Sudirman Said: Akhlak Mulia Indikator Utama Keberhasilan Pendidikan

Tajuk.co 11/9/2020 18:36 WIB
image
Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said (tajuk.co)

Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) yang juga Dosen PKN STAN, Sudirman Said baru saja mendapat amanat baru sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Politeknik Harapan Bersama, Tegal.   Kampus Pendidikan vokasi ini telah berdiri 18 tahun lalu, memiliki sejumlah program studi yang berorientasi ketrampilan, antara lain: Teknik Mesin, Teknik Industri, Disain dan Komuniksasi Visual, Kebidanan, Farmasi,  Akuntansi, Pariwisata & Perhotelan.   Berikut ini petikan bincang-bincang dengan Sudirman Said berkenaan dengan situasi pendidikan nasional.

Bagaimana pandangan terhadap realitas pendidikan saat ini?

Semua urusan kehidupan saat ini sedang terdampak wabah Covid-19, begitupun dunia Pendidikan.  Saya mengajar di dua kampus, semester lalu full dilakukan melalui daring. Sebuah tantangan tersendiri, karena mendidik itu tak sekadar mentransfer pengetahuan dan informasi, melainkan juga harus mentransfer nilai-nilai dan idealisme dalam menggunakan ilmu pengetahuan.  Tanpa covid pun, kita patut memperhatikan sejauh mana elemen nilai-nilai dan idealisme telah diurus.  Dengan wabah ini, kecemasan kita makin tinggi karena keterbatasan interaksi antara pendidik dengan peserta didik.

Masalah pendidikan selalu berulang setiap pemerintahan baru bahkan menteri baru. Seolah melupakan kaidah utama dan pembukaan UUD dan UU Sisdiknas sebagai pondasi?

Pada banyak kesempatan saya mengamati, rumusan konstitusi dan Undang-Undang Pendidikan Nasional tampaknya perlu sering dibuka dan dihayati.   Mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut serta dalam membangun ketertiban dunia adalah kalimat luhur yang harusnya menjadi landasan gerak kita sebagai bangsa.  

Kalau membaca UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kita harusnya bisa memahami betapa niat luhur itu mendasari perumusan UU ini.  Tertulis disitu bahwa tujuan Pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.   Ada 9 kata kunci yang menjadi indikator pencapaian tujuan Pendidikan kita.

Dua dokumen itu seharusnya menjadi pedoman jangka panjang, sehingga tidak harus kita mengalami perubahan  yang terlampau sering.  Pendidikan adalah membangun karakter dan seyogianya fokusnya ke sana.  Perubahan yang taktikal yang terlalu sering, membuat pelaku Pendidikan terpontal-pontal mengikutinya.


Kalau melihat situasi dewasa ini, sejauh mana tujuan itu sudah tercapai?

Dua hari lalu saya memandu diskusi dengan narasumber tiga orang pendidik hebat: satu pengajar independent, Dr. Itje Chodijah, MA; satu orang penggerak Pendidikan di Kabupaten Tulang Bawang, Pak Kemis; dan satu lagi seorang guru SD berwawasan global Pak Riski.  

Ketiganya tidak pernah bertemu tetapi menyuarakan kegundahan yang sama, kita amat sibuk mengurus persekolahan tetapi lupa esensi Pendidikan. Yang dipacu adalah kesiapan menghadapi ulangan dan ujian, bukan kesiapan menyongsong masa depan. Secara khusus tujuan membangun karakter dan perilaku agak kurang menjadi perhatian.  

Ibu Itje malah mengatakan, usia UU Sisdiknas sudah 17 tahun, seharusnya kita sudah bisa melihat apakah Pendidikan kita telah menghasilkan manusia Indonesia sebagaimana diuraikan dalam UU itu: beriman dan takwa, berakhlak mulia, berilmu, cerdas, cakap, kreatif, mandiri, dan menghasilkan warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab?  Suatu evaluasi menyeluruh mungkin layak dilakukan.

Pak Dirman menyebut 9 kata kunci sebagai ruh pendidikan nasional, Apakah masih banyak yang belum terealisasi?

