Keduanya memakai besaran penyebut berupa penerimaan transaksi berjalan. Artinya memasukkan juga penerimaan pendapatan sekunder, yang tidak dipakai dalam konsep Bank Dunia seperti yang disebut di atas.

Sebagai ilustrasi dengan data tahun 2019. Besaran penyebut pada DSR versi Bank Dunia sebesar US$ 207,47 miliar. Sedangkan pada DSR Bank Indonesia sebesar US$220,15 miliar. SULNI memang tidak menyajikan angka tersebut, namun dapat dihitung dari definisi yang dipakai dengan data dalam Neraca Pembayaran dari Bank Indonesia.

Pengertian pembayaran utang pada Tier-1 meliputi pembayaran pokok dan bunga atas utang jangka panjang dan pembayaran bunga atas utang jangka pendek. Sedangkan pada Tier-2 meliputi pembayaran pokok dan bunga atas utang dalam rangka investasi langsung selain dari anak perusahaan di luar negeri, serta pinjaman dan utang dagang kepada non-afiliasi.

Perbedaan besaran rasio DSR tadi dapat dilihat dalam grafik. Pada tahun 2019, DSR Indonesia versi Bank Dunia sebesar 39,42%. Pada tahun yang sama, Bank Indonesia menyajikan DSR Tier-1 sebesar 26,90% dan DSR Tier-2 sebesar 52,38%.

Sebagai catatan, Bank Dunia menyajikan nilai pembayaran utang dalam perhitungan dimaksud dalam lamannya. Nilainya pada tahun 2019 sebesar US$81,78 miliar. Sementara itu, BI hanya menyajikan rasionya.

Publikasi kondisi akhir tahun 2020 ditambah berbagai indikator utang luar negeri lainnya, BI menilai kondisinya dalam batas aman dan terkendali.

Penulis sendiri berpandangan perlunya otoritas ekonomi meningkatkan kewaspadaan. Meskipun belum bisa dikatakan rawan, telah ada indikasi peningkatan risiko ULN. Padahal, perekonomian ditandai oleh kondisi yang penuh ketidakpastian ditingkat global, serta kondisi domestik yang belum pulih.