Tragedi Genosida Pertama di Abad 20, Jerman Akui Pembantaian di Namibia

Tajuk.co 29/5/2021 13:46 WIB
image

Tajuk.co, BERLIN -- Jerman untuk pertama kalinya mengakui telah melakukan genosida di Namibia selama pendudukan kolonial, dan menjanjikan bantuan keuangan.
Pemerintah Jerman berjanji menggelontorkan dana senilai €1,1 miliar atau sekitar Rp19 triliun untuk membantu proyek-proyek di negara Afrika itu.

Di era 1904-1908, pemukim kolonial Jerman membunuh puluhan ribu orang Herero dan Nama. Para sejarawan menyebut tragedi itu sebagai genosida pertama di abad ke-20.

Insiden itu juga telah merusak hubungan Namibia dengan Jerman selama bertahun-tahun.

"Kami sekarang secara resmi akan menyebut peristiwa-peristiwa ini sebagaimana adanya dari perspektif hari ini: genosida," kata Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, mengutip AFP, Jumat (28/5).

Dia memuji kesepakatan itu setelah lebih dari lima tahun bernegosiasi dengan Namibia mengenai genosida itu. Jerman diketahui menguasai Namibia dari tahun 1884 hingga 1915.

"Mengingat tanggung jawab historis dan moral Jerman, kami akan meminta pengampunan dari Namibia dan keturunan para korban (atas) kekejaman (yang dilakukan)," kata Maas.

Sebagai bentuk pengakuan atas derita yang menimpa para korban, lanjut Maas, Jerman akan mendukung rekonstruksi dan pembangunan melalui program keuangan.

Menurut salah satu sumber, bantuan tersebut akan dibayarkan selama 30 tahun, terutama untuk keturunan Herero dan Nama.

Namun, pembayaran itu tak membuka jalan untuk kompensasi permintaan hukum.

Namibia berada di tangan Berlin pada 1884-1915. Setelahnya, negara itu jatuh di bawah kekuasaan Afrika Selatan selama 75 tahun, sebelum akhirnya memperoleh kemerdekaan pada tahun 1990.

Ketegangan memuncak pada tahun 1904, saat Herero yang telah kehilangan tanah bangkit melawan. Tak lama kemudian, Nama menyusul memberontak pada pemerintahan kolonial. Sayangnya perlawanan itu ditumpas oleh pasukan Jerman.

Dalam pertempuran Waterbag pada Agustus 1904, 80 ribu orang Herero melarikan diri dan terus dikejar pasukan Jerman hingga Gurun Kalahari.

Dari jumlah itu hanya 15 ribu yang selamat.

Komandan militer Jerman, Lothar von Trotha sengaja dikirim untuk meredam pemberontakan yang terjadi di Namibia. Ia memerintah untuk memusnahkan rakyat.

Setidaknya 60 ribu warga Herero dan 10 ribu Nama terbunuh antara tahun 1904 dan 1908.

Namun, Agustus tahun lalu, Namibia mengatakan reparasi yang ditawarkan Jerman tak dapat diterima. Tak ada rincian penawaran yang diberikan pada saat itu.

Presiden Namibia, Hage Geingob mencatat Jerman menolak istilah "reparasi." Sebab, kata itu dihindari selama negosiasi negara dengan Israel usai Holocaust.

Dalam upaya meredakan rekonsiliasi, pada 2018 Jerman mengembalikan tulang-tulang anggota suku Herero dan Nama.

Menteri luar negeri Jerman saat itu, Michelle Muentefering meminta maaf atas peristiwa tersebut terhadap Namibia. (FHR)