Obituari Selamat Jalan Saudaraku, Andi Eldes…

Tajuk.co 5/9/2020 13:21 WIB

AndiE

Tangan saya gemetar, mendengar kabar bahwa salah satu alumni terbaik STAN, Andi Eldes baru saja dipanggil pulang sang Khaliq.  Hanya beberapa malam dirawat setelah dinyatakan positif covid-19, kondisinya terus menurun.  Dari waktu ke waktu saya menerima kabar perkembangan kondisi kesehatannya.  Sejak kemarin firasat sudah tidak enak, tetapi tak bisa menceritakannya pada siapapun.  Kini dia telah mendahului kita semua.

Andi yang saya kenal adalah seorang pejuang tak kenal lelah.  Di segala lapangan aktivitas dan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, Andi selalu ingin menyelesaikannya dengan sempurna… dia seorang perfectionist.  Ketika mahasiswa, Andi Eldes adalah seorang aktivis senat andalan. Senior yang membimbingnya adalah Bang Safrie Adnan Baharuddin, ketika itu beliau Ketua I Senat Mahasiwa, mendampingi Bang Misbahul Munir sang Ketua Umum. 

Pada waktu berdinas di BPKP, banyak urusan-urusan sensitif ditanganinya, termasuk ketika bergabung dengan Tim Opstib di bawah komando Pak Soejatna Soenoesubrata.  Kasus-kasus korupsi dibongkarnya tanpa kompromi, meskipun harus mendapat tekanan dari orang-orang besar. Tak heran ketika Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), organisasi yang didirikannya bersama-sama sejumlah tokoh nasional, Andi amat bersemangat mendorong pendirian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Pasca reformasi 1998, momentum dimana Andi turut mengurus dapur umum bagi para mahasiswa dan pejuang reformasi, kami terlibat dalam diskusi-diskusi mendalam bagaimana memberangus praktik korupsi.  

Bersama sejumlah tokoh senior seperti Prof. Koesnadi Hardjasoemantri, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Pak Mar’ie Muhammad (ketiganya sudah tiada), Dr. Kuntoro Mangkusubroto, Dr. Sri Mulyani Indrawati, Pak Susilo Bambang Yudhoyono, dan tokoh-tokoh lainnya kami merumuskan berbagai pasal dalam rangka amandemen konstitusi.  Tentu ada Mas Amin Sunaryadi, ada Mbak Egi Suciati, ada Pak Erry Riyana Hardjapamekas, Pak Arief T. Surowidjojo, dan Pak Kemal A. Stamboel.  Ada gagasan memperkuat peran dan posisi BPK, membentuk Mahkamah Konstitusi, membentuk PPATK, membentuk lembaga pengawasan Kejaksaan, Kepolisian, dan Kehakiman.   Meskipun Andi adalah akuntan, pemahaman hukum tata negaranya sangat baik.  Ia rajin baca.  Dan karenanya Pak Marie Muhammad dan beberapa lawyers termasuk Chandra M. Hamzah menikmati diskusi dengan Andi Eldes.

Profesi Akuntan Indonesia juga berutang besar pada Andi Eldes. Sekurang-kurangnya dua Kongres dan dua Kongres Luar Biasa, antara tahun 1994 sampai tahun 2000an awal, Andi sangat berperan menjadi perumus revisi AD/ART dan arah penataan organisasi profesi.  Tahun-tahun itu saya sempat menjabat sebagai Direktur Eksekutif Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang untuk pertama kali dibentuk dengan tugas memprofesionalkan layanan IAI.  Semua pengurus IAI tahu Andi Eldes dan MZ Abidin adalah dua jagoan sidang-sidang pembahasan AD/ART.  Tak kenal menyerah kalau sedang menggoalkan pasal yang diyakini. Berkat rumusan mereka berdua, jalan menjadikan IAI sebagai organisasi profesional seperti yang kita lihat sekarang terbuka lebar. Pak Sudarjono, Pak Zainal Soedjais, Pak Soejatna dan Pak Mustofa (semuanya sudah mendahului kita), tahu persis kontribusi almarhum Andi Eldes bagi penguatan organisasi profesi akuntan. 

Loyalitasnya pada profesi akuntan dibuktikan sejak mahasiswa hingga akhir hayatnya. Ketika mahasiswa aktif sekali membantu penyelenggaraan berbagai seminar profesi akuntan.  Sempat berdinas di BPKP, belakangan dia memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan KAP Soejatna Soenoesubrata dan Hadlori Junus.  Terakhir ia menjabat sebagai Partner Senior di KAP Kanaka Suhartono, dan selama ini tak pernah melepaskan jiwa aktivisnya di profesi akuntan dan akuntan publik. 

Sebagai aktivis sejati, Andi Eldes tak pernah diam.  Pada setiap peristiwa kegentingan dia selalu hadir dan dengan enteng meninggalkan aktivitas profesionalnya terjun membantu yang membutuhkan.   Itu terjadi di sekitar 1998. Juga ketika terjadi ledakan bom menjelang malam Natal tahun 2000-an.  Andi aktif dalam Gerakan “Indonesia Damai”, mengkampanyekan perdamaian di antara sesama warga. Saat wafat, Andi Eldes adalah Ketua Dewan Pengawas Institut Harkat Negeri (IHN),  sebuah Lembaga Kajian, Pendidikan dan Penerangan di bidang Kepemimpinan.   

Saudaraku, Andi Eldes, selamat jalan.  Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa menyayangimu. Ketika engkau berangkat hari ini, KPK yang kita dorong bersama memang tidak sekokoh yang kita angankan dahulu.  Kampus STAN kawah candra dimuka kita bersama juga sedang menghadapi tantangan berat, terguncang eksistensinya karena tuduhan dan issue-issue yang tak jelas asal usulnya.  Pun keadaan kehidupan berbangsa dan bernegara sedang mengalami pendangkalan moralitas dan keilmuan. Yang pasti, kau telah berikan yang terbaik untuk sekitarmu… You have done your part.  Insha Allah apa yang telah kau kerjakan menjadi bekal yang cukup menuju alam keabadian. 

Kini, kami semua berduka sedalam-dalamnya. Bahkan mengantarkanmu ke tempat istirahat terakhir pun tak kuasa, karena wabah covid yang mengancam banyak orang. Kami semua berdoa, semoga Allah memelukmu dengan penuh cinta. Semoga keluargamu bersabar dan tabah menerima musibah ini.  Dan semoga segala amal ibadahmu berbalas kavling di Surga yang indah dan abadi.   

 Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jugalah kami kembali.   Selamat kembali pulang ke rumah abadimu, Saudaraku….

Cilangkap, 4 September 2020

Sudirman Said