Risma, Sekali Dayung Ingin ke Tiga Pulau

Masz Ton 2 7/1/2021 23:16 WIB
image
Foto: kemensos.go.id

Oleh: Masz Ton

Praktisi Media dan Komunikasi Politik

SEKALI Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui. Pepatah lama yang tak lekang ditelan waktu. Masih sering terdengar. Bahkan masih sering dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Sekali jalan dua tiga pekerjaan tertunaikan. Multi tasking bahasa bulenya.

Menteri Sosial Risma Triharini nampaknya menghayati betul pepatah tua ini. Begitu diumumkan masuk Kabinet Kerja Jilid II, mantan Walikota Surabaya ini langsung ambil dayung. Turun gelanggang. Mendayung menjumpai para tunawisma di sekitar Jakarta.

Dari sisi komunikasi politik, melihat aksinya yang full coverage media, Risma nampaknya ingin agar sekali dayung bisa membawanya ke tiga pulau harapan.

Pulau pertama yang ingin dituju adalah Pulau Banteng.  Risma ingin memulihkan nama Pulau Banteng yang porak poranda, morat-marit citranya dihantam badai korupsi Mensos sebelumnya, yang tidak lain tidak bukan adalah warga Pulau Banteng.

Di sini Risma sekaligus ingin memulihkan nama baik Kemensos, yang namanya ikut ambruk oleh kasus korupsi bansos. Sebelumnya ada kasus Idrus Marham, yang  juga berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat menjabat sebagai Mensos.

Jadi di pulau harapan pertama, Risma berharap aksinya bisa menghilangkan bau kurang sedap yang menyebar di Pulau Banteng. Ini penting. Sebab survei sejumlah lembaga, yang dilakukan setelah kasus korupsi Bansos di Kemensos, menunjukkan tingkat elektabilitas PDIP anjlok cukup dalam. Survei Voxpopuli Research Center menunjukkan elektabilitas PDIP di Desember 2020 tinggal 19,6 persen. Padahal di bulan Oktober 2020 masih bertengger di angka 31,3 persen. Jika dibanding elektabilitas Juli 2020  yang mencapai 33,5 persen, laju penurunan PDIP terbilang lumayan tajam pasca kasus korupsi Bansos.

Jadi wajar sebagai Mensos yang direkomendasikan PDIP, Risma merasa perlu memperbaiki citra Pulau Banteng di mata publik agar tidak makin terperosok akibat isu korupsi. Dan sebagai Mensos, yang punya banyak pengalaman berhubungan dengan persoalan sosial kemasyarakatan saat menjabat sebagai Walikota Surabaya, Risma cukup bisa diandalkan. Apalagi dia memiliki panggung untuk menjalankan aksinya itu.

Pulau harapan kedua yang ingin dituju Risma bernama Pulau Jakarta Satu. Ini bisa dilihat dari pilihan ‘medan tempur’ Risma, Jakarta. Ia datang ke kolong jembatan di belakang Kantor Kemensos di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Ia juga menjumpai tunawisma, yang sekonyong-konyong koder muncul di Jalan Sudirman-Thamrin.

Kita tahu angka kemiskinan di Jakarta bukanlah yang terendah di Indonesia. Persoalan tunawisma Jakarta juga sudah ditangani secara terkendali oleh Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta. Risma abaikan itu. Ia terlalu bersemangat. Padahal sebagai Mensos ‘medan tempur’ yang dimilikinya tersebar di seluruh wilayah NKRI. So, kenapa dia pilih beraksi di Jakarta? Apa ada udang di balik rempeyek?  

Dari kacamata komunikasi politik, Risma ingin mengirim pesan kepada publik Jakarta seolah Gubernur Jakarta kurang cakap mengurus tunawisma. Buktinya, masih banyak tunawisma berkeliaran. Bahkan sampai ke ruas jalan protokol Sudirman-Thamrin, yang bukan saja menjadi etalase Jakarta tetapi juga etalase Indonesia. Risma seperti ingin menampar muka Gubernur Jakarta tepat di pelataran rumah pemiliknya.       