Itulah kegelisahan Ibu Itje yang saya ceritakan di atas. Tapi bagi saya yang harus jadi indikator utama dari seluruh kata kunci itu adalah akhlak.  Orang sering menyebut karakter dan perilaku.  Ilmu pengetahuan dan keterampilan bisa dikejar setiap saat, bila ada ketertinggalan. 

Tapi karakter dan perilaku luhur, atau akhlak adalah kunci kekuatan dan ketahanan suatu bangsa. Karena itu dari seluruh kata kunci tadi, saya berpendapat pembangunan akhlak mulia merupakan indikator utama keberhasilan Pendidikan kita. Mari kita bertanya, apakah kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah mencerminkan akhlak mulia?

Bisakah menyebut kita terlalu fokus pada aspek kognitif terhadap peserta didik?

Saya bukan ahli Pendidikan, saya hanya terus berusaha menjadi pendidik yang baik.  Karena itu sebisa mungkin dialog dengan peserta didik, ditempat saya mengajar, diupayakan tidak terfokus pada memindahkan pengetahuan kita.  Buku dan bahan bacaan bisa kita serahkan pada mahasiswa atau peserta didik untuk membacanya, pertemuan di ruang kelas digunakan untuk menransfer nilai-nilai dan idealisme.

Implementasi teknis 9 kata kunci dalam pendidikan kita seharusnya seperti apa?  Mengingat "Pendidikan Karakter" masih jadi bahan-bahan seminar dan diskusi dibandingkan implementasi

Di lapangan sebenarnya makin banyak yang menyadari dan mengerjakan perlunya memperhatikan aspek-aspek karakter ini.  Banyak sekolah-sekolah dan kampus yang dikembangkan oleh masyarakat menerapkan sistem dan kurikulum yang komprehensif, mencakup pengetahuan, ketrampilan dan perilaku. Kita syukuri fenomena ini.  

Cara menerapkan hal-hal yang kualitatif tidak ada yang lebih efektif kecuali dengan keteladanan. Karena itu banyak ahli Pendidikan menyarankan keterlibatan keluarga, orang tua, sebagai sumber belajar juga.  Karena perilaku orang tua pada umumnya akan ditiru oleh anak-anaknya. Di sekolah atau kampus, guru atau dosen, dan sistem pembelajaran menjadi bagian yang menstrukturkan proses belajar.  Dengan demikian saling melengkapi.

Dalam 9 kata kunci termaktub iman dan takwa serta akhlak mulia yang erat kaitannya dengan pendidikan keagamaan. Melihat realitas, apakah justru ada upaya pemisahan pemahaman keagamaan dengan pendidikan?

Ini bagian yang sedang sangat sensitif akhir-akhir ini.  Akhlak mulia itu harusnya cermin dari sikap beragama yang baik, agama apapun.   Sederhananya; sikap jujur, tidak korupsi, suka membantu sesama, toleransi dengan perbedaan, memberi manfaat pada lingkungan, itulah wujud akhlak mulia. Kita berharap semoga proses pembelajaran bangsa kita makin menuju pada kedewasaan. Dengan demikian antara kehidupan beragama, beriman dan bertakwa, akan sejalan dengan tampilan akhlak mulia.  

Dari pengalaman berinteraksi dengan banyak orang, keberhasilan seseorang bermula dari karakter dan perilaku.  Orang dengan karakter positif akan selalu mencari jalan keluar yang baik dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya.

Salah satu pernyataan Bung Hatta yang sangat terkenal adalah: “Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar, kurang cakap bisa dilatih dengan pengalaman, namun tidak   jujur sulit diperbaiki.”

Bagaimana Anda akan menerapkan 9 kata kunci tadi dalam penyelenggaraan Pendidikan di Politeknik Harapan Bersama?

Saya percaya Pimpinan Yayasan dan Manajemen Kampus akan mengacu pada indikator-indikator pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang dan peraturan turunannya.  Kita akan lakukan cek up terus menerus sejauh mana kurikulum dan para pengasuh di PHB sejalan dan melaksanakan seemangat tersebut. 

Harus diyakinkan bahwa seluruh kebijakan, kurikulum, aktivitas, dan sumber daya digerakkan untuk membangun manusia yang tidak sekadar terampil, mampu bekerja tetapi juga berakhlak mulia, berperilaku terpuji.  Dengan demikian setiap lulusan Poltek Harapan Bersama harus menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.