Sambut Indonesia Halal Tourism Summit 2020, FGD Wisata Ramah Muslim Bahas Sinergitas

Tajuk.co 19/9/2020 19:49 WIB
image
Ilustrasi Wisata Ramah Muslim (foto: ist)

Tajuk.co, JAKARTA -- Menyambut Indonesia Halal Tourism Summit (IHTS) 2020, Bank Indonesia bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Komite Nasional Ekonomi & Keuangan Syariah (KNEKS), Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), dan Kemenparekraf menggelar diskusi hangat mengenai arah dan rencana aksi percepatan pariwisata ramah muslim di Indonesia. Acara diskusi yang menjadi bagian dari gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2020 ini berlangsung secara virtual pada Jumat, 18 September 2020.

Riyanto Sofyan, Ketua Umum PPHI mengatakan bahwa berlangsungnya FGD terbatas ini menunjukkan pariwisata ramah muslim di Indonesia memiliki peluang yang cukup besar. Salah satu cara menangkap peluang tersebut adalah membangun sinergitas antar komponen penggerak.

“Peluang wisata ramah muslim di Indonesia cukup besar. Maka, diharapkan nantinya akan bisa dibentuk sebuah lembaga khusus yang bisa fokus menjaga kesinambungan industri pariwisata ramah muslim di Indonesia,” tandas Riyanto.

Sementara itu, Rizky Handayani Mustafa, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf mengatakan saat ini pergeseran wisata halal tidak hanya sebatas ritual saja namun lebih kepada komunikasi dan silaturahmi.

“Pergeseran tren wisata halal saat ini lebih kepada komunikasi dan silaturahmi, dimana kita banyak melihat setiap turis yang berkunjung, tidak lain dan tidak bukan untuk menjalin komunikasi dengan komunitas-komunitas yang ada di tempat tujuan,” ungkap Rizky dalam paparannya, Jumat (18/9), melalui diskusi virtual.

Rizky pun mengajak semua pihak untuk tidak hanya berbicara soal keindahan alam semata tetapi lebih memperhatikan dan menonjolkan aspek keamanan dan kesehatan. Sebab, kebersihan adalah sebagian dari iman yang patut menjadi perhatian bagi semua pihak. Ia pun membahas soal strategi program yang dilakukan Kemenparekraf. Salah satunya adalah sertifikasi hotel halal di Indonesia dan penguatan digitalisasi.

“Beberapa strategi program Kemenparekraf dalam upaya percepatan wisata ramah muslim di Indonesia adalah pemulihan pariwisata, quality tourism, serta digitalisasi. Kami juga akan melakukan sertifikasi hotel sebagai upaya menghadirkan pelayanan wisata yang ramah muslim,” ungkap Rizky.

Pada FGD yang berlangsung selama dua jam itu, juga turut hadir para stakeholder di bidang pariwisata ramah muslim lainnya seperti Nadratuzzaman Hosen (DSN MUI), KH. Dr. Hasanuddin (DSN MUI), Afdhal Aliasar (Direktur KNEKS), Fadjar Hutomo (Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf), Dr. Rusmiati (Ketua Umum ASITA), Alexander Reyaan (Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan Kemenparekraf), Trindiana Mirring Tikupasang (Kepala Sub Direktorat Pengembangan Wisata Budaya Kemenparekraf), serta Bapak dan Ibu dari MES, IHLC, komunitas, akademisi, dan juga insan media. Acara dibuka oleh M. Anwar Bashori (Kepala Departemen Ekonomi & Keuangan Syariah Bank Indonesia) dan ditutup dengan penyampaian resolusi diskusi oleh Ibu Dr. Siti Ma’rifah (Dewan Pengarah PPHI dan Anggota BPH DSN MU. (AO)