Wartawan Se-Gorontalo Boikot Pemberitaan Polda

Tajuk.co 16/10/2020 14:18 WIB
image
Wartawan Gorontalo saat melakukan aksi protes di depan Kantor Polda Gorontalo terkait kebebasan pers. Foto: mmu/tajuk.co

Tajuk.co, JAKARTA- Puluhan wartawan se-Provinsi Gorontalo tidak akan lagi memuat berita dari Polda Gorontalo. Sikap tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan wartawan karena Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Akhmad Wiyagus enggan menemui mereka saat melakukan aksi damai di depan Mapolda Gorontalo guna memprotes penganiayaan jurnalis yang dilakukan polisi.

“Mulai hari ini, kami akan memboikot pemberitaan dari Polda Gorontalo, karena Kapolda dan Wakapolda enggan menemui kita kawan-kawan yang ingin minta pertanggungjawaba,” kata Koordintor Lapangan Aksi Boikot, Helmi Rasid dalam rilis pers yang diterima Tajuk.co, Jumat (16/10/2020).

Aksi damai wartawan ini terjadi sebagai bentuk protes kepada Polda Gorontalo akibat adanya dugaan intimidasi dan pembungkaman kerja kerja jurnalistik pada liputan demo penolakan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja di Gorontalo. Namun ketika wartawan meminta pertanggungjawaban, Kapolda malah diam saja.

“Kalau ada relis kita diundang, tapi saat meliput demo kita diintimidasi. Ini ada apa,” tegas salah satu orator aksi, Yudistira Saleh.

Massa aksi juga menyuarakan tentang kekecewaan terhadap salah satu petinggi Polda yang selalu menggeluarkan tuduhan hoaks kepada pemberitaan wartawan Gorontalo, sehingga menurunkan kredibiltas insan pers.

“Kami telepon tidak diangkat, di-WA tak dibalas. Setelah berita naik dibilang hoaks. Ada apa ini,” ujar Helmi.

Dalam aksi itu, ada 6 tuntutan yang dibawa Aliansi Wartawan-Jurnalis Gorontalo. Yaitu, mengecam tindakan intimidasi yang dilakukan aparat kepolisian kepada para jurnalis yang sedang meliput aksi penolakan Undang-Undang Cipta Kerja.

Wartawan juga meminta kepada kepolisian polda gorontalo untuk belajar lagi tentang undang-undang pers, serta mengutuk keras perampasan fasilitas peliputan milik wartawan saat aksi penolakan undang-undang cipta kerja.

Kemudian, insan pers yang turun aksi juga meminta Kapolda Gorontalo menindak tegas aparat kepolisian yang melakukan kekerasan, intimidasi dan perampasan alat peliputan wartawan. Memboikot liputan di Polda Gorontalo jika tuntutan kami tidak dipenuhi.

Selain itu, meminta kepolisian dan pihak-pihak yang keberatan dengan kerja jurnalistik untuk menempuh mekanisme dewan pers sehingga tidak seenaknya mengatakan hoaks terhadap produk jurnalistik.

Dalam aksi itu, massa mengambil start dari Bundaran Saronde Kota Gorontalo, kemudian menuju Polda Gorontalo menggunakan kendaraan masing-masing. Setibanya di Polda Gorontalo, seluruh wartawan-jurnalis meletakkan ID Card mereka di depan pintu gerbang dan menaburkan bunga.

“Taburan bunga ini sebagai bentuk bahwa kebebasan pers kami telah mati,” tandas Helmi.

Sebagai bentuk kekecawaan itu, massa aksi dari wartawan se-Gorontalo itu juga meminta kepada Kapolda Gorontalo untuk mengganti Kabid Humas Polda Gorontalo.(MMU)