Tren Pangan Sehat Menjadi Panduan Teknologi Pangan Olahan

Tajuk.co 28/7/2020 21:26 WIB
image
Teknologi pangan harus mengikuti tren pola makan kekinian agar disukai pasar (foto: Tajuk.co)

Tajuk.co, BOGOR – Sekretaris Balitbangtan, Haris Syahbuddin mengatakan, pangan sehat, lezat dan berserat, harus menjadi panduan dalam perakitan teknologi olahan pangan ke depan, agar generasi mendatang tetap terjaga imunitas tubuhnya dengan asupan gizi yang seimbang dari produk olahan pangan yang dikonsumsinya. Bahan baku produk olahan pangan yang diperoleh dari hasil panen proses budidaya agar bisa diterima kalangan industri haruslah terjaga kontinyuitas, kualitas, dan kapasitasnya.

“Kalau kontinyuitas dan kualitas sudah terjamin, maka kalangan industri tidak ragu lagi akan meningkatkan kapasitas produksi bersumber bahan baku tersebut,” katanya dalam Webinar bertema “Menu Sehat Menunjang Kesehatan Masyarakat Menuju Era Industri Pangan” yang dibacakan Sekretaris Balitbangtan Haris Syahbuddin, di Bogor, Selasa (28/7/2020).

Menurut Haris, produk pangan olahan sangat dibutuhkan dunia. Terlebih di masa pandemi Covid-19  ini karena sejumlah produk pangan olahan dipercaya dapat meningkatkan imunitas dan stamina kesehatan.

Laporan Kementerian Perdagangan mengungkapkan, ekspor produk pangan olahan meningkat di masa pandemi Covid-19. Sepanjang Januari hingga April 2020, ekspor pangan olahan mencapai US$ 1,32 miliar atau meningkat 7,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Akhir tahun lalu, dalam rangkaian acara Healthy Street Food Festival, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan perlunya pemikiran dan kerja keras semua pihak dalam menerapkan pola pangan sehat di masyarakat. Mentan juga mengajak masyarakat, termasuk generasi milenial, untuk mengubah perilaku konsumsi menjadi lebih bijak, lebih sehat dan tidak membuang makanan.

Mentan juga meminta Badan Litbang Pertanian meingkatkan peran strategisnya, melalui teknologi perakitan varietas yang dikehendaki kalangan industri. Juga teknologi budidaya yang efisien, hasil panen optimal termasuk prosesnya, hingga teknologi pascapanen dan pengolahan produk pangan siap saji bahkan siap santap.

“Itu semua diperlukan guna memenuhi selera dan preferensi konsumen dan permintaan pasar,” tegas Mentan.

pangan_olahan 

Natural Food

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan saat ini banyak negara maju yang mengembangkan natural food atau pangan alami. Indonesia memiliki banyak sekali tanaman pangan yang bisa dihasilkan untuk natural food dan bernilai tambah.

“Di dunia industri dan masyarakat, nilai tambah menjadi penting karena ada story, penanganan secara teknologi dan branding sehingga kadang dari tanaman yang murah bisa dijual mahal dengan nilai tambah yang baik misalnya jamu-jamuan,” terangnya.

Menurut Adhi, sekarang orang lebih mementingkan food safety dan instagramable, serta health benefit yang jelas. Rekomendasi health benefit ini harus terus dikembangkan.

Di Indonesia sudah banyak produk pangan olahan yang diproduksi untuk menjaga kesehatan secara natural. “Ini menjadi peluang bagi Indonesia bagaimana mengembangkan tanaman-tanaman pangan yang bisa dikembangkan untuk kebutuhan industri pangan,” terangnya. (KSL)