Di sini dia juga ingin mengirim pesan, jika jadi Gubernur Jakarta, urusan tunawisma, orang terlantar, orang susah bakal ditangani dengan sungguh-sungguh.

Jadi tidak salah jika muncul spekulasi Risma mulai mempersiapkan diri untuk merebut Jakarta Satu. Lho kan sudah jadi menteri? Jabatan Gubernur ternyata dianggap lebih prestius dibanding posisi menteri kabinet. Apalagi Gubernur Jakarta. Mensos pendahulu Risma, Khofifah Indar Parawansa rela melepas jabatan menterinya untuk bertarung melawan Saifullah Yusuf di Pilkada Jawa Timur tahun 2018 lalu.

Dan pulau harapan ketiga yang ingin disinggahi Risma adalah Pulau Indonesia Satu. Tetapi untuk sampai ke pulau ini syaratnya ia harus mampu melabuhkan perahunya di pulau harapan kedua, Jakarta Satu. Karena dari situ jalan untuk menyeberang ke Pulau Indonesia Satu rasanya lebih lapang.

Sangat beralasan jika Risma dipersiapkan untuk sampai di Pulau Indonesia Satu. Namanya selalu masuk dalam radar survei sejumlah lembaga. Pada survei yang dirilis SMRC akhir Desember 2020 lalu misalnya, nama Risma bertengger di urutan tujuh dengan tingkat keterpilihan 3,1 persen di bawah Ganjar Pranowo (15,7 persen), Prabowo Subianto (14,9 persen), Anies Baswedan (11 persen), Sandiaga Uno (7,9 persen), dan Ridwan Kamil (7,1 persen). Elektabilitas Risma sama dengan Agus Harimurti Yudhoyono, yang juga berada di angka 3,1 persen.

Panggung Mensos yang penuh dengan aksi sosial kemanusian secara nasional bisa mendongkrak popularitas dan elektabilitas Risma. Jika panggung itu dimaksimalkan, bukan tidak mungkin popularitas dan elektabilitas Risma bakal menyalip kandidat Capres 2024 lainnya.

Namun sayang di sayang, aksi dayung mendayung Risma rupanya tak terlalu mulus. Netizen yang mengikuti pemberitaan Risma mengenali tunawisma yang ia kunjungi. Ini menjadi polemik karena banyak netizen yang meragukan keaslian sosok tunawisma yang dijumpai Risma. Berita republika.co.id  tanggal 7 Januari 2021 menyebut salah satu tunawisma yang dijumpainya pernah menjadi Satgas PDIP. Wajar jika kemudian muncul rasa curigesien di kalangan masyarakat atas aksinya itu.

Kemudian pemilihan lokasi perjumpaan dengan tunawisma di Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman juga mengusik rasa geli netizen, terutama mereka yang bertahun-tahun rutin berlalu lalu lalang di jalan protokol itu. Mereka merasa ada yang janggal ketika tiba-tiba ada tunawisma di dua ruas jalan itu. Bahkan Wagub DKI Jakarta Ariza Patria menyatakan, sejak umur empat tahun tinggal di Jakarta dia tidak pernah melihat ada tunawisma di Jalan Thamrin dan Sudirman.

Di era digital saat ini orang memang bisa dengan mudah mendaki tangga popularitas. Namun dunia digital juga kejam. Bahkan lebih kejam dari ibu tiri. Banyak sudah orang yang terpeleset di dunia yang bisa ramah, tapi bisa juga sangat kejam ini.

Inilah yang terjadi pada Risma. Awalnya aksinya mendapat pujian netizen. Tetapi begitu ketahuan ada kejanggalan atau bahasanya anak mudahnya ke gap, habislah Risma menjadi bulan-bulanan warga kampung digital.

Jadi alih-alih sekali dayung melampui dua tiga pulau, aksi Risma kali ini seperti kata pepatah yang lain: menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Maksud hati menyindir pihak lain, eh.... malah dipermalukan netizen.