Tantangan Quattrick dan The Ruling Party PKS di Depok

Masz Ton 2 31/12/2020 20:44 WIB
image
Foto: IST

Oleh: Masz Ton

Praktisi Media dan Komunikasi Politik

PASANGAN Idris-Imam memenangkan Pilkada Depok 2020. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Depok, Rabu (16/12/2020) menetapkan pasangan yang diusung PKS, Partai Demokrat, PPP, dan Partai Berkarya itu sebagai Walikota dan Wakil Walikota Depok terpilih periode 2021-2026. Idris-Imam mendapat 415.657 atau 55,54 persen suara. Sementata pasangan Pradi-Afifah memperoleh 332.689 atau 44,46 persen suara.

Kemenangan Idris-Iman melanjutkan tradisi kemenangan PKS di Kota Depok. Dalam tiga Pilkada sebelumnya (2005, 2010, 2015) PKS juga unggul. Dengan demikian sejak Depok menggelar Pilkada langsung, PKS selalu bisa memenangkan kontestasi.

Kemenangan pasangan Idris-Imam ini sekaligus melengkapi kemenangan PKS di Depok. Dalam Pemilu Legislatif 2019 lalu PKS juga menjadi juara dan memboyong kursi terbanyak parlemen daerah Depok, 12 kursi dengan perolehan 180.219 suara. Perolehan kursi PKS itu meningkat 100 persen dibanding Pemilu 2014, yang hanya mendapat enam kursi.

Quattrick (menang empat kali berturut-turut) dalam Pilkada dan menang di Pemilu Legislatif 2019 makin mengukuhkan dominasi PKS di Depok. Sebelum pencoblosan Pilkada 2020 lawan-lawan politik PKS menarasikan di bawah PKS Depok begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan yang signifikan. Mereka bilang PKS memang mendominasi di Depok tapi miskin prestasi. Karena itu muncul semangat untuk mengakhiri dominasi PKS di Depok.  

Partai-partai besar berkumpul jadi satu. Harapannya dengan dikeroyok para raksasa Liga Pemilu, PKS yang dianggap partai medioker akan runtuh. Namun kenyataan bicara lain. Sebagian besar publik Depok masih memberi kepercayaan kepada PKS untuk memimpin Depok.

Kepercayaan itulah yang menjadikan PKS mencetak quattrick dan menjadi the ruling party atau partai pengendali di Depok. Ini tentu sebuah kepercayaan, sebuah amanah yang harus dijaga. PKS harus kerja keras memberikan yang terbaik untuk warga Depok yang sudah memberi kepercayaan besar.

Lima tahun ke depan adalah ujian sekaligus pertaruhan bagi PKS. Sebagai the ruling party PKS harus mampu mengkonversi dominasi menjadi prestasi. Dalam lima tahun ke depan Depok harus jauh lebih baik dari sekarang. Dan untuk ini tidak bisa dilakukan dengan cara biasa-biasa saja. Tidak bisa business as usual.

Harus ada terobosan berani yang bisa menimbulkan efek Wah Depok…! dalam konteks yang positif. Pembangunan berjalan dengan baik dan warga merasakan manfaatnya. Aparat tampil sebagai pelayan bukan juragan yang minta dilayani. Aparat mengayomi semua golongan, baik yang kemarin memilih atau tidak. Tekan angka kemiskinan, pengangguran, dan transparan dalam penggunaan dana publik.

Kombinasi Idris-Imam merupakan kombinasi yang pas untuk mengubah dominasi menjadi prestasi. Untuk melakukan perubahan-perubahan yang signifikan di Depok. Idris yang lebih senior dan berlatar belakang kyai, bisa memimpin dengan kebijaksanaannya. Sementara Imam yang muda bisa memunculkan ide-ide segar, terobosan-terobosan berani guna mengembangkan Depok menjadi kota yang maju dan sejahtera sesuai dengan janji kampanye mereka.

Bagi Idris ini adalah periode ketiganya mengelola pemerintahan kota Depok. Periode 2010-2015 ia menjadi wakil Nurmahmudi Ismail. Periode 2015-2020 ia maju bersama Pradi dan menang. Dan sekarang 2020 ia bergadengan tangan dengan Imam kembali terpilih untuk periode 2021-2026.

Tiga periode atau 15 tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk memahami segala seluk beluk persoalan Depok. Karena selama periode itu ia, baik sebagai wakil maupun sebagai walikota makan dan tidur dengan persoalan-persoalan itu.

Selama periode itu juga ia terus memikirkan apa solusi terbaik terhadap segala persoalan di Depok. Jadi bagi Idris ini tentu bukan saatnya lagi belajar memahami dan mendalami permasalahan. Depok memerlukan seorang Idris, yang sudah khatam dengan problema Depok, untuk melakukan eksekusi menyelesaikan beragam persoalan itu.

Kehadiran seorang Imam jelas akan sangat membantu. Selain warga Depok, lulusan kampus Universitas Indonesia, Depok, Imam juga pernah dua periode menjadi anggota DPRD Kota Depok (1999-2004 dan 2004-2009) sebelum menjadi anggota DPRD Jawa Barat (2009-2014, 2018-2019, dan 2019-2020). Jadi seperti halnya Idris, Imam juga memahami persoalan Depok. Karena itu duet keduanya adalah duet maut untuk mencetak gol kemenangan, mencetak prestasi bagi Depok.

Kuncinya duet Idris-Imam harus kompak. Saling berbagi peran. Saling back up. Tidak jalan sendiri-sendiri. Idris memerlukan Imam untuk melakukan terobosan-terobosan genial dalam pelaksanaan pembangunan. Begitu juga sebaliknya, Imam memerlukan Idris untuk mendukung dan memberi kesempatan kepadanya mengembangkan kemampuannya.

Keberhasilan keduanya mengkonversi quattrick menjadi prestasi niscaya akan melanggengkan dominasi PKS di Depok. Dan keberhasilan di Depok bukan tidak mungkin akan mengimbas ke daerah lain. Depok akan jadi percontohan bahwa jika menjadi the ruling party, PKS bisa berbuat lebih baik untuk kemajuan masyarakat banyak.

Tetapi sebaliknya, jika sudah diberi amanah empat kali berturut-turut tidak juga berhasil memajukan dan mensejahterakan warga Depok, jangan harap PKS bisa melanggengkan dominasinya. Empat kali lebih dari cukup warga Depok memberi kesempatan dan kepercayaan kepada PKS. Jika 20 tahun memimpin tidak juga ada perubahan signifikan di Depok, tentu tidak salah jika warga Depok pindah ke lain hati.

Inilah tantangan yang harus dijawab Idris-Imam. Bisakan keduanya, yang disokong the ruling party, yang mencetak quattrick di pilkada Depok memberikan kemajuan dan kesejahteraan bagi warga Depok.

Ini juga sekaligus ujian bagi PKS. Keberhasilan Idris-Imam akan menjadi keberhasilan PKS, sebaliknya kegagalan keduanya juga kegagalan PKS. Untuk itu PKS tidak bisa tinggal diam. PKS juga harus membantu keduanya dengan sumber daya terbaik agar mereka bisa mengkonversi dominasi menjadi prestasi.