Taliban Gelar Pembicaraan Pertama dengan AS-Uni Eropa, Brussels Janjikan US$ 1,2 M ke Afghanistan

Tajuk.co 13/10/2021 11:07 WIB
image

Tajuk.co, DOHA -- Taliban mengadakan pembicaraan tatap muka pertama mereka dengan delegasi gabungan AS dan Uni Eropa di Qatar, Selasa (12/10). Di saat yang sama, Brussels menjanjikan paket bantuan kepada Afghanistan.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, pada pertemuan puncak G20 virtual yang digelar oleh Italia, menyatakan paket bantuan Uni Eropa senilai 1 miliar Euro (US$ 1,2 miliar) itu dimaksudkan "untuk mencegah keruntuhan besar kemanusiaan dan sosial-ekonomi".

Dia menekankan dana tersebut adalah "dukungan langsung" untuk Afghanistan dan akan disalurkan ke organisasi internasional yang bekerja di lapangan, bukan ke pemerintah sementara Taliban yang tidak diakui oleh Brussels.

"Kami sudah jelas tentang kondisi kami untuk setiap keterlibatan dengan pihak berwenang Afghanistan, termasuk dalam menghormati hak asasi manusia," kata von der Layen, dikutip dari AFP.

Taliban diketahui membutuhkan bantuan karena ekonomi Afghanistan berada kondisi buruk dengan harga pangan mengalami inflasi dan pengangguran melonjak di saat musim dingin semakin dekat.

Negara-negara Uni Eropa mewaspadai potensi gelombang pencari suaka Afghanistan yang mencoba memasuki kawasan mereka, seperti yang terjadi pada 2015 saat warga Suriah melarikan diri dari perang.

Brussels, ibu kota Uni Eropa, berhitung bahwa bantuan dana untuk membantu Afghanistan dan negara-negara di antara kedua kawasan dapat membendung aliran pencari suaka itu.

Hubungan Positif
Pembicaraan antara Uni Eropa dan Taliban itu diadakan secara langsung di Doha dengan difasilitasi oleh Qatar, negara yang telah lama menjadi tuan rumah kantor politik Taliban.

"Saya pikir yang paling penting saat ini adalah terlibat dengan mereka (Taliban)," kata Mutlaq al-Qahtani, utusan khusus menteri luar negeri Qatar, yang mengesampingkan pertanyaan soal pengakuan terhadap pemerintah Taliban.

"Prioritas seperti yang kita bicarakan sekarang adalah [situasi] kemanusiaan, pendidikan, pelintasan yang bebas" bagi orang-orang yang hendak pergi, lanjut dia, pada konferensi Forum Keamanan Global di Doha.

Juru bicara Uni Eropa Nabila Massrali mengatakan pertemuan itu akan "memungkinkan pihak AS dan Eropa untuk mengatasi sejumlah masalah" termasuk soal penghormatan hak-hak perempuan dan mencegah Afghanistan menjadi surga bagi kelompok "teroris".

"Ini adalah pertukaran informal di tingkat teknis. Ini bukan merupakan pengakuan terhadap 'pemerintah sementara'," klaimnya.

Martin Longden, penanggung jawab misi Inggris di Afghanistan, mengatakan negaranya "menekankan tindakan" pada sejumlah masalah.

"Saya menekankan dukungan Inggris untuk Afghanistan yang aman dan stabil dan tekad kami untuk melanjutkan bantuan kami kepada rakyat Afghanistan," kicaunya.

"Inggris memiliki keprihatinan yang signifikan tentang kontra-terorisme, kebebasan bergerak, dan hak asasi manusia - termasuk pendidikan anak perempuan - yang kami tekankan untuk diambil tindakan," lanjut dia.

Penjabat menteri luar negeri Taliban Amir Khan Muttaqi mengaku ingin menjalin hubungan internasional yang positif.

"Kami menginginkan hubungan positif dengan seluruh dunia," kata dia, pada acara sebelumnya di Qatar.

"Kami percaya hubungan yang seimbang seperti itu dapat menyelamatkan Afghanistan dari ketidakstabilan," kata Muttaqi, yang memimpin delegasi Taliban pada Sabtu untuk pembicaraan langsung pertama dengan para pejabat AS sejak penarikan Amerika dari Afghanistan.

Muttaqi juga menegaskan tidak ada diskriminasi terhadap komunitas Syiah dan mengklaim bahwa kelompok teroris Islamic State-Khorasan (IS-K) sedang dijinakkan.

"Persiapan apa pun yang mereka lakukan telah dinetralisir 98 persen," katanya tanpa memberikan rincian.

IS-K mengklaim pemboman sebuah masjid Syiah yang menewaskan lebih dari 60 orang pada hari Jumat, serangan paling mematikan sejak penarikan AS. (FHR)